Aku membiarkan badanku membeku kedinginan sambil menunggu matahari terbenam. Semburat jingga yang perlahan mewarnai aura air laut yang biru membuat lukisan alam yang luar biasa indah. Tapi aku tidak pernah lagi merasakan apa itu keindahan, semua terasa tak berarti sejak aku tidak lagi bersamanya. Katanya memori sedih itu akan hilang dengan sendirinya seiring waktu, aku hanya bisa bertanya, "Kapan? Kapan memoriku tentangnya akan hilang?"

Enam tahun sudah aku ke pantai ini setiap senja, terdiam lama memandangi tepian pantai terkikis arus air laut sedikit demi sedikit. Tak sedikitpun ingatanku tentangnya berkurang. Aku masih mengingat jelas bayanganku tentang langkah kaki lincahnya yang berjalan terseret saat membenamkan kakinya ke dalam pasir, tawa renyahnya saat angin meniup gaun merah muda kesayangannya. Aku memegang tangannya erat dan menari bersama lalu membuat tulisan diatas pasir, 'I love you'.

Dan saat kita berjalan berdua, aku bisa melihat jejak kaki kita berdua melintasi pasir putih yang lembut. Aku ingin memeluknya erat, mencium rambut halusnya dan berjanji akan selalu ada untuknya. Janji itu aku tepati, aku akan selalu ada untuknya, bila saja aku diberi sekali lagi kesempatan. Aku mohon….

Air mataku jatuh, seperti kemarin, kemarin lusa dan senja-senja lainnya. Saat hari berganti malam adalah saat-saat terberat bagiku. Saat aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa hari ini akan berganti tanpa aku melihat senyumnya lagi.

Beribu kata maaf yang aku ucapkan tetap membuatnya tak bergeming. Jangankan untuk menjawab ucapan maafku, sedetikpun aku tidak bisa melihatnya. Aku akui bahwa aku hidup di masa lalu, hidup dalam bayangan semuku, kebahagiaan palsu yang aku dambakan. Persahabatan dengan masa depan hanya menjadi impian. Waktuku terasa berhenti disini.

Advertisement

Aku terlalu sayang padanya. Selama 8 bulan bersama, terlalu banyak impian yang aku bagi dengannya. Setiap hari dia mendengarkanku bercerita, berdoa tentang harapan masa depan yang akan aku jalani bersamanya. Rumah impian yang aku bangun dengan susah payah akan hangat dengan tawanya. Rumah dengan pekarangan luas, akan kutanami bunga Chrysant yang indah, bunga berwarna cantik ceria tapi bisa menyembuhkan, seperti dirinya.

You can't loose what you never had… Itu kata mereka. Seandainya semudah itu meyakinkan diri untuk tidak merasa kehilangan. Kehilanganku yang terbesar justru karena aku tidak pernah memilikinya. Dia tidak pernah bisa melihat aku berjuang sekuat tenaga untuk membahagiakannya.

Malaikat kecilku, mukjijat kecil yang kata mereka tak mungkin bisa aku miliki, aku memang tidak lagi memilikimu, tapi aku pernah merasakanmu ada, membuatku kaget dengan tendangan kecilmu, membuatku geli satu kamu menggeliat halus. Kamu pernah memberikan kebahagiaan nyata yang tiada tara saat pertama kali aku mendengar detak jantung kencangmu. Kamu pernah membuktikan keajaiban itu ada. Maafkan aku untuk tidak cukup kuat membawamu melihat dunia dan menjalani mimpi-mimpi yang aku janjikan.