12 Juli 2013, pengumuman kelulusan Peserta Pemberdayaan Masyarakat yang merupakan salah satu program pemerintah. Namaku masuk pada daftar nama tersebut dan penempatan Sulawesi Utara. Seketika itu aku mulai browsing semua hal tentang Sulawesi Utara terkait keadaan geografi, budaya, potesi alam, dan tentunya tempat wisata. Saat membuka peta secara online melalui laptop, mataku langsung tertuju sebuah lingkaran putih kebiru-biruan di tengah daratan Sulawesi Utara. Kemudian aku zoom sampai beberapa kali dan muncul sebuah nama danau yang bernama Danau Tondano. Dalam benakku, tunggu beberapa minggu lagi aku akan ke sana.

Akhir Agustus 2013, aku bersama peserta dari Jawa Timur lainnya berangkat naik pesawat dari Surabaya menuju ke Jakarta. Di Jakarta kami menjalani masa pembekalan selama dua minggu. Setelah berakhirnya masa pembekalan tersebut aku dan teman-teman yang sama penempatannya, bersiap bertolak ke Sulawesi Utara menuju Manado. Perjalanan pesawat yang relatif lama selama 3,5 jam akhirnya sampai juga. Kemudian, aku ditempatkan di Kota Bitung tepatnya di Kelurahan Girian Bawah oleh Pemerintah Provinsi setempat.

Beberapa hari kemudian aku browsing lagi mengenai Danau Tondano, rasa penasaranku belum terbayar jika belum mengunjunginya.

Yang aku tahu, jarak antar tempat tinggalku dengan Danau Tondano relatif dekat sekitar 50 km. Karena dekatnya jarak itu hingga aku segara menghubungi temanku untuk mengagendakan pada akhir pekan pelesir ke Danau Tondano. Akhirnya disepakati tanggal 5 Oktober 2013, kami bertiga berangkat ke sana. Dari tempat tinggalku di Girian Bawah, kami naik ojek ke Terminal Tandurusa-Bitung sebesar Rp.7.000,-/orang. Di terminal tersebut aku sempat membeli makanan dan air mineral ke kios. Sempat bertanya dengan pemilik kios tersebut, mengenai waktu tempuh dan biaya naik otobus ke Terminal Tondano. Dari tanya jawab itu aku memdapatkan informasi mengenai tujuan pelesir ini.

Lalu kita naik otobus dengan tujuan Tondano. Tarifnya terpampang di kaca pintu belakang. Otobus yang dioperasikan ini tergolong ‘tua’ dan relatil kecil. Dapat dilihat dari tampilannya yang sudah berkarat, dan jika kita duduk jarak antar bangku sangat sempit. Kapasitar penumpangnya hanya 20 orang saja. Tetapi keunikan dari angkutan umum jenis otobus ini adalah menunggu penuh dulu, baru bisa berangkat, serta tidak diperkenakan ada penumpang berdiri.

Advertisement

Sekitar 1 jam lamanya menunggu akhirnya penumpang yang masuk dalam otobus penuh. Sopir kemudian menyalakan mesin, dan berangkat ke Terminal Tondano. Di otobus ini hanya ada 2 personil, yaitu sopir dan kernet yang sekaligus sebagai kondektur. Tidak heran waktu di perjalanan tepatnya di Desa Kauditan-Minahasa Utara aku dimintai ongkos. Jika menurut Pergub tentang tarif yang di tempel pintu belakang sebesar Rp. 11.100,- tetapi pada kenyataannya kita hanya diminta membayar Rp. 11.000,- saja. Aku tidak menanyakan apa alasanya, sepertinya si kernet tersebut mengabaikan uang Rp. 100,-.

Lalu pada persimpangan jalan, tepatnya di pertigaan Airmadidi-Minahasa Utara sempat terjadi kemacetan beberapa menit karena banyak antrean truk-truk kontainer yang menuju Kota Manado. Setelah kemacetan terurai, kemudian pada papan hijau penunjuk jalan menuju Tondano mengajarah belok kiri. Akhirnya jalanan relatif sepi sehingga si sopir otobus dengan lajunya menancap gas. Nah dari sini memulai babak baru perjalanan pelesirku. Dikarenakan jalan berliku-liku mulai dari Airmadidi-Minahasa Utara sampai ke Tondano. Selain itu, jalan sempit, kondisi jalan cenderung rusak, dan bergelombang. Maka perut akan terasa dikocok-kocok dan badan sering miring ke kanan dan ke kiri mengikuti alur jalan otobus. Bahkan kadang tas penumpang yang ditaruh di bagasi jatuh menimpa si penumpang.

Akhirnya di perjalanan yang ekstrim itu, ketika sudah memasuki Kabupaten Minahasa yang termasuk dataran tinggi, dari jendela otobus dapat melihat ke arah bawah seperti lautan luas.

Aku sempat bertanya ke temanku, apakah itu Danau Tondano?

Dijawab oleh temanku, iya.

Wah berarti kita sudah hampir sampai, selorohku.

Benar juga, beberapa menit kemudian otobus yang aku tumpangi sampai di Terminal Todano. Lega rasanya meski jaraknya hanya 50 km, tetapi waktu tempuhya sekitar dua jam. Sebelum aku menuju ke lokasi, aku sempat singgah ke salah satu kios di areal terminal untuk membeli air mineral, sekaligus bertanya tentang angkutan umum yang menuju lokasi wisata Danau Tondano. Dari info yang aku dapat, pada hari sabtu banyak angkutan umum yang libur, sedangkan yang ada ojek motor. Beruntung ada seorang sopir otomikro berwarna biru, yang kebetulan juga membawa penumpang juga menanyakan tujuanku.

Si sopir tanya, Mau kemana, Mas?

Ku jawab, ke Danau Tondano.

Ayo ikut saya, Mas! Ajak Si Sopir

Ku jawab lagi “Iya”.

Dengan penuh semangat aku dan kedua temanku naik otomikro tersebut. Sekitar 20 menit perjalanan kita sampai di persimpangan jalan di Remboken. Dari sini kami turun dan membayar ongkos Rp.15.000,- /orang. Kata si sopir, mas nanti jalan ke arah sana, sekitar 300 m sampai di resort Remboken untuk melihat pemandangan Danau Tondano. Sambil berjalan kita aku bercakap-cakap, dan ketika sampai di salah satu resort tersebut aku tidak memutuskan untuk masuk langsung. Melainkan jalan terus ke arah atas tebing yang masih di sekitar danau. Karena cuaca begitu terik hanya 5 menit saja, aku dan kedua temanku ku ajak turun dan langsung masuk di resort tersebut. Tiket masuk cukup murah hanya Rp.6.000,-/orang.

Di salah satu resort itu ada berbagai fasilitas seperti kios, kolam renang, penginapan, dan taman-taman yang menambah kesejukan tempat itu, sambil menikmati pemandangan Danau Tondano. Deburan ombak dan kencangnya angin di sekitar danau membuat aku betah untuk refreshing. Tampak di sebelah barat, ada tambak yang dikelola masyarakat setempat.

Ini plesirku bersama kedua temanku, yang sudah 2 jam lamanya menikmati pemandangan Danau Tondano, waktu hampir petang kami berencana pulang. Saat keluar ke jalan raya, aku sempat memberhetikan otomikro di dekat pangkalan ojek motor, tetapi semua menolak. Meskipun ada beberapa otomikro yang lewat tetap juga menolak ditumpangi. Lalu aku putuskan naik ojek motor saja untuk kembali ke Terminal Tondano. Ongkos ojek motor cukup mahal, sebesar Rp.20.000,-/orang. Tapi memang tidak ada pilihan lain, dan hari itu pun juga sudah petang. Kemudian 15 menit perjalanan itu, sampailah kita di Terminal Tondano dan kita langsung masuk ke salah satu otobus yang penumpangnya hampir penuh. Hanya 5 menit menunggu, dan otobus langsung berangkat menuju Terminal Tandurusa-Bitung. Uniknya, otobus aku tumpangi ini sama saat berangkatnya. Mungkin kebetulan saja otobus ini dapat urutan trip-nya. Jadi, bayarnya sama seperti saat berangkat,Rp.11.000,- saja. Hemat Rp.100,- lagi aku. Hehehe