Hai kamu, Apa kabar? Aku harap kabarmu selalu baik ya. Kabarku selalu baik, walau kabarku mungkin tak penting lagi untukmu. Ingatkah kamu saat kita masih bersama dulu, saat kita merajut mimpi membangun keluarga kecil bersama. Saat kamu meminta ijinku untuk mengontrak rumah setelah kita menikah nanti dan kamu mengajakku menabung untuk membeli motor impianmu. Dan aku pun selalu mengiyakan impian-impianmu itu. Hampir tiga tahun kita merajut mimpi bersama kala itu. Dan kamulah sumber kebahagiaanku nomer satu, dulu.

Aku dengar dari teman baikku sekarang sudah ada wanita yang rela menggantikan posisiku dihatimu. Oh, jadi ini alasanmu menghapusku dari pertemanan sosial media kita. Apa kamu tak ingat sosial medialah yang mempertemukan kita waktu itu, ah sudahlah, itu dulu.

Jadi wanita ini yang menggeser posisiku. Aku selalu berharap dia setulus aku dulu saat mencintaimu. Dulu saat aku meminta mengakhiri hubungan kita, aku selalu berdoa untukmu.

“Semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, dan mencintaimu dengan tulus.”

Mungkin semesta telah mengaamiini doaku. Sungguh dulu aku iklhas meminta doa untuk kebahagiaanmu.Tidak berhenti di situ doaku untukmu, aku juga berdoa untukmu dan wanitamu.

Advertisement

“Semoga kamu dan wanitamu selalu bahagia, dan dijauhkan dari drama.”

Ya, aku ingin kamu mebahagiaakan dia seperti kamu membahagiakanku dulu, iya dulu. Dan aku nggak mau kamu mengalami drama-drama seperti cerita kita dulu. Entah aku yang takut kehilanganmu atau aku yang terlalu cemburu sampai mebuat drama-drama seperti itu dulu.

Entahlah, hatiku terbuat dari apa sampai aku rela mendoakan kebahagiaanmu dengan wanitamu. Tapi yakinlah, doa-doakuku ini selalu tulus untukmu.

Kamu yang kini bahagia bersama wanitamu, aku hanya ingin mengatakan satu hal untukmu. Aku sudah mengiklhaskanmu dengan wanitamu, jangan hiraukan aku lagi. Bahagiakan dia!

Dariku yang pernah merajut mimpi bersamamu.