Saya tidak paham mengapa begitu sulit orang-orang menyatakan cinta. Mengucapkannya di depan ia yang benar-benar pantas dibanjiri cinta. Saya juga tidak paham, mengapa pernyataan itu begitu punya makna yang serius. Paling tidak sampai hari ini. 13 Agustus 2015, saya sadar betapa khidmatnya pernyataan itu. Sudah ribuan halaman novel yang aku baca. Semuanya mengisahkan romansa. Tentang mereka yang akhirnya tulus mengucapkan, "Aku Cinta Kamu."

Kalau kamu masih terlalu mudah melafalkannya kepada orang lain. Pikirkan lagi, apa benar kamu tulus mengatakannya.

Untuk yang benar-benar merasai cinta. Kalimat "I Love You" sangat sakral. Kalimat itu semacam pamungkas yang bukan hanya membuat sesak napas dan perut mulas. Tapi juga bisa membuat tubuh kita meremang. Memikirkan masa depan sekaligus masa lalu. Kelabatan ia yang kita tuju cintai tanpa lelah menari-nari di udara. Itu adalah sedikti hal yang menurut saya membuat ungkapan itu sukar dilafalkan.

Karena kita tahu bahwa arti cinta sangat menakutkan. Dan sama sekali bukan bualan.

Yang saya maksud dengan menakutkan di sini adalah. Gelanyar perasaan khawatir dan gundah tentang kita yang merasa lebih rendah, tidka pantas, dan belum layak menyatakan cinta kepada ia yang sesungguhnya kita cinta. Pada sat yang sama, segenggam semangat yang lebih terang, nyata-nyata menafikan itu semua. Menyamangati dari sudut tersembunyi di sanubari. Untuk berjuang. Untuk membuktikan kamu lah yang paling layak mencintai dia. Dan sebaliknya.

Pengecut! Memang, tapi yakinlah! Ungkapan cinta dariku akan kamu dengar suatu saat nanti.

Bahkan ada saat di mana saya rela dilabeli pengecut karena gagal mengatakan cinta kepadanya. Karena dikalahkan perasaan tidak pantas dan ketakutan fana. Saya yakin Ia selalu menyimpan kuasaNya. Ia dengan makhluknya yang bernama waktu akan menhampiri kami, aku dan kamu, di hari yang lebih indah, sakral, dan membuat desir angin terasa jauh lebih romantis dari siang ini, akan membantuku mengungkapkan apa yang aku dan kamu rasa. Itu cinta.