“Untukmu, Ingatlah! Makna cinta dan perjuangan sebelum kamu dapat mengenggam tanganku”

Apakah kamu tahu? perasaanku ketika untuk pertama kalinya kamu menggenggam tanganku? Yach…Semesta seolah berputar di sekelilingku, dengan rasa bahagia yang memuncak, karena keyakinanmu padaku, akan perasaan sayangku, cintaku . Aku adalah seseorang yang telah kamu pilih, untuk kamu genggam tangannya, untuk kamu masuki kehidupannya, dan untuk kamu sayangi di sepanjang sisa hidupnya, seseorang yang pastinya mampu membuatmu bahagia. Ingatlah saat-saat dimana kita berbagi pendapat, rencana bahkan impian bersama karena hati kita yang saling menyayangi? Bukankah, Hati yang menyayangi dan mencintai tidak akan pernah lelah untuk bertahan dan tidak akan pernah menyerah untuk berjuang? Seharusnya hal ini mampu untuk kamu sadari sebelum kamu memulai dan mengakhiri semuanya.

“Untukmu, Ingatlah! ketulusan adalah barang yang sangat mahal harganya, dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya”

Ketulusan bagiku adalah kebersamaan kamu dan aku yang dimulai dari rasa saling mencintai, yang dengan berjalannya waktu perasaan itu berkembang dengan berbagai variasinya, perasaan untuk saling menjaga, berkorban, ataupun memiliki. Lewat kekurangan maupun kelebihan yang kamu tunjukkan dari berbagai sisi dirimu yang selalu dapat kuterima. Kamu yang kuterima apa adanya! kamu yang seperti itu! adalah kebahagiaanku, ketulusanku! Apa yang kamu lakukan apa yang aku lakukan, tidak ada kemunafikan diantara kita. Kita saling menguatkan dan bertahan, walaupun jika kamu memutuskan melepas ketulusanku ini, maka sesungguhnya kamu telah kehilangan makna ketulusan yang belum tentu dapat kamu peroleh dari orang lain.

“Untukmu, Ingatlah! Indikator kedewasaan adalah ketika kamu mampu menundukkan gengsi dan egomu”

Advertisement

Rasa cinta, sayang, marah, benci, tangisan, bahkan lelah adalah cara kita untuk menyalurkan perasaan. Namun pernahkah kamu berpikir sedikit saja, bgaimana caramu untuk menyalurkan rasa itu padaku? Seseorang yang kamu cintai? Seseorang yang kamu sayangi?. Aku betul-betul memahami, bahwa sudah fitrah manusia untuk membenarkan dan membela dirinya sendiri, namun apa jadinya jika ditambah dengan bumbu gengsi dan ego yang begitu besar? Untuk kata terimakasih dan maafpun sulit untuk kamu ucapkan? Malah memilih diam dan berlalu tanpa sepatah kata pun? dan beranggapan semuanya telah terselesaikan? dengan apa yang kamu lakukan haruskah kita terus hidup seperti itu? penuh kepura-puraan dan ketidakjujuran…padahal apa adanya, terus terang, keterbukaan bisa menjadi pilihan meski itu membuat kita sakit atau membenci, tetapi itu adalah sesungguhnya kita, kamu dan aku.

“Untukmu, Ingatlah! terkadang untuk mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga di kehidupan, kamu harus membayarnya dengan harga yang mahal atau sesuatu yang sangat berharga”

Jikalau kamu memaksaku pergi tanpa penjelasan, atau memilih untuk menyerah begitu saja, aku tidak akan berkecil hati. Akan ada suatu masa, di dalam hidupmu, kamu pasti mengingatku! Maka jika hal itu terjadi, yang kuinginkan adalah kamu merasakan sakitnya, sakit yang sama seperti yang kurasakan, yang mampu menghantui harimu, disisa umurmu, tanpaku! Kuharapkan, nantinya kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang akan memberimu pembelajaran tentang bagaimana rasanya penyesalan akan cinta yang telah kamu sia-siakan. Jangan pernah mengharapkan ucapan kebahagiaan untukmu, karena perpisahanpun bisa diakhiri dengan kenangan yang indah, bukan hanya menimbulkan luka.

“Untukmu, Ingatlah! Dengan melepas tanganku, bersiaplah untuk menangis”

Kamu yang telah melepas tanganku, bersiaplah untuk menangis! untuk dilupakan, untuk tak menjadi berharga lagi, untuk menjadi kisah usang, dan untuk menjadi noda kecil di dalam lembaran hidupku. Kuingin kamu pergi jauh dan luput dari pandanganku. Aku janjikan bila kisah ini berakhir, akan menjadikanku lebih kuat, lebih tegar, lebih bahagia, lebih tenang, lebih mencintai dan menghargai diriku sendiri, serta menjadi pribadi yang lebih keren dari sebelumnya, sehingga jika suatu saat di sisa umurmu kelak kita dipertemukan lagi, maka kamu akan melihat betapa berharga dan hebatnya diriku, menjadi pribadi lebih hidup dan bahagia daripada ketika bersamamu!!