Tuhan selalu mengiringi takdir dalam setiap langkah hidupku. Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengannya. Sebulan sebelum ramadhan 2015 yang lalu. Beberapa kali pertemuan itu, mengusik getaran hati dan jiwaku untuk mengenalnya. Tak perlu waktu yang lama untuk tahu siapa dirinya. Meski dengan penuh basa basi kulakukan untuk menarik perhatian itu. Lalu perkenalan kita pun terjadi

Setiap detik, menit, dan jam, aku rela berbagi waktu meski itu untuk sekedar berbagi sapa dengannya. Aku mulai merasakan gejolak yang lain dari biasanya. Ya, bagi beberapa orang mungkin menyebutnya dengan "cinta". Aku jatuh cinta padanya. Bak gayung bersambut, ia menerimaku. Sungguh itu adalah sesuatu yang luar biasa yang tak pernah kuduga sebelumnya.

Di hari Idul Fitri yang bersahaja, aku memberanikan diri bertamu kerumah orang tuanya. Aku berharap agar mereka tahu bahwa akulah sosok lelaki yang ada bersamanya, menemaninya ketika ia di luar rumah. Kulihat saat itu orang tuanya memberikan sinyal positif tentang hubungan kami. Lalu aku berjanji untuk setia dengannya. Aku pun mulai berpikir untuk melamarnya tahun depan, InsyaAllah.

Mulailah ia kuperkenalkan pada keluargaku, sahabat-sahabatku, dan teman-temanku. Keluarga pun merespon hasil jerih payahku dengan sangat baik. Pertemuan yang singkat itu, membuatku betul-betul amat sayang padanya. Aku pun tak percaya jika rasa ini sungguh besar. Jauh di dalam hatiku, terpatri namanya dengan indah. Kuharap, ia adalah satu-satunya wanita yang ingin kusanding di pelaminan kelak.

Namun, kebahagiaanku tak berlangsung lama. Hanya dua minggu setelah pertemuan istimewa itu, kiamat kecil pun terjadi. Orang tuanya tiba-tiba membuyarkan impianku padanya. Mereka meminta agar ia tak lagi jalan denganku. Entah karena apa. Yang kutahu, seorang lelaki ingin diperkenalkan padanya. Aku sungguh sakit hati. Akulah orang yang pertama, selayaknya aku diberikan pertimbangan. Bukan memutuskan secara sepihak.

Advertisement

Sungguh aku sakit hati yang sangat dalam. Namun kucoba untuk bertahan dengannya, dengan rasa cinta yang masih begitu besar padanya. Meski berkali-kali ia meminta kebijaksanaan orang tuanya untukku, namun mereka tetap keras dalam keputusannya. Tinggallah aku meratapi apa yang terjadi padaku. Sungguh ini tak adil. Tetapi yang Maha Adil tahu yang kurasakan. Hingga saat ini, aku masih larut dalam doa. Berharap keajaiban akan datang padaku.