Dari kata “Merdeka,” aku mengartikannya sebagai sebuah kebebasan. Seseorang akan merasa merdeka ketika ia mendapat kebebasan untuk memilih, begitu juga denganku. Aku akan memberitahu kepadamu, kemendekaan seperti apa yang aku miliki.

Pilihan untuk tinggal bersama siapa

Sebuah rumah, selain kita tinggal di dalamnya, rumah juga menjadi saksi bisu sebuah masa dalam hidup kita. Bahagia rasanya bila kita bisa memilih dimana kita hidup.

Kenyataan yang harus aku terima adalah keluargaku terpisah menjadi Dua. Tapi aku tak pernah berpikir seperti itu. Dalam pikiranku, semuanya baik-baik saja. Ya, aku memilih untuk berpikir positif. Aku diberi pilihan untuk tinggal bersama Ayah atau Ibu.

Pilihan untuk sekolah dimana

Advertisement

Mulai dari sekolah dasar, aku diberikan kebebasan untuk memilih tempat menimba ilmu. Dengan alasanku sendiri, aku memilih sekolah mana yang cocok lalu mendatanginya.

Pilihan dalam masa liburan

Ada banyak pilihan kegiatan ketika masa libur datang. Mulai dari nonton film, jaga rumah, jalan-jalan, ikut kegiatan, semuanya tinggal dipilih.

Kebebasan dalam rumah

Aturan rumah tak memberatkan sehingga semuanya terserah padaku.

Bagun pagi: Bebas bangun jam berapa. “Dosa nggak solat tanggung sendiri. Telat masuk sekolah salahmu sendiri.” begitulah kata emak.

Urusan makan: Bebas mau makan atau nggak. “Lumayan kalau kamu nggak makan. Nasi sama lauk masih utuh.” begitulah kata emak part 2.

Urusan mandi: Bebas mau mandi atau nggak. “Nggak mandi? Beneran. Nggak boros air.” Begitulah kata emak part 3.

Urusan tidur: Bebas mau tidur jam berapa. “Jam enol-enol kamu belum tidur? Lumayan jaga rumah. Awas kalau ada maling.” Begitulah kata emak part 4.

Pacaran atau jomblo?

Kebebasan lain yang aku miliki adalah bebas untuk pacaran atau tidak. Berbeda dari sebelumnya, emak mewanti-wanti aku untuk jangan pacaran. Statement perubahan itu emak umumkan karena sebuah alasan. Pasti banyak yang bertanya kenapa? Karena emak udah bosen liat aku bawa buku. “Pagi-pagi buku… Malam-malem buku… Enegg… rasanya.” begitulah katanya. Aneh memang, tapi begitulah kenyatannya.

“Selain harus fokus belajar, juga diselingi pacaran biar bisa bikin hidup agak lebih berwarna di samping warna sampul buku pelajaran yang bikin seret.” itulah pendapat kebanyakan temen yang pacaran, mereka-mereka peraih rangking belakangan.

Ketika dihadapkan pada dua pilihan “Pacaran” atau “Tidak pacaran,” aku melakukan survey pada beberapa temanku dengan pertanyaan dalam sebuah sobekan kertas. “Menurutmu, aku lebih baik punya pacar atau nggak?”

Dan beginilah jawabannya:

Temen 1 menjawab, “Jomblo ya jomblo aja kalik. Gak usah menghayal.”

Temen 2 menjawab, “Gimana ya… Kasihan aja liat kamu sendiri. Pasti makhluk tak kasat mata pun udah males jalan bareng kamu.”

Temen 3 menjawab, “Hal tersulit memang memulai. Salah satunya mulai mencintai seseorang. Walaupun sulit, jangan takut untuk memulai.”

Jawaban lain sengaja tak kuceritakan karena mengandung unsur pelecehan batin atas kebelum mampuannku memiliki seorang pacar.

Setelah berpikir dan berpikir, aku teringat akan suatu pesan. “Sekolah dulu yang bener, kuliah yang bagus, terus bekerja dengan super, maka cinta akan memperebutkanmu,” gitu sih kata pak Mario. Super nggak?

Bebas pilih pacar

Pacaran nggak harus dengan manusia. Ada banyak pilihan, contohnya: Hobi, komputer, game, kreativitas, bahkan bayangan sendiri, semua bisa dijadikan pacar.

Anak IPA atau Anak IPS?

“Anak IPA itu kebanyakan ngitung, ngitung berapa volume air hujan yang jatuh ke bumi jika kecepatan angin sekian dikali kemanjuran do’a para jomblo yang berharap agar hujan turun semakin deras sekian, ditambah ketelitian pawang hujan sekian, dibagi jumlah tetes air mata seluruh cewe di bumi ini yang nangis di waktu yang sama karena gagal ketemuan. Ngitung berapa cepat rambat cintamu padanya yang menggantung setinggi seratus meter di atas tanah dengan kecepatan gravitasi sepuluh meter per second. Yang jelas, anak IPA nggak bakalan ngitung seberapa besar kerugian yang diderita seorang cowo yang punya cewe matre dilihat dari kantong si cowo dan ketulus tidak-an si cewe. Anak IPA nggak sepusing ngitung banyak duit tanpa kehadiran si duit karena itu derita khusus buat para anak IPS.”

Bebas menulis

Kemerdekaan bagi orang dengan hobi menulis adalah saat kita bebas untuk menulis dan orang lain bisa membacanya.

Beginilah penampakan mading kelas. No kaca, no kunci. Bebas nulis apa saja. Tinggal tempel!

Bebas pilih idola

Memilih idola karena apa dan dari negara mana, tinggal pilih sesuka hati.

Bebas pilih jurusan kuliah

Tidak semua orang bisa memilih jurusan yang benar-benar diinginkannya. Dan ketika kita bebas memilihnya, itu adalah sebuah keberkahan tersendiri bagi kita.

Menentukan hidup

Bercita-cita menjadi apa, hidup seperti apa, semua tergantung pilihan kita sendiri. Dan ketika aku bebas menentukan hidupku sendiri, aku merasa sangat merdeka.

Semoga kemerdekaan yang aku miliki, juga dimiliki olehmu juga . Salam merdeka !