Bulan berganti bulan lamanya aku selalu menanti turunnya hujan, tak sengaja siang hari itu hujan rintik-rintik telah turun membasahi rumah kecilku, sembari melamun mengenang semua kisah kita yang pernah ada, selalu saja hasrat rindu ini menghampiri tiap waktuku, engkau yang telah pergi entah kemana aku tak telah untuk selalu menantimu. Telah banyak kita lewati kisah ini dengan penuh suka cita. Kebahagiaan tak mampu aku tahan ketika engkau selalu mengirim sepucuk surat dan bunga segar setiap pagi yang selalu tersemat dibawah pintu rumahku. Dan saat mencoba menghirup udara sore hari itu aku merasakan ketenangan yang selama ini aku nantikan, tak berapa lama hujan telah reda dan kembali menyadarkanku pada kenyataan yang sebenarnya.

Pada sore hari itu menikmati ayuhan sepeda mengitari luasnya kompleks taman yang indah, melihat panorama yang indah di sore hari memiliki kenyamanan sendiri dilubuk jiwa yang sepi ini tanpa dirimu, namun tak berapa lama kemudian seakan ada yang memanggilku untuk duduk di bawah pohon yang rindang itu.

Dulu kita pernah duduk berdua berteduh menikmati derasnya hujan dan engkau menyematkan bunga itu diatas telingaku tanpa rasa ragu, tak banyak kata romantis yang disumbar hanya saja pancaran sinar matamu memberi keyakinan yang sesungguhnya atas semua perhatianmu kepadaku. Satu jam kemudian tak sadar aku telah terlelap tidur diatas rumput hijau, mencoba mengingat setangkai bunga yang pernah engkau sematkan di atas telingaku telah aku kubur di bawah pohon ini.

Dalam seperempat malamku aku selalu berdoa untuk dirimu yang semakin lama semakin menjauh dariku. Namun tidaklah mudah melewati sepinya hati melawan waktu yang selalu menanti kehadiranmu, kepercayaan yang selalu bersemayam dilubuk hati ini tidak pernah sirna sedikitpun, semua rasa itu masih sama seperti dulu saat kita pertama kali berjumpa. Sampai kapanpun tak akan pernah aku melupakan momen yang berkesan itu.

Mengingat kembali pada terakhir saat perjumpaan itu hujan deras dan engkau mengusap air mata yang telah membasahi pipiku dan memeluk erat tubuhku, seakan aku merasakan perjumpaan itu adalah pertanda untuk terakhir kalinya kita berjumpa.

Advertisement

Tak pernah terpikirkan jika semua itu harus berakhir singkat. Rasa pilu yang selalu menghampiri tiap waktuku enggan untuk sirna. Tuhan, jangan biarkan perasaanku ini menghukumku tak berdaya seperti ini. Jangan biarkan aku merasakan sepinya hidup ini tanpa dirinya.

Tanpa disadari aku telah meneteskan air mata ini, engkau yang telah pergi entah kemana dengan semua janji. Dalam benak berkata apakah suatu saat kita akan berjumpa? di mana kita akan ulang semua kisah yang pernah ada? Mengapa engkau pergi secepat ini, tak rindukah engkau selama ini aku selalu berdoa menanti kehadiranmu namun hanyalah sia-sia karena yang lebih berarti adalah saat aku memberikan doa untuk ketenanganmu disurgaNya.