Lagi-lagi aku terjebak dalam sebuah keadaan yang tak bernama. Bukan salahmu. Hanya aku saja yang terlalu sibuk mencari-cari arti dari semua ini, dan hasilnya? sama saja. Kenapa selalu ada luka ? bahkan dalam keadaan yang tidak bernama. Darimana luka itu datang kadang aku masih berfikir apa,kenapa,kapan, dimana, bagaimana. Dan tentunya objek pertanyaan itu masih sama. KAMU. Serumit itukah keadaan aku dan kamu? Aku rasa bukan hal yang mudah untuk menggambarkan sebuah keadaan kita. Lucu, bahkan aku sudah menganggap keadaan ini dengan sebutan ‘kita’.

Bahkan untuk membayangkannya saja aku tak sanggup. Aku memang terlalu jauh melangkah, harusnya waktu itu aku tetap berada disana. Harusnya aku tidak terlalu biasa dengan ucapan selamat pagi dan selamat tidurmu yang baru kusadari itu adalah sebuah candu. Harusnya aku marah saat kamu mengenalkanku sebagai ‘calon istrimu’ di depan salah seorang temanmu. Bukan malah tersipu dan menganggap itu sebuah langkah yang baru kusadari bahwa itu adalah langkah yang salah.

Di bawah bintang-bintang malam itu, harusnya aku tidak berharap bahwa kamu akan memberi nama pada hubungan kita. Aku tidak harus menyandarkan kepalaku di pundakmu saat kita berada di jembatan panjang waktu itu. Dan harusnya aku tahu, genggaman erat tanganmu tidak hanya untukku dan panggilan ‘sayang’ mu tidak cukup untuk membuatku memilikimu.

Aku terlalu membiarkan waktu membiusku, perlahan dan membuatku tidak sadarkan diri. Berapa kali harus kuakui jarak puluhan kilometer yang kamu tempuh semata-mata karena sebuah kepentingan. Dan kepentingan itu bukan aku.Melainkan hal lain. Satu hal yang masih belum aku mengerti. Kenapa mempertahankan keduanya kalau kamu tahu, kamu bahkan tidak bisa memilih satu di antara mereka. Keadaan dimana kata-kata sudah dianggap tidak berguna, waktu sia-sia, dan rencana cuma omong kosong yang nantinya akan menjadi gas di udara. Lenyap seperti itu, iya kata-kata bisa hilang secepat itu. Lalu perasaan, kenapa sangat sulit untuk dilepaskan ?

Tolong katakan saja kamu tidak lagi membutuhkanku, sesakit itu tapi aku masih bisa mengerti dan pergi. Bukan kata-katamu yang menginginkanku tapi juga membutuhkan dia. Lalu? Apa waktuku yang kuhabiskan denganmu bisa disebut sia-sia? Jangan paksa aku untuk mengutuk dan menyumpah serapah di depanmu.

Advertisement

Aku sudah terlalu rapuh, lelah untuk bersikap seolah-olah semuanya benar dan baik-baik saja.

Katakan saja aku tidak harus memikirkannya, tapi hatiku? Hatiku tidak bisa begitu saja menyangkal bahwa aku tidak sedang baik-baik saja. Kebersamaan kita yang entah aku pun tidak berani mengatakan itu adalah cinta. kamu hanya selalu berkata "aku nyaman bersamamu, jangan pernah pedulikan dia. saat denganmu aku sudah cukup bahagia". Dan baru aku sadari, bahkan sampai seribu kata 'nyaman' dan 'sayang' pun kamu ucapkan kita tak akan pernah saling memiliki. Kita akan terus seperti ini, sedekat nadi tapi tak akan pernah menjadi cinta.