Kau pernah bilang, “Aku bukan pria yang baik untukmu.”

Jika memang kau merasa buruk, kenapa tak berusaha memperbaiki dirimu dan berubah menjadi lebih baik? Aku memang tak banyak menuntutmu menjadi laki-laki yang ada dalam angan setiap perempuan. Tapi kau tahu, itu bukan karena aku menerima saja semua sisi buruk dari dirimu. Aku diam karena rasaku untukmu terlalu dalam. Aku takut kau memilih pergi jika aku membuatmu terusik dengan tuntutanku agar kau berubah.

Aku bertahan seraya berharap kau sadar dengan sendirinya dan berubah atas kehendak hatimu sendiri. Aku hanya tak ingin memberatimu. Kubiarkan diriku sendiri berat menahan semua sifat burukmu.

Kau pernah bilang, “Aku terlalu banyak menyakitimu.”

Jika kau sadar betapa banyak luka yang sudah kutanggung dalam hubungan kita, kenapa tak berusaha mengobatinya dan berhenti menggores luka? Aku memang selalu berkata bahwa aku baik-baik saja. Tapi diam-diam, aku menitikkan air mata dan tak pernah sekali pun aku tersedu di depanmu. Aku menyimpannya sendiri karena aku terlalu menjaga perasaanmu. Kau tahu? Bagiku kesedihan tak berarti apa-apa selama aku dan kau masih menjadi ‘kita’. Dan sejauh itu aku mempertahankanmu, kenapa kau tak juga berusaha—atau setidaknya—meminta maaf? Tapi aku masih baik-baik saja. Aku tak ingin membalas apa-apa. Kubiarkan aku saja menanggung luka sedangkan kau kujaga agar tetap bahagia.

Advertisement

Kau pernah bilang, “Aku tak mampu membahagiakanmu.”

Apa yang kau maksud dengan bahagia? Bagiku, selama kau baik-baik saja, keadaaan itu adalah kebahagiaan. Bagiku, hal-hal kecil yang kita lalui sudah cukup untuk kusebut kebahagiaan. Melihat matamu sebentar saja, bersandar di bahumu sesingkat senja, atau mengamati senyumanmu seulas saja, sudah cukup untuk meramaikan hatiku dengan kata bahagia. Pun meski di hari berikutnya hatiku akan menangis lagi diam-diam karena kau kembali menggores luka, aku masih bisa mengatakan bahwa bersamamu adalah kebahagiaan. Tapi jika aku punya kesempatan memilih, tentu aku memilih diperjuangkan seperti perempuan lainnya. Tapi meski kesempatan itu tak kutemukan padamu. Diam-dam aku masih menyimpan harapan agar kau—sedikit—saja berpikir untuk membahagiakanku.

Aku juga ingin diperlakukan seperti perempuan lainnya, diperjuangkan, diutamakan, dan dijaga perasaannya. Namun, meski belum kutemukan angan itu padamu, pergi dan mencari pria lain bukan keputusan yang ada dalam kepalaku. Bagaimana pun, bertahan adalah satu-satunya yang bisa kulakukan.

Cepat atau lambat, suatu saat kau akan paham, sabarku menghadapimu melebihi debat dan amarah. Bertahan dan selalu menerima sakit melebihi perjuangan dalam bentuk apapaun.