Dewasa mungkin tidak bisa diukur dengan umur, dan aku pun masih terus belajar untuk menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.
Masalahmu mungkin terlalu berat untuk diceritakan, namun bukan berarti kau harus mengurung diri sendiri, lihatlah betapa banyak orang diluar sana yang menunggumu untuk keluar dari ruang pengap itu.
Tak bisakah kau hibur dirimu sendiri, tubuhmu juga butuh hiburan.
Kita memang berbeda, masalah di tiap-tiap kita juga berbeda. Namun bukan itu yang akan memisahkan kita.
Aku bukanlah motivator, bukan pula psikologi, apalagi Tuhan yang bisa menyelesaikan masalahmu. Namun aku, dia, kami adalah temanmu, teman yang tumbuh di sekitarmu, yang selalu ada untukmu.
Keluarlah teman, kami merindukan senyummu.
Kadang aku marah pada diri sendiri, marah karena tidak bisa menyelesaikan masalahmu, sehingga kadang marahku tanpa sengaja keluar dan kau lah tujuannya.
Kadang aku kesal denganmu sehingga malas untuk berkomunikasi denganmu, namun saat itu pula aku medoakanmu, aku meminta pada Tuhan agar kembali mengukir senyum tulus tanpa beban di bibirmu.
Kadang aku "baper" itu semua aku lakukan karena mencari perhatianmu, agar kau berani keluar dan melupakan sejenak masalahmu yang berkilo-kilo menumpuk itu. Lalu terseyum kembali…