Manusia ditakdirkan untuk menghadapi maslaah setiap hari. Bukan hanya merka yang lajang, menikah, bahkan anak-anak. Tuhan menganugerahi kita semua beragam peliknya masalah hidup. Karena IA ingin kita bekerja keras. Menunjukkan betapa gigih dan seriusnya kita menjalani nikmat hidup yang telah IA berikan.

Menjadikan diri sebagai motivasi paling besar untuk hidup bahagia. Mengerahkan kemampuan paling besar untuk memenuhi apa yang kita butuhkan. Apa yang membuat kita tenang dan nyaman. Itu adalah sunnatullah,

Mendapati hidup bersama dengan ia yang sepenuh hati menjadi pusat perhatian kita pun adalah anugerah dari Tuhan. Setiap orang akan dengan sungguh-sunguh ignin membuat ia yang kita sayangi hidup lebih bahagia dari hari kemarin. Terlebih saat kita menyaksikan sendiri senyum dan rona bahagia dari dirinya. Secara tidak langsung menjadi sumber kekuatan itu semua

Tentu saja parameter kebahagiaan setiap orang berbeda. Bahagia akan lebih indah saat kamu dan aku menyesuaikannya bersama.

Aku sangat sadar, betapa hidup yang kita jalani dulu berbeda. Betapa apa yang bisa kita nikmati berbeda. Betapa apa yang aku sebut bahagia, kamu menyebutnya sebagai biasa saja. Aku sama sekali tidak mengingkari itu semua. Itu ada. Aku tahu.

Memang itu yang dengan izin Tuhan ada dan kita alami bersama. Mengecap dua versi nikmat bahagia yang ebrbeda. Mendapati sumber sunyum yang juga berbeda. Namun, sejak kamu hadir, kamu tanpa sadar telah menjadi sumber senyumku. Bahagiaku begitu sederhana saat ada kamu. Dengan segala kerendahan hati, kekhawatiran logis, dan sejuta rencana kerja, bersediakah kamu bahagia secara sederhana denganku? Menyesuaikan versi bahagia kita berdua.

Sayang, mari nikmati hidup dengan cara yang lebih membumi. Yang menjadikan setiap ulas senyum terasa bermakna. Walau hanya berasal dari sepotong tempe.

Advertisement

Aku yang terbiasa hidup sederhana ini sempat merasa begitu kerdil saat mengenalmu. Aku tidak tahu apa yang mendorongku untuk mengambil kesempatn untuk mengajakmu hidup bersama. Cinta berbalut takir kurasa.

Bagaimana mungkin hidup bahagia tanpa memaksakan diri menyongsong langit? Merengkuh segala nikmat dunia? Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi aku tahu, Dari apa yang aku lihat sepanjang hidupku. Mereka, pasangan-pasangan itu bisa bahagia dengan cara mereka sendiri. Dengan ikhlas menebar senyum paling tulus. Karena makna paling dalam dari sebuah kebahagiaan bukanlah dari apa yang kita punya dan kita tidak punya. Bukan dari apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan.

Ingatkan aku untuk terus bekerja keras. Ingatkan aku untuk selalu bersyukur. Ingatkan aku untuk senantiasa jauh dari takabur.

Demi Tuhan, percayalah, aku akan dengan senang hati memberikan apa saja untuk melihat hidupmu lebih nyaman. Menjadikan seisi rumah kita kelak penuh benda-benda favoritmu. Melihat dan membiarkan anak-anak kita tumbuh dengan nyaman dalam sarana dan fasilitas pendidikan paling baik di muka bumi.

Itu manusiawi.

Aku tahu kamu tidak seharusnya bekerja keras untuk mewujudkan itu semua. Kamu diciptakan Tuhan untuk menjadi perhiasan dunia, menyeimbangkan segala kekeliruan. Tapi, aku ingin kamu ada untuk mendukungku, mengingatkanku untuk bekerja keras sampai mati, menjadi sumber syukur dan pengingat untuk tidak takabur.

Kamu adalah salah satu sumber bahagiaku. Percayalah, untuk selalu membahagiakan kamu adalah hal terbaik dalam hidupku.

Aku memang belum pernah secara langsung mengatakan ini semua kepamu, Dan aku sangat malu atas hal itu. Betapa pengecut dan rendahnya aku. Lengkap sudah semuanya, aku yang dipastikan belum mampu menyediakan hidup lebih layak untukmu ini, bahkan kalah dengan rasa malu dan khawatir berlebihan. Maafkan aku,

Tapi, percayalah, setelah Tuhan dan kedua orangtuaku, kamu adalah sumber bahagiaku, Aku lebih dari bersedia untuk berjuang untuk hidup bahagia bersamamu.

Temani aku menjalani hidup yang sederhana ini. Menyongsong takdir Tuhan. Aku yakin, kelak hidup kita akan lebih bahagia dari pasangan manapun di dunia ini.

Segala fasilitas yang ideal untuk kamu miliki belum bisa aku penuhi. Maaf jika ini terdengar picik dan materialistis. Maaf juga untuk membuatmu menunggu untuk itu semua. Tolong juga kuatkan aku yang tetap istiqamah dalam ikhtiar. Menjadi tetap ramah dan penuh hormat kepada siapapun yang menuntuku untuk lebih dan lebih lebih lagi.

Insya Allah, ini janjiku. Kelak, saat semua kerja keras aku berbuah manis, kita akan bersama membagikan bahagia dengan mereka yang membutuhkan. Kita akan bersama menikmati semua hal yang menjadi impian kita. Kita akan membuat semua pasangan di dunia ini setuju dan mandaulat kita sebagai pasangan paling bahagia yang pernah merke semua kenal.

Apa yang kumiliki saat ini adalah apa yang bisa kita nikmati. Bersabarlah untukku.

Aku tidak menuntut kamu untuk menerimanya. Aku pun tidak ingin kamu mengerti atasnya. Namun, aku mau kamu selalu menjadi penguatku. Menyongsong hari depan dengan harpaan dan ibadah. Membangun keluarga dengan jerih payah dan saling hormat. Menyemai perasaan cinta dengan ikhlas. Itu adalah doaku. Dan aku tahu, kamu tahu itu.