Gak tau kenapa, kamu tuh suka banget bikin berantem si Rencana vs si Prasangka?

Kamu yang bikin rencana, tapi kamu juga yang berprasangka. Segudang rencana. Segudang prasangka. Merasuk di pikiran banyak orang. Kalo dipikir-pikir. Kok bisa ya, punya rencana tapi juga punya prasangka. Mungkin kepintaran. Seperti pepatah, sambil menyelam minum air. Sambi berencana, sambil berprasangka. Kalo prasangka baik gak masalah. Tapi yang ada, prasangkanya buruk. Yah, kalau begini bagaimana rencana bisa terealisasi?

Jujur saja, berapa banyak dari kita yang gagal dalam berencana?

Bisa jadi, karena banyaknya prasangka di seputar rencana itu. Eksekusinya belum banyak, tapi tuduhannya sudah kelewat batas. Rencana belum dijalanin, udah ketakutan duluan sama prasangka sendiri. Hebat banget sih kamu, rencana belum dijalanin, tapi prasangkanya sudah menumpuk. Akibatnya cuma satu: GAGAL. Gagal untuk semua rencana yang telah dibuat.

Kata para pilot, “musuh besar” mereka di angkasa adalah awan kumulonimbus (awan CB). Jika benar, tuduhan itulah yang menjadi sebab musibah Air Asia QZ 8501 yang lalu. Nah kalo disadari, mungkin “musuh besar” setiap manusia juga ada, yaitu “prasangka buruk”. Mengapa bisa? Ya. Karena prasangka buruk selalu ngajak pemiliknya untuk bersikap negatif, penuh rasa curiga, dan akhirnya membuat diri sendiri tidak nyaman. Untuk diri sendiri saja berprasangka buruk, apalagi untuk orang lain.

Advertisement

Rencana versus Prasangka ….
Serem banget sih, prasangka buruk. Ya, karena orang yang berprasangka buruk selalu curiga. Bukan hanya pada dirinya sendiri tapi juga orang lain. Merasa tidak mampu, merasa tidak layak, merasa terancam oleh sebab yang tidak jelas. Kita hampir lupa, prasangka buruk itu adalah segudang perasaan yang sifatnya cuma angan-angan. Merasa terancam oleh bahaya yang sebenarnya tidak ada. Jika itu yang terjadi, hancurlah semuanya. Hancur rasa percaya, hancur batin. Akhirnya, tumbuhlah kepribadian seseorang yang buruk. Pesimistis dan gak mau berbuat apa-apa. Terlalu banyak prasangka!

Seperti yang terjadi di bangsa ini, Presiden atawa Gubernur lagi kerja aja udah direcoki dengan prasangka buruk. Jangankan Presiden, rakyat jelata juga sebagus apapun akhlaknya dan sehebat apapun akalnya tidak akan bisa bekerja bila selalu direcoki oleh prasangka buruk. Jangankan negara, bertetangga juga kalau isinya prasangka buruk bawaannya mau “perang” melulu. Berteman juga kalo yang dipikir prasangka buruk, lama-lama temannya males.

Hypwee, gak usah deh bikin berantem "rencana vs prasangka" …

Ketahuilah “prasangka buruk” sungguh tak pantas dijadikan amunisi untuk "menembak jatuh" diri sendiri atau orang lain. Dalam bingkai yang lebih besar, negara dan solidaritas sosial itu pasti hancur jika dikotori oleh prasangka buruk. Apapun namanya, kebersamaan, kekeluargaan, pertemanan akan hancur bila orang-orang yang membangunnya, di saat yang sama mengerogotinya dengan virus prasangka buruk.

Amanah dan apapun namanya, mandat itu diberikan atas dasar rasa saling percaya, bukan rasa saling curiga.

Yuk, kita simak kisah prasangka yang ciamik ini:

Seorang eksekutif muda, naik kereta ekonomi Non AC Jakarta-Bogor. Tentu, beda jauh dengan suasana kereta AC yang sering dia naiki. Agak panas. Dan saling berdempetan. Banyak yang berdiri. Sambil jaga keseimbangan badan seiring laju gerbong kereta yang kadang berguncang.

Si eksekutif muda hanya penumpang kereta seperti lainnya. Sesak-sesakan. Walau pakaiannya jas casual. Keringat pun menetes di tubuhnya. Lalu, ia membuka Tablet Android-nya, 8 inci. Lebih besar, dibanding HP umumnya. Ia memang sedang ada chat penting. Chat tentang dana untuk menggalang bantuan untuk orang-orang korban banjir.

Prasangka mulai muncul dari penumpang lain. Semuanya menoleh ke si eksekutif muda. Batin mereka berkata:

Di dekat pintu, ada seorang pemuda lusuh membatin,

Huh, pamer dia dengan barangnya. Sudah tahu di kereta Ekonomi.

Seorang pedagang menoleh,

Mentang-mentang sekali HP nya seperti itu dipamerkan. Sudah tahu di kereta Ekonomi.

Seorang nenek juga melirik,

Orang muda sekarang, kaya dikit aja langsung pamer. Naik kereta Ekonomi, pamer-pameran.

Seorang ibu membatin,

Mudah-mudahan suami saya ga senorak dia. Norak di kereta Ekonomi bukanlah hal terpuji.

Seorang gadis ABG menatap,

Keren sih keren, tapi gak banget deh sama gayanya. Kenapa gak naik kereta AC saja kalau mau pamer begituan?’

Seorang pengusaha membatin,

‘Sepertinya dia baru kenal ‘kaya’. Atau dapat warisan. Hhh…andai dia merasakan jerih pahit saya jadi pengusaha, barang tentu saya tidak akan pamer barang itu di kereta Ekonomi. Kenapa tidak naik AC saja sih?’

Seorang ustadz kampung melirik,

Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu. Urusan pamer, naiklah ke kereta AC.

Seorang pelajar SMA membatin,

Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalee’ ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC. Kalo gitu kan, lo bisa pamer abis. Di sono mah comfort gila. Ill feel gue jadinya.

Seorang tentara menoleh,

Nyali kecil, pamer gede-gedean. Dikira punya saya tak segede itu. Kalau mau belagak pamer, pamer sekalian di kereta AC.

Seorang penumpang sakit membatin,

Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil. Padahal kereta untuk orang semacam ini adalah kereta AC, bukan kereta ekonomi yang isinya rakyat kecil.

Seorang mahasiswa juga beranggapan,

Gue ga tega orang begini idup. Gue agak heran, ni orang nyawanya berape. Belagu amaat! Pengen banget gue usir biar die naik kereta AC aja.

Si eksekutif muda tersenyum. Ia sama sekali tak tahu batin penumpang di dekatnya. Lalu, ia menyimpan Tabletnya di tas. Lagi-lagi, ia tersenyum dan bersyukur dalam hati. Sambil membatin,

Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya para donatur bersedia membantu semua semua korban banjir. Alhamdulillah, Ini kabar baik sekali.

Lalu, ia sempatkan melihat kantong bajunya. Secarik tiket kereta Ekonomi di dalamnya. Ia bergumam,

Alhamdulillah, tadi sempat tukeran karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu. Mudah-mudahan selamat.

Bagaimana batin kita membaca kisah di atas? Pikir dan renungkan saja sudah cukup kok …

Sahabat, segudang rencana, segudang prasangka.

Hanya satu cara, bersamaan dengan rencana yang sudah kita susun maka singkirkan prasangka buruknya. Rencana yang berhasil adalah rencana tanpa prasangka. Musuh besar rencana itu prasangka buruk. Lawannya cuma prasangka baik. Pikiran yang selalu positif.

Dalam pergaulan sehari-hari, berbaik sangka menjadi sangat penting. Rencana pribadi, rencana bersama hanya bisa terjadi karena persangkaan yang baik. Ajaran agama juga bilang begitu kok. Dan ketahuilah, rencana yang tanpa prasangka juga penting. Karena, tujuan yang berjalan sukses dan menyenangkan tanpa rencana itu sungguh jarang terjadi.

Kita adalah RAJA dari pikiran kita sendiri. Berpikir positif lebih baik daripada berpikir negatif. Dan raja yang baik harus mampu memilih respon positif, meski di tengah lingkungan paling buruk sekalipun. Karena kita, tidak diciptakan untuk menjadi kalah, tapi ditugaskan untuk memberikan kemenangan.

Ketahuilah, "Know before judging, because that looks beautiful is not always beautiful, and that looks bad is not always bad." – Kenali terlebih dahulu sebelum menilai, karena yang tampak indah tak selalu indah dan yang tampak buruk tak selalu buruk.

Gak usah lagi bikin berantem Rencana vs Prasangka, stop dan akhiri mulai sekarang.

#BelajarDariOrangGoblok