Sunrise membuat tubuh kami menghangat di tepian pantai. Berasal dari latar belakang dan hati yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Keputusan menghabiskan weekend menikmati pasir dan air liar ditengah semesta yang selalu bijaksana menatap setiap insan yang butuh ketenangan telah membuat kami bertiga merebahkan tubuh ini di hamparan pasir yang sama. Hangat.

Berbagai perjalanan hidup telah kami lalui dengan kisah dan cerita masing-masing. Sedikit banyak selalu kami bagi untuk sekedar berbagi rasa dalam ikatan persahabatan. Namun tahukah, terkadang ada kata yang tidak bisa di ucapkan. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan sekalipun pada orang terdekat seperti sahabat atau bahkan keluarga. Aku yakin meski kami bersahabat dalam kurun waktu yang tidak sebentar, masing-masing dari kami memiliki cerita dan kisah yang tidak bisa dibagi dengan siapapun. Hanya diri sendiri dan Tuhan sajalah yang bisa mengerti. Karena DIA mengerti tanpa kita harus banyak berujar kata. DIA mengerti bahkan saat kita tidak bersuara. DIA-lah pemilik semesta raya.

Di tengah hangatnya mentari pesisir pantai suasana lengang untuk beberapa waktu. Masing-masing dari kami hanyut dan tenggelam dalam pikiran masing-masing diatas pasir yang memberikan kehangatan titipan Tuhan.

Sebelum kami memutuskan ke sini, memang telah berbagi cerita akan kepenatan masing-masing yang pada akhirnya menarik kami ke pantai yang kini kami pijak.

Ayu baru saja tersingkir dari hubungan yang telah dia bina selama 4 tahun. Wanita lain telah membuat kekasih Ayu jatuh cinta lagi dan lepas dari genggaman Ayu. Ayu selalu berlarut-larut dalam kesedihan yang membuat dia ingin pergi dari keramaian kota.

Advertisement

Sarah seorang gadis manis yang pendiam korban broken home dan selalu merasa tidak nyaman terkurung dirumah. Ketika sebagian orang mendamba rumah mewah bagai istana, Sarah malah memilih pergi dan meninggalkan semua kemewahan. Baginya kebahagian tidak bisa didapat hanya berdasarkan gelimbangan harta dan tahta. Kebahagian yang Sarah damba telah sirna, yakni Ibu dan Ayah-Sarah yang memilih jalan hidup masing-masing meninggalkan Sarah dalam istana yang berisikan kesunyian, kesepian, kejenuhan dengan segala amarah yang selalu dia simpan di balik wajah lugu-nya. Kini Sarah ingin mencari kebahagian pada dunia luar yang penuh kebebasan. Hamparan pasir dan lautan.

Dan aku? Entahlah, aku hanya bilang pada Ayu dan Sarah jika aku hanya ingin menemani mereka dan menghabiskan satu hari menikmati sunrise dan menanti sunset. Tidak ada tekanan yang membuatku harus lari saat ini.

*****

Mataku terpejam menyerap setiap energi yang diberikan semesta. Langkah kaki terdengar di sampingku, namun aku tidak peduli. Saat ini aku sedang berada di alam yang tidak ingin aku tinggalkan. Langkah kaki itu semakin menjauh meninggalkan aku dalam ketenangan yang semakin dalam.

Tiba-tiba saja imajinasiku melayang menuliskan segala keruh yang terjadi dalam hidupku di hamparan pasir, lantas hilang ditelan ombak. Satu nama aku tulis di atas pasir disertai dengan kisah panjang dibalik nama itu. Saat aku menulis nama dan kisahnya di pasir maka tidak ada yang abadi. Cepat atau lambat air pasang akan menjadikannya tiada. Begitupun dengan perasaan ini. Tidak lama lagi semua akan sirna dan kembali membaik. Ya, mungkin itu salah satu alasanku ada disini tanpa bisa aku suarakan pada kedua sahabat karibku itu.

Memori kembali melayang menapaki kisah yang telah terlampau jauh tertinggal waktu. Bayangan itu mengusikku membuat air jernih jatuh di pelupuk mata ini. Wajahnya, senyumnya, tawanya dan segala kepalsuan yang dia berikan. Hatiku tiba-tiba teriris perih, mengingat begitu banyak waktu yang telah aku habiskan dalam kepura-puraan. Pura-pura kuat dan tegar di tengah gelombang bukan perkara mudah. Dia melemparku begitu jauh setelah diajaknya terbang. Dia mematahkan segala harapanku. Dia hadir untuk berbagi luka yang tersamar asmara. Dia telah membuatku menutup hati bagi permata lain yang menghampiri. Dia membuatku seakan tuna akan cinta dan butuh waktu lama untuk sembuh. Kini aku tahu, keberadaanku disini diatas pasir ini dan mendengarkan suara-suara alam yang mendamaikan adalah salah satu usaha untuk sembuh.

Seperti kedua sahabatku. Dulu aku pernah sangat ingin pergi dari tempat dimana aku tinggal. Pergi sejauh mungkin meninggalkan kenangan. Namun semua salah, kenangan tidak tinggal di suatu tempat melainkan di hati. Kemanapun kamu pergi, kenangan itu akan terus mengikuti. Seperti saat ini. Aku telah jauh dari masa-masa itu dan terhempas jauh ditempat yang berbeda. Namun, memori ini terlalu kosong untuk melepaskan semua kenangan. Lebih dalam sanubari ini berbisik… kamu butuh kisah baru untuk mengisi kekosongan hatimu hingga penuh, sampai kenangan ‘manis’ itu terkikis lalu terhempas di telan ombak dan tergantikan oleh kisah yang baru.

Mata ini masih terpejam mengantarku jauh pada emosi yang tidak pernah aku suarakan ditelan kebisuan terbungkam kasta. Ya’ mungkin aku terlalu miskin untuk bisa sekedar meluapkan amarah. Samar aku mendengar ada bisikan di telingaku “Nid, Sarah kemana ya?” Aku membuka mata dan mendapati Ayu yang telah terduduk menatap kosong ke arah pantai sejauh mata memandang.

“Sejak kapan dia tidak ada?”

“Entahlah. Aku terlalu hanyut dalam pikiranku hingga tidak menyadari jika Sarah tidak ada disini”

Mungkin langkah kaki yang tadi adalah suara kaki Sarah, batinku berbisik.

“Ayo kita cari”

Kami berjalan menyusuri tepian pantai dengan terus berdecak kagum akan keindahan alam yang diciptakan Sang Maha Kuasa Pengendali Semesta. Langkah kaki kami meninggalkan jejak di setiap jengkal pasir yang kami lewati, bukti jika kami telah menjadi bagian dari keindahan alam bumi ini.

Disudut mataku menangkap seorang gadis berdiri setengah kokoh diatas sand dune atau bukit yang tersusun dari timbunan pasir yang terbawa angin pantai. Matanya menerawang menantang lautan dan merentangkan kedua tangannya hingga menengadah ke langit. Jilbab yang dia kenakan berlambai-lambai tersapu angin.

Dalam langkah yang masih jauh untuk bisa merangkulnya, aku dan Ayu mendengar Sarah berteriak penuh dengan penuh emosi “Duhai pemilik alam… rangkul aku… peluk aku… aku tidak ingin sendiri… duhai ombak yang terkadang garang tunjukkan wujudmu… biarkan aku terbawa arus hingga air menelanku dan membawaku pergi sejauh mungkin… bawa aku pergi……. ” Berakhir dengan robohnya lutut Sarah yang membuatnya setengah terjatuh lalu terduduk pasrah dengan melekukkan kaki yang lantas dipeluknya dengan kedua tangan Sarah sendiri.

Aku dan Ayu berlarian menghampiri Sarah. Lalu duduk berdampingan dengan Sarah.

“Kamu tidak sendiri, ada kita disini. Walau kita tidak bisa sepenuhnya mengerti apa yang kamu rasakan karena hanya diri kamu sendirilah yang tahu betul apa yang ada dalam hatimu. Namun, setidaknya dengan adanya sahabat semua bisa menjadi lebih ringan. Ceritakanlah pada kami apapun yang ingin kamu katakan. Dan jangan lupa peluk kami jika kamu butuh kehangatan” Suara Ayu begitu tenang menenangkan di tengah kelengangan.

Suasana kembali lengang, sunyi tanpa ada yang bicara. Ternyata kami cukup saling memahami. Semilir angin pantai memeluk kami penuh dengan pengertian. Membiarkan kami meresapi setiap hembusan angin yang membawa kedamaian.

Perlahan emosi Sarah meredup. Kami berjalan berdampingan saling berpegangan erat agar tidak ada yang terjatuh di kala tersandung, agar kami bisa saling menguatkan. Menikmati setiap sudut pantai yang menjadi saksi persahabatan kami. Keluarga tidak hanya bisa didapat di bawah atap yang bernamakan rumah.

*****

Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Masih panjang perjalanan untuk menantikan sang surya terbenam di kaki bumi. Akan ada banyak hal yang kami lakukan disini, salah satunya adalah untuk memahami lebih dalam diri kami sendiri.