Sore itu terik. Bergegas aku sedikit berlari dari parkiran ruko menuju pintu gerbang untuk menghentikan bis kota yang muncul perlahan di sudut jalan. Hap.. langkahku menaiki bis dalam satu hitungan. “Hey.. Iya..sampai besok!” Aku sambil berteriak dengan Nia yang tadi bersamaan di pinggir gerbang mengendarai motornya. Aku duduk di bangku paling depan dan merasa cukup nyaman karena AC bis juga berfungsi baik.

Jlebbb, pintu bis tertutup rapat. Sepi.. Penumpang bis belum banyak. Setiap beberapa menit bis yang aku tumpangi berhenti menambah jumlah penumpang. Tanpa terasa, menjelang lintasan fly over bis sudah penuh penumpang. Mereka pasrah berdiri sambil memeriksa sesekali bangku yang mungkin kosong ketika ada penumpang yang turun. Aku memilih duduk di dekat jendela supaya tidak terdorong oleh penumpang lain yang berdesak-desakan berdiri di antara bangku. Saat sedang lelah-lelahnya aku bisa tertidur dan suara kondektur yang membangunkan untuk memungut ongkos.

Empat tahun yang lalu aku bekerja di bidang yang saat ini sedang jadi incaran perempuan seusiaku. Aku seorang fashion designer. Aku mengerjakan konsep-konsep pakaian sampai teknik detail pembuatan pada pakaian. Aku gambar beberapa look atau style dengan benang merahnya. Kemudian dikembangkan lagi menjadi suatu koleksi pakaian yang terdiri dari 12 sampai 30 style. Lalu memilih materialnya, dibuat kolasenya dan dipresentasikan dihadapan tim marketing untuk brainstorming. Berikutnya mencari materialnya untuk sampling. Tahapan sampling yang juga dikerjakan melibatkan tim. Konsultasi ke pattern department, sewing, stylist dan juga marketing.

Empat tahun yang lalu juga, aku lulus dari pendidikan formal S1. Pendidikan S1 bukan di bidang fashion. Aku sudah kursus menjahit sejak SMP sepulang sekolah. Sebelum aku mendapatkan gelar S1, aku sudah menyelesaikan kelas fashion design di institusi fashion Jakarta. Saat wisuda aku ditemani adikku. She’s the little me and follow everything what I do. My parents couldn’t come in my graduation. Mamaku sedang sakit dan papa yang menemani mama saat itu. Bagiku semua ini adalah pencapaian tertinggi yang aku persembahkan untuk mama. Dialah dibalik semua pencapaianku. Aku belum pernah pacaran, aku boleh bekerja saat aku sudah lulus dari pendidikan dan aku mandiri untuk mengurus keperluanku.

“Hah, loh. Kamu belum pernah pacaran dan ini pekerjaan pertama kamu?”, Bu Sarah menanyaiku seakan aku jauh sekali darinya. Suaranya terpekik dan sambil menoleh menghadapkan badannya ke arahku. Padahal aku duduk di sebelahnya kami ngobrol untuk menunggu meeting regional tenant yang masih satu jam lagi dimulai. Bu Sarah melanjutkan kalimatnya, “Begini Meyfa, kalau aku ngingetin kamu, jangan sampai kamu sibuk mengejar karir dan lupa untuk menikah. Soalnya, aku ada sedikit penyesalan karena aku menikah setelah usia 30 tahun, aku sibuk sama karir. Alasannya karena aku ingin membahagiakan orang tua dulu. Sampai akhirnya aku berkeluarga barulah menyadari betapa lucu-lucu anak yang dititipkan oleh Tuhan. Berbagi kebahagiaan yang juga bisa orang tuaku rasakan”. Aku mendengarkan Bu Sarah. Kemudian Bu Sarah melontarkan pertanyaan, “Sekarang usia kamu berapa?” “26 Tahun Bu”, sahutku. “Nah, coba kamu jangan sibuk kerja aja yaa.. Walaupun waktu kerja kita monday to saturday”. Aku mengiyakan.

Advertisement

Obrolan dengan Bu Sarah masih terlintas dipikiranku disela-sela pemotretan menjelang Ramadhan. Sebenarnya memang usiaku 26 tahun dan ini pekerjaan pertamaku. Tapi, aku belum terpikirkan untuk menikah karena memang belum terpikirkan. Hehe.. Aku mendapatkan pekerjaan pertamaku ini dari tawaran owner perusahaan yang menyaksikan perlombaan fashion design yang aku ikuti. Aku salah satu dari finalis perlombaan yang aku ikuti beberapa bulan sebelum aku mengajukan judul skipsi. Kemudian tawaran itu datang ketika aku masih kuliah. Aku baru menerima dan memberikan jawaban setelah 3 bulan mama meninggal dunia. Saat itu aku ingin membuka lembar baru. Menjalani sebuah pekerjaan dan berkarir.

“Pak tujuan kita ke Gandaria Mall ya Pak. Lewat Pondok Indah aja”. Aku memberi arahan kepada pak supir taksi yang sudah menunggu sehabis subuh di depan rumah. Pagi-pagi aku sudah harus sampai di tujuan untuk menyiapkan briefing dengan tim dan mengarahkan model yang akan fashion show hari itu. Pak supirnya menyahut, “Baik Bu”. Di sepanjang perjalanan pak supir taxi banyak bercerita dan membagi pengalamannya. Sebetulnya cukup dengan menyalakan radio, mendengarkan berita pagi dan diselingi musik aku sudah merasa cukup. Tapi, ternyata aku juga tertarik dengan perbincangan dengan pak supir. Kemudian pak supir juga menanyakan apakah sudah berkeluarga atau belum? Aku menjawab, ”Belum Pak”. Lalu saran dari pak supir juga mengalir terucap dengan indahnya. “Sebaiknya Ibu pikirkan untuk menikah dan berkeluarga. Cobalah untuk menjalin perkenalan untuk hubungan yang serius. Sebetulnya, kita bekerja untuk siapa kalau bukan untuk membahagiakan keluarga”.

“Drett..drettt..drett”, suara HPku dalam mode getar pertanda ada yang menelpon. Aku segera menjawab telpon setelah aku menyadari ternyata sudah ada beberapa missed call dari no telpon yang sama. “Hei, Kak. Apa kabarnya? Gimana udah baikkan?”, suara rekan kerja dari telpon menanyakan keadaanku. Aku menjawab lemah, "Udah lumayan kok”. Aku sakit dikarenakan tekanan darahku turun, pusing rasanya. Sudah 3 hari aku di rumah. Aku tertidur seharian setelah minum obat yang diberikan oleh dokter.

Sejak bekerja, aku baru mengalami gejala tensi rendah. Ini sudah ketiga kalinya dalam setahun aku ke dokter mengeluh sakit karena kelelahan. Kemarin saat di ruang periksa dokternya menanyakan untuk dibuatkan surat izin sakit atau tidak. Tampak sang dokter seusia papa. Tapi, rambutnya sudah memutih. Aku mengiyakan, lalu dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan. “Usianya?” “27 Tahun”, sahutku. “Pekerjaan?” Lalu kujawab, “Pegawai swasta”. “Sudah berkeluarga?” “Belum, Dok”. Pertanyaan dokter masih berlanjut, “Sudah punya calon?”. Waduh pertanyaannya seperti menelisik, ”Belum ada Dok”. Aku jadi memperhatikan dokter yang masih menunduk membuat tulisan-tulisan di lembaran form. Sambil membuat catatannya, dokter yang menunduk dengan raut yang serius berpesan, ”Segera cari calon pasangan dan menikahlah. Pertimbangkan usia kamu. Proses untuk berkenalan juga membutuhkan waktu”.

Beberapa bulan setelah pertimbangan panjang aku memutuskan untuk resign. Aku tinggalkan pekerjaan yang aku geluti. Pertimbanganku adalah keluarga. Aku memikirkan papa yang tinggal sendiri di rumah. Walaupun aku banyak menerima saran untuk kos dekat kantor atau bertahan lebih lama untuk mencapai beberapa prestasi pekerjaan aku menetapkan untuk selesai. Akhirnya keputusan itu kuambil. Aku di rumah membangun brand sendiri. Tapi, tidak bertahan lama. Aku kesepian… Aku kembali bekerja sebagai fashion designer dan rutinitas yang sama sebagai fashion designer dengan tantangan berbeda.

Setiap hari terasa berbeda aku merasa seperti tidak sedang bekerja. Ada ilmu baru dan pencapaian untuk diri sendiri. Berkembang. Jarak kantor relatif lebih dekat dan aku menyelami kantor yang sekarang adalah startup yang berkumpulnya jiwa-jiwa muda. They are fresh graduate and so dynamic. Setiap hari selalu ada keceriaan dan inovasi untuk berkembang. Owner juga seusia dengan kakakku, meskipun mereka sudah berkeluarga tetapi tetap dengan gaya anak muda. Seketika di siang yang hectic, aku sibuk chat untuk vendor dan menjawab email-email dari tenant. Tiba-tiba ada seseorang yang muncul di chat social media terkenal. Yup chat dari teman lama. Tepatnya teman sejak TK dan kami berteman di socmed. Just say hi and ask the latest job. That's all.

Seperti alam yang memang sedang bekerja. Papa seperti menanyakan untuk kriteria atau ingin memperkenalkan seseorang kepadaku. Anak teman papa juga sedang mencari calon pasangan. Lalu kami diperkenalkan. Perkenalan tidak berlanjut. Masing-masing dari kami tidak merasa saling tertarik. Tak lama, papa juga memperkenalkan kenalannya seorang bapak-bapak yang sudah sering dimintai sebagai pihak ketiga dalam proses ta’aruf. Beliau menjadi pihak ketiga yang dimintai untuk mencarikan dan mencocokkan kedua keluarga. Aku juga menjalani ta’aruf. Prosesnya berjalan normal, tapi perkenalan tidak berlanjut. Bersamaan juga teman di kantor yang lama memperkenalkan sahabat suaminya kepadaku. Kami menjalani perkenalan dan aku juga terbuka, jika ingin berkenalan dengan papa aku persilahkan. Tapi, temanku menyampaikan bahwa pria tersebut segan bahwa aku mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi darinya. Jadi perkenalan ini juga tidak berlanjut.

Saat itu happening tentang biro jodoh online. Ada berbagai produk biro jodoh online sejenis yang akhirnya memberikan jalan untuk berkenalan dengan beberapa orang pria. “No..no..no..”, aku seperti memilih baju di toko. Baca profile, tertarik untuk tahu lebih banyak, memulai chat, bertukar kontak, saling menanyakan kabar. That's it. Ada juga yang mengajak untuk berkenalan langsung, itupun setelah percakapan yang berkelanjutan. Tapi, aku juga mempertimbangkan satu persatu dan menjalani dengan seksama. Ya atau tidak pada akhirnya aku harus membuat keputusan sebelum aku memulai lagi perkenalan dengan pria yang lainnya. Aku menegaskan bahwa kita berkenalan dan tidak berkomitmen apapun. Jadi, semua dijalani untuk mengenal satu sama lain. Aku juga memperkenalkan dengan papa siapa yang ingin ke rumah untuk berkenalan dengan papa. Jika keputusannya adalah tidak, aku menjelaskan mungkin suatu saat bisa saja dipertemukan oleh waktu untuk bekerja sama. Jadi, aku akhiri perkenalan juga dengan baik-baik.

Sudah seminggu sebelum menjelang Ramadhan aku seperti diteror karena seseorang menelpon dan mengirim pesan singkat. Isi SMS yang menyatakan melihat fotoku di socmed lalu meminta kontak dari beberapa bulan lalu. Dia ingin menikah dan ingin menemui orang tuaku. Aku tidak menjawab pesannya dan muncul pesan lanjutan yang bahasanya seperti tidak terima karena aku tidak membalas pesannya. Beberapa kali aku menjelaskan dengan pernyataan yang jelas tapi aku seperti berbicara dengan tembok. Sisa-sisa dari perkenalan di akun jodoh online menjadi tanggung jawabku karena sudah memberikan kontak langsung. Aku tidak hiraukan, aku acuhkan saja.

Salah satu kiriman email dari akun perkenalan online mengadakan blind date. “Klik.” Aku registrasi untuk ikut serta. Seperti acara blind date yang sudah-sudah. Ada perkenalan profile dan dikelompokkan untuk random chat. Terakhir, mengisi kolom yang disediakan untuk menjatuhkan pilihan nama seseorang yang membuatmu tertarik. Aku mengisi sebuah nama di kolomnya. Lalu diumumkan nama-nama yang cocok dan berpeluang menjadi pasangan. Namaku disebutkan dan juga nama pria yang aku pilih. He’s the one. Setiap hari kami chat, setiap hari kami tahu sedang di mana. Obrolan panjang dan cita-cita saling kami lontarkan.

Masih minggu pertama bulan Ramadhan, tapi semua topik yang dibicarakan adalah bukber. Aku membuat jadwal bukber dan ternyata hampir tiap hari bahkan sampai menjelang lebaran. Bukber dengan teman SD, SMP,SMA, teman les, teman kuliah, geng kuliah, teman kantor, komunitas, pengajian, ultah bos, juga bukber sambil meeting pekerjaan. Termasuk bukber dengan kenalan di blind date, seorang pria bernama Dastan pilihanku. Kami membicarakan bagaimana hal-hal ke depannya. Pembicaraan kami mengenai suatu hubungan, bukan berarti kami sudah menjadi calon pasangan. Aku ingat perkataan Dastan, “Bagaimana nanti setelah menikah jika sama-sama sibuk?”.

Setelah itu, chat kami berkurang. Aku sendiri bersabar karena kesibukannya. Aku berusaha agar tidak mengganggu pekerjaannya. Namun dalam waktu yang bersamaan, bukber bersama teman-teman SD membawaku juga kembali mengenal Tio teman sejak TK yang dulu chat di hectic-nya siang. Sudah 14 tahun berlalu kami tidak bertatap muka. Beberapa hari setelah bukber, Nanda yang sudah menikah mengundang bukber di kediamannya, untuk merayakan ulang tahun pernikahannya. Di acara keluarganya juga hadir Tio, kami banyak ngobrol. Setelah acara selesai Tio menyatakan ingin membangun hubungan yang serius denganku. Aku menjawabnya temui orang tuaku. Bicaralah dengan papaku.

Aku tidak menyebutkan latar belakang yang spesifik, jenis pekerjaan yang dimiliki seseorang atau tampilan fisik seperti tertentu yang menjadi kriteria. Karena bukan dari salah satunya kita memilih seseorang. Tapi, kita sudah memilih satu paket tentangnya dan keluarganya yang juga akan menjadi keluarga kita kelak. Perlu aku sampaikan memantaskan diri adalah diri kita sendiri yang menjadi topik utamanya. Jadilah versi yang paling kamu inginkan mengenai dirimu. Jadikan diri kamu sosok yang kamu sendiri impikan. Kamu sendiri yang tahu ingin menjadi sosok seperti apakah kamu? Capailah. Sibuklah untuk menjadi ‘I’m The Right One’. Setelah kamu mencapainya, lalu lihat sosok yang ada di sampingmu. Dialah ‘The One’ yang kamu cari.

Aku bersyukur kembali diberi kesempatan mengenal Tio. Kami tidak menyebut hubungan kami dengan berpacaran. Kami dalam proses mengenal satu sama lain. Dia sosok yang paling mendekati pria yang aku cari. Sudah setahun kami saling mengenal lagi. Doakan kami untuk rencana pernikahan sederhana kami. Berharap memberi bahagia mengumpulkan keluarga dan saudara sebagai teman perjalanan di dunia dan teman yang kekal di akhirat.

NB: Nama-nama tokoh di dalam cerita disamarkan.