Jika jatuh cinta sesakit ini, aku akan berpikir berulangkali untuk menaruh hati. Kamu lelaki yang aku temui di saat aku tidak sedang mencari. Mengapa secepat itu kamumemilihku untuk menemani hidupmu. Sementara kamu tahu aku yang masih terluka sebab masa lalu, masih mencoba tertatih berdiri menata hidup kembali.

Apa yang kamu lihat dariku, aku bukanlah wanita istimewa bukan pula sebaik-baiknya perhiasan dunia. Aku masih jauh dari sempurna, bahkan dari orang yang dulu pernah melalui hidup bersamamu. Mengapa kamu yakin bahwa aku mampu menjadi yang terbaik, padahal kita sama-sama orang yang sakit.

Masa lalu yang membuat kita sama-sama bertemu. Kamu yang dulu sering mengekspos apapun yang kamu rasakan di depan orang banyak. Namun saat kamu sedang berada di dekatku, tidak lagi kutemui sikap yang sering orang perbincangkan tentangmu. Kamu terlalu baik saat itu, bersedia meluangkan apapun jika aku butuh sesuatu atau sekedar menjadi pundak untuk menguatkanku.

Aku mulai takut, saat kamu ajari aku larut dalam kebersamaan. Kenyamaan bisa saja merubah hati yang semula bukan untukmu. Sekuat hati aku berusaha meyakini jika ini bukan cinta, hanya sebatas kekaguman. Sedalam hati aku mencoba berkata “tidak” saat kamu mulai menawarkan harapan. Nyatanya sekuat hati itu pula aku tidak bisa menyembunyikan bahwa aku suka.

Jangan terlalu baik padaku, karena aku adalah seseorang yang tidak bisa mengendalikan hati. Kamu tau berkali-kali aku selalu jatuh sebab terlalu mengandalkan hati padahal terlampau sering tersakiti.

Advertisement

Kamu lelaki yang tidak pernah lelah menasehati sebab kadang egoku lebih tinggi. Kamu lelaki yang setia menunggui walau berulang kali aku tidak peduli. Kepadamu lelaki yang ingin aku mengerti. Apa kamu pikir hati akan baik-baik saja, apa kamu pikir aku sekuat karang yang tidak peduli terhadap sesuatu yang terjadi. Aku wanita biasa yang mudah tercuri hatinya. Sedikit saja perhatian darimu, rasanya secepat itu pula hati gelisah tak menentu.

Aku bukanlah wanita yang pandai berkata aku suka, memahami dan memberi perhatian saja cukup bagiku sebagai penanda. Nyatanya padamu hatiku kembali utuh, karenamu lukaku sembuh, dan olehmu senyumku kembali utuh. Jatuh cinta tidak pernah dikatakan biasa, aku hadir tanpa kamu minta.

Ada gundah yang tak terarah ketika kamu lemah. Nampaknya waktu begitu cepat berlalu, merubah segala yang biasa sempat menjadi hal yang baru bagiku. Begitupun tentang kamu yang semula tak pernah hentinya menunggui setiap detik kehadiranku, meski hanya sebatas pesan singkat atau sebuah voice note ucapan selamat.

Aku yang mulai diburu rasa rindu, namun kamu yang tiba-tiba saja menghilang tanpa pesan tanpa ucapan. Gelisah mulai memenuhi separuh pikiranku, andai aku tau alasannya mungkin aku tidak akan secemas ini. Namun tidak sedikitpun kutemui keberadaanmu, bahkan pesan singkat yang kulayangkan pun terlalu sering kamu abaikan. Ada apa dengan dirimu? Sebelum ini bukankah kita masih baik-baik saja. Masih sempat menjalin kebersamaan dan saling menaruh perhatian. Namun apa yang terjadi secepat itu kamu berubah, apa kamu lelah atau kamu menyerah? Rasanya kamu bukan orang seperti itu.

Katakan padaku tentang sulitmu yang belum tereja olehku. Bukankah dulu kamu yang bersikeras meyakinkanku, mengapa sekarang aku meragukan itu. Kamu bukan lagi lelaki yang pertama aku jatuh hati. Bukan, tidak lagi sama, kamu terlampau keras bahkan sering mengacuhkan. Mungkinkah sudah kamu temui yang baru, pikiranku mulai kacau terhadap prasangka buruk tentang kecemburuan.

Mencoba menutupi kecewa namun mata lebih sering memerah menahan hati yang pedih tak terelakan. Ribuan tanya aku lontarkan pada semesta, mungkin angin akan memberi kesejukan hati atas pertanyaanku. Belum sempat aku mempersiapkan diri, tiba-tiba saja kamu pergi. Bagai tertusuk belati, kamu tau rasanya dikhianati? Sungguh tidak pernah aku dapati rasa yang sesakit ini. Lelaki yang selama ini mengaku tidak lagi peduli, nyatanya dia pergi bersamanya lagi.

Jika saja aku tau semua akan berakhir seperti ini, aku tidak ingin jatuh hati. Biarkan saja aku hidup tanpa hati, agar aku tidak terluka lagi.