Mengapa Tuhan menciptakan diriku lebih dahulu daripada kamu? Mengapa Tuhan juga menakdirkan kita memiliki perbedaan dalam keyakinan kita? Dan mengapa Tuhan merancang ini semua untukku, dengan keadaanmu yang sedang bersamanya?

Kadang terheran, mengapa semuanya ini terjadi kepadaku. Tuhan memberikan diriku kesempatan untuk bisa merasakan kebahagiaan bersama orang-orang yang membuatku kembali memiliki semangat untuk hidup kembali. Karena sempat sebelumnya terbaring lemah akibat penyakit yang mungkin membuatku menyerah begitu saja. Tetapi Tuhan memberikan ku waktu untuk ku bisa bertemu mereka yang membuatku tersenyum kembali, membuatku hidup kembali. Namun saat itu juga ku sadar bahwa kebahagiaan itu tidak dapat ku miliki seutuhnya.

Di tempat itu, aku bertemu orang-orang yang dapat dengan mudah memberikan keceriaan setiap hariku. Dan saat itu aku bertemu kembali denganmu, dalam kondisiku yang memang membutuhkan alasan untuk terus bersemangat hidup. Kamu, kamu, dan kamu.

Kamu yang pertama:

Kamu yang ku kira pendiam. Kamu yang Tuhan pertemukan denganku dengan cara tidak sengaja berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Yah kamu yg sedari awal tak pernah ku kira akan menarik perhatianku. Kamu yang makin lama makin membuatku penasaran dengan dirimu. Kamu yang selalu mengabaikan semua pesanku. Kamu yang sebenarnya menginginkan berbicara lama denganku, tetapi tidak mau mengakuinya. Kamu yang memberikanku motivasi untuk terus memperdalam bahasa Inggrisku.

Advertisement

Kamu yang bahkan lebih memilih bahasa Jerman sebagai bahasa yang lebih mudah untuk dipelajari. Kamu yang selalu ingin ku ajak ngobrol tiap bertemu, tapi kamu selalu sibuk dengan laptopmu, dan ya aku yang selalu sibuk dengan komputerku (jadi kita impas). Kamu yang selalu ku tunggu-tunggu untuk berbicara lebih dulu kepadaku, seraya ku selalu bersiap-siap untuk menjawab apapun yang kau tanyakan. Kamu yang sampai sekarang ku tunggu kehadirannya. Kamu yang akhirnya lebih dulu mengirimkan sms untukku yang berisi menanyakan bagaimana kabarku. Kamu yang mengucapkan "terimakasih untuk segalanya" kepadaku.

Dan kamu yang ketika ku bertanya terima kasih untuk apa, kamu tidak merespon lagi. Dasar kamu! Kamu yang akhirnya untuk pertama kali ku telpon, dengan alasan mengingatkan sesuatu, padahal alasan utama adalah ingin mendengar suaramu karena ku merindukanmu. Haha. Dan kamu yang hanya dengan melihat fotomu saja dapat membuatku tersenyum tak berkesudahan. Sama seperti yang kamu katakan kepadaku "terima kasih untuk segalanya", akupun berterima kasih kepadamu karena kamu sudah hadir di hidupku dengan kemisteriusan dirimu yang malahan membuatku makin tertantang untuk mengetahuinya. Kamu yang memiliki mata dan senyum yang selalu ku tunggu di setiap hariku.

Kamu yang kedua:

Kamu yang berbeda 180 derajat dari yang pertama. Kamu yang selalu berbicara tidak berkesudahan. Kamu yang selalu memujiku dengan kata-kata manismu yang sebenarnya membuatku mual untuk mendengarnya. Tapi entah mengapa aku selalu menunggumu untuk mengatakan itu lagi, walaupun itu akan membuatku mual kembali. Haha. Kamu yang selalu dengan mudahnya mengungkapkan perasaanmu kepadaku. Kamu yang dengan senang hati menghabiskan waktu dengan berada di dekatku padahal waktu itu seharusnya kau habiskan untuk berada di kelasmu.

Kamu yang bisa membantuku di saat ku kehabisan cara untuk menyelesaikan urusanku. Kamu yang ternyata memperhatikan setiap tindakanku, yang sebenarnya itu membuatku takut. Haha. Kamu orang yang selalu jujur dengan kondisimu. Kamu yang masih penasaran dengan alasanku kenapa tidak menerimamu. Haha. Kamu yang ku kira masih terus berusaha untuk tetap berada di dekatku..

Kamu yang ketiga:

Kamu ini adalah orang yang selalu bisa membuatku tertawa setiap kita bertemu. Apapun yang kita bicarakan pasti akan selalu bisa kita tertawakan, padahal hal itu adalah hal yg paling menyedihkan sekalipun. Tapi entah kenapa selalu bisa kita tertawakan bersama. Kamu yang sebenarnya dari dulu sudah sering membuatku tersipu dengan candaanmu. Entah itu kenyataan atau hanya candaan. Sampai akhirnya kamu bingung sendiri dengan kelakuan kita berdua yang seperti sungguhan tetapi lewat bercandaan.

Dan akhirnya ku mengatakan padamu "kalo di balik becanda itu ada serius yang tersirat". Walaupun begitu, itu selalu membuatku senang dan tertawa. Dan sekarang ini kamu yang makin lama makin terasa dekat. Kamu yang bisa dengan mudahnya membuatku menunggu sampai malam hanya karena ingin makan bersama. Kamu yang bisa dengan mudahnya membuatku bercerita tentang kemalanganku. Kamu yang bisa dengan mudahnya membuatku ingin terus bersamamu. Kamu yang akhirnya untuk pertama kali kuhubungi lewat telepon, dan kau mengira bahwa aku merindukanmu.

Haha. Ya sama seperti kamu yang pertama, memang akupun merindukanmu. Kamu yang sebenarnya sudah memiliki seseorang di hatimu, tetapi tidak pernah mau mengakuinya. Kamu yang dengan beraninya bertanya apakah aku menyayangimu, tetapi yang ku lakukan hanyalah menjawabmu dengan emoticon cengiran karena aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya. Kamu yang akhirnya ku yakinkan untuk terus setia kepada seseorang yang sudah ada di hatimu sebelumnya.

Kamu, kamu, dan kamu.

Sayang sekali, semua itu hanyalah akan menjadi kenangan indah untukku, karena kita berbeda.

Ya, kita berbeda. Dari segi manapun. Perbedaan yang sangat prinsipil. Yang tidak bisa diakal-akali.

Tetapi entah mengapa, semua perbedaan yang kita miliki malah membuatku ingin terus bersamamu..

Seperti kamu yang ketiga pernah mengatakan "Andaikan tidak ada perbedaan di antara kita mungkin aku bisa mengerti maksudmu". Oh God, my hearteu…. I can't…. I just can't…. *Right in the kokoro*