Ada hal yang kadang tidak bisa saling kita simpulkan dengan benar dan saling mengiyakan dengan hasil yang sama. Itu manusiawi karena arus hati dan pikiran kita tidak berada dalam satu tubuh yang sama. Orang bijak berujar “kamu hanya bisa mengerti seseorang jika kamu merasakan mereka dalam dirimu”. Nyatanya kutipan itu tak semudah kedengarannya.

##

“Jadi, kamu bersedia?”, Aku tak perlu berdiam lama harusnya karena jauh sebelum kunanti hal ini aku sudah sedikit meyakini mungkin kamulah orangnya. Aku memandang lagi matanya, “Kita jalani dulu perlahan, aku ingin denganmu akan membuat momen yang indah,’’ jawabku.

Alam semakin damai. Burung memperlihatkan gerakan akhir untuk pulang ke sarang.. Matahari mulai menenggelamkan dirinya. Terbenam bersama rupa senja yang kian menawankan langit di atas pantai saat itu.

Damainya alam akhir sore, seakan menandai kamu dan aku yang berkeinginan menjadi kita

Advertisement

Aku hanya tidak ingin kamu kembali kecewa di atas cerita cintamu yang pernah terjadi di masa ketika aku belum mengenalmu dan kita belom jadi siapa-siapa. Kamu sesosok pria yang tersujud pasti dengan tangisan dari kesedihan sebuah keharusan pelepasan. Aku tak pernah punya masalah dengan itu. Aku mengerti bahwa akan selalu ada rute jalan atas apa yang aku pilih juga akan ada resiko dari ini tapi aku berharap kamu juga akan mengerti aku. Sudah kuceritakan saat lalu. Saat kita duduk bersama tentang ceritaku yang juga sendu.

Kali ini, aku ingin menjadi wanita yang semoga lebih indah untukmu, priaku. Tapi tolong ingatkan aku jika langkahku keterlaluan, ucapku menyakitimu karena aku tak ingin kisah ini juga akan menghilang. Aku ingin kita tak punya akhir, bertahan saling mengenggam menghadapi segala kemungkinan yang ada, bersama-sama.

##

Kadang kita memang mesti mengingat kembali ke masa lalu, bagiku ini perlu

Menimbang nimbang kesalahan apa yang dulu dilakukan agar tak terulang. Merenungi kekurangan apa pada hati ini pada sikap ini agar tak lagi gagal menciptakan indah yang berkelanjutan. Tanpa mengurangi penjagaan perasaan. Kau tahu sayang setia adalah juga kunci untuk kita tetap saling berdampingan. Ia tak pernah ingin membagi kehangatan pada yang lainnya.

##

Hampir setiap hari, kamu menemaniku. Duduk di sofa ruang tamu. Aku membiarkanmu berbicara apapun yang kamu inginkan. Kamu sepertinya paham aku membutuhkan teman ternyaman untuk hatiku bukan untuk sesaat. Pertemuan kita yang sengaja diulang-ulang semoga menghilangan kata sungkan.

##

Satu bulan ini kulihat kamu berbeda,

Aku tak tahu siapa yang paling begitu lumpuh karena luka masa lalu. Aku atau dirimu?? Memang memori terkadang membuat segalanya jadi terkaitkan tanpa sadar dengan gerak deret maju langkah kaki selama perjalanan.

Kamu masih saja diam karena keributan kemarin, aku yang sengaja menghilang karena merasa dibanding-bandingkan, kamu yang tetap saja kurang peka dengan diamku sebelumnya.

Kubuatkan secangkir kopi untukmu dan segelas teh untukku. Aku ingin kita duduk berdua dan bicara perlahan. Secangkir kopimu mendingin. Kamu tak mau lagi menghirup aromanya, terlebih meminumnya.

Ku bawa segelas tehku ke sudut ruangan, ku mainkan musik untukku sendiri, kupasangkan headset perlahan di telingaku agar kamu tak mendengar,

……..

Telah kunyanyikan alunan alunan senduku

Telah kubisikan cerita cerita gelapku

Telah kuabaikan mimpi mimpi dan ambisiku

Tapi mengapa kutakan bisa sentuh hatimu

…………………

Dengar simfoniku, simfoni hanya untukmu

………………..

##

Aku memilih merebah pada hati yang tak setengah.

Jika kamu masih ingin berjalan denganku, ada hal yang harus kau tinggalkan, yaitu ragu.

Jika kau terus bimbang, silahkan kembali ketempat yang katanya membuatmu nyaman,

tempat yg juga pernah membuat lukamu menahun sebelum mengenalku, tempat yang

pernah kamu sebut rumah

Karena perjalanan ini tak akan indah jika kamu masih begitu.

##

Dan ternyata kisah ini juga tak lepas dari kontaminasi sisi remang. Keraguan memeluk

erat batin di tengah perjalanan. Meringkihkan badan dalam menciptakan persahabatan

yang terjalin antara dua jiwa yang sepertinya satu

Kita sama – sama terpaku oleh pertikaian soal cinta dan sikap dari wujudnya cinta.