Ada orang-orang yang percaya, bahwa berlari adalah salah satu hal terlelah di hidup ini. Ada orang-orang yang percaya, bahwa mengejar adalah salah satu hal terlelah di hidup ini. Dan ada orang-orang yang percaya, bahwa menunggu adalah salah satu hal terlelah di hidup ini. Lalu aku, adalah salah satu orang yang percaya akan hal yang ketiga tersebut.

Tapi aku tidak menelannya bulat-bulat. Aku bukan manusia irasional. Aku lebih suka berakal. Bagiku, menunggu itu memang melelahkan, tapi kenyataan itu tidak sepenuhnya benar. Mengapa? Karena aku menunggui orang yang memang kucintai, kamu.

Salah satu bentuk cinta adalah menunggu. Dan salah satu bentuk kesakitan dari cinta adalah, menunggui orang yang tidak mencintai kita, dalam hal ini aku. Tapi, salah satu bentuk kebahagian dari cinta adalah, menunggui orang yang memang benar-benar dicintai. Kedua kaki cintaku berada pada dua bagian tersebut. Satu kaki menjejakan pada bagian kesakitan, dan kaki lain berpijak di kebahagian.

Sering kali aku dicap sebagai manusia terbodoh. Tak jarang aku dikatai manusia tanpa otak. Bahkan kuping ini selalu mendengar perkataan, “mau sampai kapan lagi kamu menunggu dia?”. Aku menganggap, berbagai suara-suara tersebut layaknya air hujan yang turun dari langit. Meski begitu banyak air yang langit curahkan, tapi tak pernah sekalipun tanah dengki pada hujan. Justru tanah selalu menyerap tiap-tiap air yang turun, lalu seolah seperti bersembunyi di dalam tanah. Begitulah aku, meski banyak yang menyuruhku untuk pergi dari ruang penantian, tapi tetap saja hatiku selalu berkata, “aku masih mencintainya.”

Aku tahu bukan aku yang kamu cintai. Aku yakin bukan aku pula orang yang kamu impi-impikan sedari dulu. Dan aku percaya, bukan aku lah yang menjadi prioritasmu untuk saling betukar pesan. Tapi aku tahu, aku yakin, dan aku percaya, sekalipun cinta tidak berbalas, maka ia tetaplah cinta. Karena esensi cinta bukan soal memiliki satu sama lain, tapi membahagiakan satu sama lain.

Advertisement

Di sini, di ruang penantian tanpa kamu pernah tahu di mana aku berada, aku tetap merawat cinta ini. Menjaganya tetap hidup, selayaknya tanaman kecil yang selalu punya harapan untuk bisa tumbuh menjulang ke atas. Meski itu membutuhkan waktu yang lama, tapi aku tetap memupuknya. Sebab yang betul-betul mencintai, tidak akan memiliki satu alasan untuk menghentikan cinta tersebut.

Sembari aku melakukan penantian untukmu, di tiap hari-hariku, aku akan jadi manusia dengan senyum teramah kepadamu. Bukan maksudku untuk menjadikanmu mencintaiku, yang jelas-jelas kamu mencintai orang lain. Tapi lebih kepada caraku untuk menutup segudang rasa sakit yang menggumpal di hati. Aku akan tampil selayaknya orang yang sedang berbahagia di depan kamu, semoga saja kamu akan bahagia. Karena tujuanku melakukan itu, agar kamu tidak kecewa. Biarlah aku yang menanggung kecewa, kamu sebaiknya ketawa. Karena tertawamu, adalah caraku jatuh cinta padamu.

Aku tidak tahu, apakah satu bulan yang akan datang, atau satu tahun yang akan tiba, aku masih jatuh cinta kepadamu. Yang aku tahu, tiap detik aku jatuh cinta padamu. Meski kutahu, tiap detikku tidak pernah berharga bagimu. Sebab mungkin, untuk apa melihat tiap detikku, kalau orang yang kamu cintai bisa membuatmu jatuh cinta tanpa mengenal waktu. Namun aku hanya ingin jujur padamu, aku mencintaimu, selayaknya kopi hitam yang begitu jujurnya. Meski hitam dan pahit, tapi kopi tidak pernah mengubah warna dan bentuknya. Ia selalu setia dengan hal itu, sebab mungkin, bagi kopi hitam sebuah kesetiaan lebih baik ketimbang penampilan belaka.