Selamat tinggal dariku, hai seseorang yang telah lama kukagumi. Aku tak perlu susah payah menjelaskan kepadamu mengapa aku memilih pergi, toh kamupun juga sama sekali tidak akan memperdulikanku akan hal ini.

Aku memilih pergi karena aku sudah tidak bisa mengagumi dan menyukaimu dengan sepotong hatiku. Aku tak mengerti mengapa aku mengagumimu sedalam ini. Aku yang selalu gagal mengatur detak jantungku yang berdebar kian keras hingga nafasku yang mulai tak beraturan ketika berpapasan denganmu. Aku tak dapat memahami diriku sendiri mengapa aku mengagumimu sedalam ini.

Sesekali aku berfikir apakah kau juga mengagumiku seperti halnya aku mengagumimu? Apakah kau merasakan hal yang sama ketika mataku menatapmu dengan tatapan tajam yang berbinar. Aku berharap kamu tahu tentang hal ini, mungkin benar selama ini aku terlalu takut dan khawatir akan dirimu. Aku selalu memikirkan hal terburuk yang terjadi padaku ketika aku mulai memberanikan diri untuk sedikit menunjukkan ini kepadamu.

Dalam keheningan aku selalu berharap suatu hari nanti bahwa hati kita akan bertemu dengan suatu kejadian hebat yang membuat kita saling mengenal. Aku yang memendam perasaan ini sendirian terlalu takut untuk mendapatkan penolakan darimu dan pagi ini aku mendapatkan semua jawaban dari keresahanku selama ini.

Entah berapa lama aku membuang waktuku dengan percuma hanya untuk mengagumimu dan menunggu hari di mana aku dapat melihatmu tanpa jeda, mendengar gelegak tawamu, mendengar setiap keluh kesahmu, bahkan sesekali aku ingin kau menyapaku dengan bahasa lembutmu. Namun nyatanya sampai saat ini semua tak kunjung terjadi.

Advertisement

Mungkin ketika kau tahu ekspektasiku setinggi ini kepadamu, kau akan menganggapku sebagai seorang pengecut yang hanya bisa berharap tanpa sedikitpun menunjukkan. Hey, aku seorang perempuan sangat wajar kalo aku seperti ini, karena memang seorang perempuan sangat lemah dalam hal ini.

Kamu sebagai seorang pria harusnya lebih mengerti dalam hal seperti ini, tapi nyatanya kau jauh lebih buruk dariku. Menunjukkan perasaanmu saja kau tak ada keberanian. Teruslah seperti itu sampai kau tahu bagaimana rasanya kehilangan, tepatnya kehilangan seseorang yang mengagumimu setulus ini, seseorang yang saban hari selalu menunggumu, seseorang yang selalu mengkhawatirkanmu walupun tak begitu ditunjukkan dan seseorang yang selalu setia menyelipkan namamu dalam doa malamnya. Kau akan kehilangan orang yang seperti itu

Kini aku benar-benar tersadar dan aku bertekat untuk melepaskan segalanya termasuk setiap rindu yang selama ini telah kupendam. Betapa waktu telah mengajarkanku akan banyak hal, termasuk kesabaran. Waktu juga mengingatkanku bahwa aku juga pantas mendapatkan kebahagiaan dari seseorang yang mengagumi diriku. Waktupun telah menyadarkanku untuk mulai bisa melepaskan dirimu yang memang tidak pernah meminta diriku untuk menyukai dan mengagumimu.

Kemudian aku akan berjuang sekuat hati untuk merelakan bahwa aku memang tak harus berada di sini. Aku harus pergi meninggalkan segala hal yang memang tak patut diisi. Aku juga tersadar betapa aku melewati waktu-waktu sulit ketika aku masih mengagumi dirimu, semuanya menyedihkan tidak ada ruang-ruang kebahagiaan di sini.

Mungkin sekarang saatnya hatiku beristirahat sejenak, melepaskan beban yang selama ini begitu berat kugenggam sendiri dan sekarang saatnya aku memikirkan kebahagiaanku sendiri bersama orang yang mau berjuang denganku, bukan dia yang pura-pura tidak tahu padahal dengan jelas dia mengetahuinya.