Berpacaran selalu mampu memberi hidup lebih banyak warna. Dengan seseorang yang menarik hati dan bikin kita jatuh cinta apalagi, aduhai bahagianya! Apalagi jika pasangan kita itu berada bersama kita, dekat dengan kita, dan memiliki aktivitas yang tidak jauh beda dari kita. Namun apa jadinya jika sesuatu ‘memaksa’ kita untuk tinggal dalam kurun waktu tertentu, di dua tempat berbeda? Bahkan lebih parahnya lagi untuk menjalani aktivitas sehari-hari yang jauh berbeda satu sama lain?

Pada kodratnya bahwa wanita selalu menjadi pihak yang lebih banyak menuntut perhatian dan kasih sayang dalam pacaran. Ya, meski pria juga sebenarnya tidak luput dari keinginan akan perhatian, tetapi memang wanitalah, yang biasanya banyak menaruh harapan akan perhatian fisik. Sebut saja berbagai perhatian yang bisa nampak melalui sikap, tutur kata dan tingkah laku sang kekasih. Tapi apa jadinya jika harus menjalani LDR? Tentu semua perhatian yang diharapkan itu tidak bisa terpenuhi. Sekalipun begitu, ada banyak wanita yang senantiasa bertahan dalam hubungan macam ini. Mengapa? Sederhana. Karena mereka adalah wanita-wanita kuat dan bisa bersikap dewasa. Simak ini 5 buktinya.

***

Kita mengharapkan bisa selalu saling mengabari dan dikabari sang pacar sepanjang hari. Tetapi kita memahami kapan waktunya untuk menahan diri.

Tidak ada salahnya untuk ‘merengek-rengek’ meminta kabar dari sang kekasih. Baik pagi, siang maupun hingga malam hari. Tetapi kita tahu kapan harus menahan diri. Tidak setiap hari kita harus begitu. Kita mampu menempatkan diri untuk tahu kapan dia akan menganggap rengekan kita ini adalah ungkapan rindu ketimbang sikap aneh yang kekanak-kanakan.

Advertisement

Kita merasa risih saat ia berpamitan akan pergi beraktivitas, terutama demi tugas, dengan teman-teman sejawatnya, yang sudah pasti, ada ‘makhluk wanita’-nya. Tetapi kita tahu bagaimana harus merespon atau menanggapinya.

***

Salah satu tantangan terberat wanita pejuang LDR adalah ‘membiarkan’ kekasihnya harus berinteraksi dengan intens bersama komunitas kerjanya, dan itu sebagian besarnya adalah para wanita, tanpa merasa terbakar cemburu. Sebagai wanita normal, kita selalu dihampiri rasa was-was jangan-jangan ada makhluk wanita lain yang berhasil, entah sengaja maupun tidak sengaja, menarik perhatian kekasih kita.

Well, kita tidak ada di sana untuk selalu mengingatkannya, 'kan. Tetapi kita tahu bagaimana harus bersikap atau memberinya respon ketika ia mungkin bercerita tentang aktivitas-aktivitas itu.

Kita tahu bagaimana menunjukkan bahwa kita mendukungnya dan selalu bisa percaya padanya. Kita paham ada waktu-waktu tertentu yang lazim bagi kita untuk menunjukkan rasa cemburu. Tetapi jelas bukan hal-hal sepele dan tidak penting, yang justru membuat ia jengah dan merasa dikekang.

***

Kita kecewa ketika ia lupa hari jadian, dan malah sibuk dengan berbagai urusan. Kita kesal dan marah, tetapi kita tahu bagaimana harus mengungkapkannya.

Faktor paling penting dalam hubungan jarak jauh adalah komunikasi, dan untuk zaman sekarang ini, tidak lain tak bukan alat yang terpenting sejagad bagi para pejuang LDR adalah alat komunikasi. Tetapi alat itu tidak bisa membantu banyak ketika sang kekasih mungkin terlanjur disibukkan dengan berbagai urusan yang membuat dia lupa hari-hari penting, seperti hari jadi.

Seharian kita menahan hati untuk tidak mengumpat kesal karena tak kunjung ada dering atau getar tanda kabar darinya. Kita berusaha menyibukkan diri tetapi selalu kembali menatap layar ponsel setiap sepuluh menit sekali, dan berujung pada kecewa lagi dan lagi.

Mungkin di akhir hari, ketika ia terpaksa mengakhiri kesibukan itu, ponsel kita akhirnya baru berdering. Ada sederet kata maaf dan penjelasan panjang lebar yang sebenarnya hanya membuat kita bertambah kesal. Tetapi kita tahu bagaimana harus mengungkapkan rasa hati. Dengan cepat dan sigap kita harus mampu menata hati sendiri sebelum menanggapi permintaan maafnya. Kita paham betul bahwa ia tidak dengan sengaja dan tahu bahwa saat itu ia justru sedang amat lelah.

***

Kita berharap ia dengan segera mengakhiri masa penantian panjang dalam masa LDR. Tetapi kita juga menghargai setiap keputusan yang ia buat, sekalipun itu harus terjadi di tengah perjalanan setelah ada kata sepakat.

Menjalani hubungan LDR sudah pasti ada ujungnya. Berdua bersama kekasih setidaknnya sudah pernah membicarakan tentang berapa lama kalian harus berjauhan. Setelah beberapa kurun waktu tertentu, kalian pasti sudah menyepakati tentang langkah-langkah ke depan menuju kepastian. Tetapi ada kondisi yang tidak diduga.

Entah itu tentang kontrak kerjanya yang harus berubah, atau obsesinya yang bisa muncul di tengah jalan. Misalkan lalu ia memintamu untuk menunggu sedikit lebih lama, atau mengubah beberapa hal kecil yang baginya sederhana tetapi bagi kita itu pentingnya luar biasa. Komunikasi yang hanya bisa terjalin lewat telpon atau pesan singkat tentu bisa-bisa menjadi pemicu pecahnya perang dunia.

Namun kita masih bisa bersabar, menahan diri untuk tidak langsung mengajukan interupsi atau penolakan mentah-mentah. Selalu ada kesabaran yang masih mau mendengarkan pertimbangannya dalam mengubah kesepakatan dan berkompromi lagi.

***

Kita jenuh dan bosan terus-terusan menahan rindu. Tetapi kita masih selalu bisa menempatkan diri seolah jadi dia dan memahami posisinya juga.

Inti dari sebuah hubungan adalah rasa saling percaya. Pacaran adalah salah satu hubungan antar manusia yang menuntut komitmen dan rasa percaya seluas-luasnya. Ketika saat-saat jenuh untuk selalu menahan rindu mendera, kita tidak serta merta mengeluh tanpa jeda dan membuat kekasihnya kita kelabakan jua.

Kita masih bisa membayangkan ‘seadainya aku jadi dia’ dan percaya bahwa sebenarnya ia pun bisa jadi jenuh dan bosan terus-terusan mengalah pada waktu dan jarak yang memisahkan ini. Kita bisa percaya bahwa kalau ia tidak mengeluh bukan berarti ia juga tidak merasakan yang sama. Kita masih bisa percaya bahwa tidak semua hal yang tidak terungkapkan berarti tidak dirasakan.

Kita masih mau percaya ada saatnya untuk bicara berdua tentang kejenuhan itu dan bukannya sekonyong-konyong menyalahkan dan menganggap ia tidak paham akan rasa kita.

***

Jadi, sudah terbukti 'kan kalau wanita pejuang LDR itu dewasa banget? Kesabaran dan pengertiannya sudah sangat tahan uji, sehingga cocok jadi calon istri dan ibu bagi anak-anaknya kelak. Salam Berjuang, Pejuang LDR!