Bukan kepergian dan juga bukan perpisahan. Tidak berarti awal maupun akhir. Kebingungan yang melanda dengan semua teka teki di dalam otak yang tak mudah terjawab. Sebenarnya bukan tak mudah terjawab, tapi enggan berhadapan dengan jawaban sesuai realita yang ada. Realita akan rasa yang mendera dengan semua kemunafikan jiwa yang menampiknya.

Mata dengan tatapan rindu. Tangan yang menggenggam asa. Kembali menghampiri, memori akan pertemuan. Kala mata dengan penuh tanda rasa menatap dibalik bayang lainnya. Mencuri pandang seolah hanya ingin jadi pemuja rahasia belaka.

Bahu penopang risau.

Telinga yang menjadi pendengar setia.

Dan jemari pengusap air mata.

Banyak cerita yang layak menjadi memoar. Bukan melebihkannya. Tapi pada akhirnya, rasa dan kemunafikan yang menampiknya kembali menyerang layaknya bumerang. Semua hanya sisa penyesalan. Tak ada mesin waktu yang mampu memutar balikkannya.

Ulasan rasa dari bait bait puisi cinta.