Setelah segurat sendu yang sering kutuliskan, kali ini aku ingin berbicara tentang hal-hal yang membahagiakan saja. Seperti awal pertemuan kita misalnya. Dimana seorang pria dengan senyum khas dari masa lalu dengan fasihnya menyebut nama kemudian menjabat tanganku. Yang menjadi awal dari segala nostalgia yang membawa kita pada suatu hubungan yang aneh.

Perlu waktu bagiku untuk akhirnya bisa memahami semua ini tentang seperti apa dia bagiku. Dia bagaikan sebuah part didalam film kesukaanku, yang tidak pernah jenuh untuk kuulang dan kutonton puluhan kali. Seperti sebuah lagu dengan lirik easy listening yang tidak pernah berhenti kusenandungkan. Juga seperti sebuah buku fiksi dengan daya khayal tinggi yang tidak pernah bosan kubaca. Lagi… Dan lagi…

Dia… menyenangkan.

Dengannya semua terlihat begitu mudah. Awal yang menakutkan sekaligus menjemukan yang membuatku enggan memulai hubungan yang baru pun tak kurasakan ketika bersamanya. Sungguh menyenangkan rasanya tak perlu memperkenalkan diri atau bersusah payah menceritakan siapa aku. Apa saja hal-hal yang menjadi kesukaan dan apa saja yang tak kusuka, serta kebiasaan-kebiasaan anehku. Aku tidak perlu terlihat sempurna di depannya. Aku hanya perlu menjadi diriku saja, apa adanya. Tak heran mengapa aku merasa telah mengenalnya bertahun-tahun. Padahal tidak. Diberbilang waktu singkat kebersamaan kami, dia tidak pernah berhenti membuatku takjub. Selalu ada saja yang membuatku terperangah dan kehabisan kata. Entah apa mungkin karena aku yang polos dan terlalu ekspresif atau karena dia yang memang penuh keajaiban.

Dia seperti doraemon yang diciptakan dengan misi membahagiakan Nobita. Setia. Begitulah dia dengan semua keinginannya untuk membahagiakanku. Walau kadang dia terlihat mengesalkan saat suatu waktu dia tidak bisa mewujudkan keinginannya itu. “Harusnya tidak seperti itu. Harusnya kita saling membahagiakan. Harusnya aku membahagiakanmu” ucapnya. Dia mungkin lupa bahwa dia tidak akan selalu membahagiakan, bahwa pasti ada saja sedih yang akan hadir entah karena apa alasannya. Dia terlalu perfeksionis untuk hal ini.

Advertisement

Bersamanya membuatku lupa akan kepedihanku dimasa lalu. Dia membuatku belajar untuk kembali membuka hati dan percaya. Percaya bahwa duniaku belum berakhir. Bahwa aku tidak perlu berusaha sekuat itu untuk menutup diri dan berjuang sendiri meraih kebahagiaan. Dia membuatku kembali belajar untuk berbagi segala hal, termasuk kesedihanku sekalipun.

Perlahan dia merubah pola pikirku tentang bagaimana mudahnya untuk berbahagia. Dia sering memberiku saran yang kerap membuatku tertawa, seperti "bacalah buku yang lucu-lucu atau berhentilah mendengar lagu galau. Juga, berhentilah memikirkan hal yang bisa memancing emosimu sendiri". Atau bahkan yang paling ekstrim seperti "pakailah baju yang normal, baju manusia". Dia terlihat seperti kumpulan buku pepatah dan kata mutiara. Mungkin selain ingin membuatku bahagia, dia ingin membenahi hidupku juga. Tak pelak hal ini sering membuatku menggelengkan kepala dan tersenyum saat dia mulai melakukannya. Dia sangat lucu dengan semua caranya..

Dia bisa dengan mudahnya membuatku tertawa. Dan seringkali menguatkanku.

Setelah semua ini, aku masih bingung menyebutnya apa. Apakah aku sudah terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta? Tetapi aku takut terlalu cepat mengatakan ini cinta, maka dari itu aku ingin menyebutnya kebahagiaan saja. Kebahagiaan yang menyenangkan dan menenangkan. Yang seharusnya selalu kusyukuri atasnya, karena dialah yang kutemui setelah kedukaanku yang luar biasa. Walaupun lagi-lagi aku takut terlampau bahagia. Aku takut ketika sewaktu-waktu kebahagiaan itu pergi dan aku harus lagi-lagi merasakan pedihnya perpisahan. Karena menjatuhkan hati padanya adalah hal yang kulakukan dengan sangat hati-hati dan membutuhkan pemikiran yang sangat panjang. Tapi siapakah yang tahu tentang takdir?

Sungguh aku tak berani berbicara mengenai takdir. Karena satu kedip mata dan tarikan napas adalah rahasia yang tidak bisa tertebak. Sakral. Tidak pernah ingin kucoba menerka-nerka akan menjadi seperti apa dan bagaimana kelak. Yang bisa kulakukan hanyalah berharap akan datang suatu pagi dimana kita terbangun disebuah tempat tidur yang sama saling memandang dan tersenyum. Hingga kemudian kembali bercerita mengenai apa saja yang telah kita lalui sampai terlelap tidur pada penghujung harinya.

Harap yang kita terbangkan tinggi-tinggi melalui tali-tali doa yang membawanya hingga menyentuh langit. Dan hati yang kian yakin dengan pilihan yang dipilih, hingga kelak ketika kita temui masa dimana terlalu banyak tanda seru bermunculan dan tidak ada lagi tawa yang bisa dihadirkan sebanyak awal pertemuan kita, tidak pernah sedikitpun terlintas keinginan untuk saling melepaskan dan pergi.

Namun pabila akhirnya hal itu tak terelakkan, maka yang harus kita lakukan adalah coba memejam dan kembali mengingat awal semuanya. Bagaimana telah tersusun rapi dan manisnya rencana Tuhan untuk kembali mempertemukan kita. Hingga tak ada alasan bagi kita untuk menjadi dua orang bodoh setelah pencarian panjang melelahkan serta penantian yang telah dilalui dengan tidak terus saling memperjuangkan tanpa mengenal lelah dan sudah.

Seperti itulah kiranya yang kusebut sebagai kebahagiaan. Dia. Sederhana bukan?