Cukup kurangkah kesetiaanku kepadamu selama ini ? Bahkan tak hanya sekali duakali, bahkan hingga beberapa kali, namun pintu maafku selalu ada untukmu . Taukah kau setiap hari aku selalu menunggu teleponemu, menunggu smsmu, menunggu kabar darimu walau hanya sekali, tapi sesibuk apakah dirimu hingga memberiku kabarpun tak bisa kau lakukan .

"Aku banyak urusan dikampus"

Aku mungkin bukan anak kuliahan , tapi apakah anak kuliahan itu bahkan tak ada waktu istirahat barangkali untuk makan atau ke kamar mandi sehingga waktu mengabarikupun tak bisa kau lakukan ? Taukah kau bahwa aku mengkhawatirkanmu, sudahkah kau makan ? Sudahkah kau beribadah ? Sudahkah kau beristirahat ? Ah mungkin kau tak merasakan apa yang aku rasakan .

"Aku lelah sayang, bisa ambilkan aku makanan dan minuman? "

Kau selalu datang kepadaku disaat kau lelah, disaat kau mencariku dan membutuhkanku, tapi kemana kau disaat kau bersenang-senang ? Dimanakah kau saat kau sedang santai ? Terkadang aku juga merindukan waktu dimana aku dan kamu bisa bercumbu, bercerita, berkeluh kesah, tertawa bersama, bermain bersama seperti pada saat kita pertama kali merajut kasih dahulu . Bukan aku tak mau melayanimu dikala kau sedang merasa lelah, hanya ingin sedikit meminta keadilan padamu .

Advertisement

"Besok jadi pergi kan ?"

Seketika senyumku menjadi kelu ketika aku tak sengaja membuka ponselmu dan menemukan ada sms dari seorang perempuan, siapa lagi kali ini ? Sudah sering aku menemukan sms yang mesra yang muncul di ponselmu, untuk menemaniku saja kau selalu mencari alasan, tetapi kau malah mengajak orang lain pergi seenak hatimu sendiri. Taukah kau betapa aku terluka dengan segala sikapmu yang merendahkanku seperti itu ?

"Hanya teman kampus, dia perempuan. tapi percayalah dia hanya teman dan aku hanya mencintaimu "

Ah … bodohnya aku ! Hanya setiap hari selalu makan makanan manis dari mulutnya yang tak pernah aku ketahui kebenarannya . Kenapa aku begitu tunduk kepadanya sementara hatiku sendiri mengalami sayatan yang begitu hebat .

Ini hati sayang, bukan tempatmu berhenti dikala kau sedang sedih saja, bukan stasiun kereta yang setelah menurunkan penumpang kau pergi dan berpindah ke stasiun lainnya . Sayatlah aku dengan pisaumu sedalam-dalamnya hingga aku tak bisa merasakan sakitnya lagi, daripada kau harus menyiksaku dengan sikapmu yang tak pernah mengerti perasaanku