Pulanglah…

Ada uluran tangan kecil yang terbuka lebar menanti dekapan hangat juga kecupan kasih sayang yang mengemetarkan hati.

Untukmu, Papa yang selalu kujadikan acuan suksesku.

Lihatlah, seberapa gigih aku meneruskan hidup demi sepenggal nafas tanpamu. Tenggoklah, ada aku yang terus berlari mengejar jejakmu yang semakin hari semakin samar.

Setapak demi setapak kukumpulkan keping-keping impian, mengejar ambisi tanpa memikirkan resiko malapetaka yang setiap detik bisa saja mampir tanpa permisi. Kuteruskan ego demi me-wujud-nyatakan impian utamaku membuatmu berpaling sejenak melihatku lalu berkata : "Lihatlah, itulah anak perempuanku yang tangkas sepertiku!".

Advertisement

Lalu, jejakmu mulai samar aku mulai kehilangan arah menujumu.

Saat malam semakin larut, diam-diam kutemui Tuhan lalu kuadukan semua keluh kesahku tentang bagaimana rasa cintaku mengalahkan benci yang tanpa sadar tumbuh perlahan, tentang bagaimana rasa rindu terus menjerit meminta pertemuan, tentang bagaimana sesaknya merindukan figur seseorang sepertimu.

Aku mulai berceloteh, intonasi suaraku mulai terdengar seperti orasi pendemo yang biasa nongkrong di depan kantor pejabat. Nafasku mulai tersenggal karena emosi, air mata pun tak dapat lagi kutahan, mereka berebut menyeruak tumpah begitu saja. Aku berada di ujung persimpangan jalan, meminta Tuhan campur tangan dalam pilihan jalan yang kuambil untuk mengikuti jejakmu.

Karenamulah, Kuberusaha berlapang dada melupakan masa muda seperti gadis lain pada umumnya.

Hatiku terkadang berdesir perih saat melihat gadis muda lain bisa menyunggingkan senyum tanpa beban dan tertawa lepas tanpa masalah. Sementara aku harus rela menelan ludah demi mewujudkan mimpi untuk menjadi gadis muda seperti mereka, tertawa lepas. Receh demi receh kukumpulkan tanpa ada sedikitpun kulewatkan. Aku harus bisa meneruskan mimpi meninggalkan masa muda yang kuidamkan demi membuatmu kembali lalu tersenyum bangga melihatku nanti. Pikirku, "Kelak sukseskulah yang membuatmu mengerti".

Aku juga rapuh tak seperti nampaknya. Aku juga tetap butuh figurmu. Lalu, Mengapa?

Tak kau perhatikankah? Ada lebam juga goresan luka pada kakiku karena terus saja mengejarmu. Lalu mengapa kamu malah tak mau datang mengobati lukaku? Sudahlah. Kita tidak lagi berperang lalu kenapa kita seperti musuh lama yang sama sekali tak ingin gencatan senjata usai? Akhirnya, lelaki yang datang padaku tak satupun kupercaya akan tinggal. Mereka bisa saja melangkah pergi sewaktu-waktu sepertimu.

Aku mulai takut membangun komitmen, takut lelaki yang kujumpai sama saja denganmu kelak. Pergi meninggalkanku. Takut mencintai dan mengandalkan mereka. Karena sewaktu mereka pergi sama sepertimu, duniaku yang telah kutata kembali hancur porak-poranda. Tak ada satupun lelaki yang kutemui mampu membuatku yakin kelak dia akan menjadikan duniaku berbalut semesta bahagia menciptakan galaksi kenyamanan yang membuatku aman menetap disana.

Kini hatiku membeku karena merindukanmu.

Dengarlah, hatiku berlomba menjerit lantang menyuarakan betapa rindunya akan figurmu semakin memuncak. Remah-remah patahan hatiku mulai kususun sedemikian rupa agar tak terasa kosong.

Aku merindukanmu, Papa.

Dariku,

Gadis yang selalu iri melihat kedekatan gadis lain dengan Papanya.