Merantau ke kota orang bukanlah hal yang mudah, harus menyesuaikan bahasa, budaya, gaya hidup dan lain-lain. Namun itu semua tidak menghentikan saya untuk berbagi dengan sesama. Hal ini dimulai ketika saya merasa sebagai butiran Jas Jus yang hilang ketika diseduh air dan tidak berartinya saya di dunia ini, hingga akhirnya hati saya tergerak untuk berkontribusi di kota ini, saya kira berbagi kebahagiaan tidak memandang tempat.

Saya dan tim melakukan survey ke berbagai tempat untuk mencari orang yang layak dibantu, pahlwan yang terlupakan dan hingga akhirnya saya bertemu dengan Bapak Oei Hiem Hwie. Pria yang akrab disapa dengan Pak Wie ini adalah pahlawan bagi Indonesia dimana kontribusi untuk negara ini sangatlah besar di bidang jurnalistik. Bahkan Pak Wie pernah dipenjarakan karena kedekatannya dengan Ir. Soekarno antara lain di LP Lowokwaru, Malang, LP Kalisosok Surabaya, dan LP Nusa Kambangan.

Mungkin Nama Oei Hiem Hwie masih asing ditelinga kita namun bagaimana dengan Pramoedya Ananta Toer? Apakah masih asing? Saya yakin banyak orang yang sudah langsung menangkap sosok ketika nama Pramoedya Ananta Toer terdengar. Ya, beliau adalah teman dekat Pak Wie. Penulis buku Mahakaryanya yang berjudul “Bumi Manusia” yang sudah sulit ditemukan.

Pak Wie ini adalah Pengelola Perpustakaan Medayu Agung adalah sebuah perpustakaan umum non pemerintah. Terletak di Perumahan Kosagrha Medokan Selatan No 42-44 Surabaya. Saat kami kunjungi, perpustakaan miliknya ini terlihat bersih dan terdapat lukisan di sepanjang tembok, serta buku-buku tua yang menguning tanda sudah termakan usia hingga harus diberi silica dan cengkeh untuuk menghindari adanya serangga dan tumbuhnya jamur. Gedung yang terdiri dari dua lantai ini di mana lantai yang pertama adalah memuat buku-buku masa Orde Soeharto dan pemerintan Nazi, koran-koran tua dari zaman dahulu dan di lantai dasar juga banyak dijumpai buku-buku dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Cina. Sedangkan di lantai dua terdapat khusus untuk menyimpan arsip-arsip penting, bahkan semua arsip dan inventaris pernah ditawar satu miliar rupiah oleh akademisi Australia tahun 1999 lalu. Charles Coppel dari University of Melbourne Australia pernah mendatangi Oie Him Hwie dan menawar seluruh koleksinya seharga satu miliar rupiah, namun beliau menolaknya.

Saat ditemui, Pak Wie sedang dalam keadaan penyembuhan sebab setelah dirwat di rumah sakit karena sempat stroke dan sekarang beliau belum pulih sepenuhnya, dan untuk berbicara pun susah hingga akhirnya kami mencoba menelaah sendiri dari berbagai penghargaan nasional dan internasionalnya dan juga mewawancarai penjaga perpusnya, Mas Didin.

Advertisement

Semoga apa yang dilakukan Pak Wie dapat menyelamatkan Indonesia dari bidang sejarahnya. Pak Wie adalah pahlawan Indonesia yang layak untuk diberi penghargaan, maka saya dan tim saya memberikan persembahan berupa uang tunai yang kami dapatkan dari sumbangan secara online dari situs Kitabisa.com dan bekerjasama dengan Hipwee.

Saya kira membantu orang sangatlah mudah apalagi di era digital seperti ini. Semoga orang-orang di mana saja Anda berada yang membaca tulisan saya ini bisa tergerak hatinya untuk sama-sama membantu, mencari pahlawan, siapa saja dia yang layak dibantu. Kita sebagai generasi muda sudah saatnya turun tangan, kalau menunggu belas tangan pemerintah maka masalah ringan pun tidak akan terselesaikan. Jangan saling menunggu, sebab kita tidak pernah tahu waktu yang kita buang sia-sia untuk menunggu .

Surabaya, 28 November 2015

Oleh: Titing Reza Fahrisa