Hari demi hari berjalan teramat pelan, seakan enggan untuk beranjak dari kesedihan yang ingin kutinggalkan. Keputusanmu untuk menjauh begitu saja tanpa sepatah kata rasanya begitu sulit kuterima. Bagaikan hujan tanpa melalui proses awan mendung, tiba tiba turun begitu derasnya. Mungkin hatiku belum siap menerima kenyataan ini.

Kau yang datang dalam hidupku tanpa sengaja, namun sangat merubah hidupku. Hari hariku yang seakan berhiaskan pelangi sejak kehadiranmu. Iya, kamu yang hingga saat ini menguasai seluruh ruang dalam hatiku. Bahkan segala hal yang aku lihat, aku dengar dan aku rasakan, semuanya mengingatkanku padamu. Saat berjalan di pusat perbelanjaan, melihat sebuah kemeja, entah kenapa mengingatkanku padamu. Saat minum kopi di café, teringat betapa kamu juga penggemar kopi sejati. Melihat seekor kucing di jalan, tiba tiba aku teringat, kamu penyayang kucing nomor satu. Mendengarkan sebuah lagu galau, seakan menyindirku, “hei kamu yang sedang baper, lagu ini pas banget buat kamu..”

Teringat juga kita punya selera musik yang sama. Mengagumi penyanyi yang sama, yang semua lagunya seakan menjadi theme song kita. Bagaimana aku gak baper saat tanpa sengaja mendengar lagu itu? Bahkan saat aku sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan, bayanganmu tak bisa lepas dari mataku. Teringat saat dimana aku sibuk membalas chatmu di sela sela pekerjaanku. Aku rindu suara khas messengerku di sela sela kesibukanku..Aku rindu tawa khasmu saat kita membahas hal-hal yang lucu.

Meski hingga kini aku tak tahu apa yang membuatmu pergi meninggalkanku, yang mungkin sesungguhnya aku butuh penjelasan untuk itu. Namun seiring berjalannya waktu, aku harus belajar ikhlas, untuk menerima kenyataan ini. Meski hatiku masih bertanya “apa salahku?”

Aku lelah mengejarmu dengan pertanyaan itu. Jika kamu tak mau menjawabnya dengan sepatah katapun, akupun akan berhenti bertanya lagi. Biar waktu yang kelak menjawab. Yang pasti, saat ini, aku sedang belajar mengikhlaskanmu. Toh, kamu bukan milikku seutuhnya. Kamu, mahkluk Tuhan yang dititipkan ke dunia. Yang mungkin kemarin sempat singgah di hatiku. Akupun tak tahu bagaimana Tuhan menggariskan hidupku, apakah kelak kamu takdirku?

Advertisement

Yang aku tahu saat ini aku sedang belajar melupakanmu. Jika itu bisa membuatmu nyaman, akan aku lakukan. Meski untuk melupakanmu tak semudah membalikkan telapak tangan, karena rasa sayang itu masih ada hingga kini, tak berubah sedikitpun. Meski aku orang yang paling tidak setuju dengan kata kata bijak nan klise “mencintai tak harus memiliki”, namun harapanku, doaku, kamu bahagia. Entah denganku, atau dengan yang lain. Karena masa depan cuma Tuhan yang tahu.