Bingung rasanya jika diminta untuk menceritakan kekonyololan dan keisengan mbah kung yang satu ini. Apa saja bisa dijadikan hal untuk mempermainkanku dan membuatku marah namun juga tersenyum setelahnya.

Aku ingat kejadian waktu aku dan adikku masih kecil, tepatnya dulu aku masih duduk di bangku kelas 4 SD dan adikku duduk di bangku TK. Waktu kecil kami tinggal bersama mbah kung dan uti di desa, yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota, kemacetan lalu lintas dan juga orang tua kami. Siang itu jenuh rasanya melihat menu makan siang yang ada dimeja makan, lagi-lagi sayur dan sayur. Aku beranikan diri meminta pada mbah kung untuk mengajak kami kekota untuk sekedar makan siang karna uti paling kesal jika kami sering jajan. Mbah kung setuju untuk membelikan menu makan siang di kota, namun dengan 1 syarat.

Aku menyetujui syaratnya, syaratnya sangat mudah hanya aku diminta menemukan dimana mbah kung bersembunyi. Aku dan adikku memejamkan mata kami kemudian berhitung satu sampai sepuluh setelah hitungan kesepuluh kami mulai mencari pencarian kami. Kami telah mencari di semua sisi rumah namun si mbah tidak ketemu juga. Kami sudah menanyakan keberadaan mbah kung kepada uti namun uti bilang kalau mbah kung keluar. Kami datangi rumah Pak Bambang, siapa tau mbah kung bersembunyi disana.

Saat si mpunya rumah keluar dan kami tanyakan apakah mbah kung ada dirumahnya, namun si mpunya rumah bilang si mbah tidak ada. Kami melanjutkan pencarian hingga lupa waktu dan makan siang. Akhirnya kami menyerah di pukul 5 sore karna lelah dan lapar. Mau tak mau kami memakan hidangan yang ada di meja makan. Tak terasa adzan magrib berkumandang dan si artis yang kami tunggu-tunggu akhirnya pulang juga. Kesal rasanya melihat lelaki tua yang jabatan di keluargaku sebagai kakek itu. Ingin rasanya aku memukul dan memarahinya, namun aku hanya murung dan diam seribu bahasa.

Namun ia tidak kalah akal dari ku, kemudian ia mengajakku bicara. Aku palingkan mukaku darinya layaknya anak jaman sekarang yang sedang kesal dengan sang kekasih yang tidak menepati janji. Akhirnya aku luluh juga, karna ia menjanjikan akan mengajak aku dan adikku ke kota selepas magrib untuk mengajak kami makan malam juga akan membelikan kami sepatu sebagai permohonan maafnya. Diperjalanan si mbah menceritakan dimana tadi ia bersembunyi, dan ia bersembunyi di rumah Pak Bambang, rumah yang tadi aku dan adikku datangi, rumah yang tadi sang pemiliknya mengatakan bahwa si mbah tidak ada dirumahnya. Ternyata si mbah bertamu di rumah Pak Bambang dan memimnta Pak Bambang mengatakan pada kami bahwa ia tidak ada dirumahnya. Namun saking asiknya ngobrol si mbah sampai lupa waktu dan lupa akan janji pada cucunya. Konyol rasanya jika mengingat kelakuan si mbah yang ini namun apapun itu si mbah tetaplah orang yang aku sayangi.

Advertisement

Tepat tahun ini di bulan november ini usianya menginjak 75 tahun, panjang umur yo mbah. Tunggu cucu-cucumu sukses dulu barulah pulang. Berat rasanya jika ia tidak dapat melihatku duduk dikursi kesuksesanku. Aku kini tinggal jauh dari mereka berdua namun hampir tiap hari atau dua hari sekali aku selalu menelponnya hanya untuk sekedar mendengar suara dan kabarnya sekarang, juga sedikit menceritakan aktifitasku kini. Kemarin 3 november 2016 usianya genap 75 tahun namun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya aku selalu pulang sekedar hanya untuk membuatkannya teh manis namun karna kesibukanku, tahun ini aku tidak dapat pulang hanya aku kirimkan sepotong kue ulang tahun untuknya agar ia senang dan dapat mengundang semua anak dan cucunya datang untuk membagikan secuil kebahagian. Sedih rasanya tidak dapat hadir dan hanya bisa melihat beberapa foto dan video yang dikirimkan sepupuku. Namun doaku akan tetap sama mbah, panjang umur dan bahagia karna bahagia itu sederhana.

Bukan mbah kung namanya kalau tidak konyol, aku sedih karna tidak dapat hadir di ulang tahunnya namun hanya bisa mengirimkan kue ulang tahun untuknya. Tapi ia malah menelponku dan mengatakan bahwa kue kirimanku sudah ia terima. Dan mengatakan untuk apa repot-repot memberikan kue sampai sebesar ini dan aku hanya tersenyum dan mengatakan tak apalah mbah dan ku akhiri telepon darinya karna aku masih dijalan untuk menuju kantor, namun sebelum ku akhiri si mbah berkata “besok lagi gak usah kirim kue aja tapi kirim juga yang lain”. Sontak aku kaget mendengar ucapannya, apa coba namanya kalau bukan konyol. Katanya dari awal untuk apa memberikan kue sampai sebesar ini namun di akhir pembicaraan ia meminta lebih.