Alam semestapun tersenyum menatap segenap yang bernama keindahan itu. Awan-awan menari-nari dengan indah karena Tuhan telah membawanya di langit semesta. Matahari terbit dan senja pun akan datang. Hingga malam tiba memberikan kegelapan dan pada saat itu datanglah secercah harapan yang telah tenggelam bersama kegelapan, kesunyian, nyanyian, teriakan yang lama terpendam.

"Saat itu dia hadir membawa setitik cahaya diantara jembatan kehampaan”

Rasa senang dan bahagia menjadi satu dalam sebuah pertanyaan. Ini bagaikan kenyataan yang menjadi mimpi. Perkenalan itu sendiri seperti menantikan hujan di antara musim kemarau, hati yang gersang merindukan datang nya air yang jatuh dari langit. Entah kenapa perasaan hati ini terbawa kedalam jejak air yang jatuh dari langit. Mengalir ke suatu tujuan yang aku sendiri tidak pernah memahami dan tidak ingin tahu ataupun peduli kemana aliran air ini mengalir, yang aku tahu air akan mengalir menuju suatu tujuan.

"Semesta yang tak berujung yang masih penuh dengan misteri”

Sekilas berlalu kita dipertemukan semesta, Dia itu satu dari beribu-ribu partikel yang ada di alam semesta. Pertanyaan demi pertanyaan selalu muncul menghantam hati dan logika dengan kencang. Dia punya sejuta misteri dan pesona yang tersimpan, dia bagaikan jembatan di antara jurang kebimbangan.

Advertisement

Daun-daun bergoyang lembut di tepi dahan dalam ketentraman. Langit pun menyanyikan kidungnya dari kedalaman hati yang penuh misteri dan kebimbangan. Angin pun berhembus dengan kekhidmatan karena Tuhan telah mengetahui dan membuat ketetapan nya, di sungai yang mengalir di pundak bukit dan dasar lembah. Hati milikku pun tak henti-henti memuji di hamparan langit atas karunia rahmatNya.

Akupun bersujud.. mengharapkan bahwa suatu ketika kelak aku dan dia hidup dalam jiwa yang tentram di puncak kerinduan untuk menatap wajahNya. Menjalani waktu bersama, bergembira mensyukuri alam semesta berupa istana kenyamanan hati yang megah di bentangan langit. Maka akupun bersujud memuji yang Maha segalanya.

"Dia anugerah dari semesta”