Jika kau berkenan membuka gerbang hatiku lebar-lebar, lihatlah! Di sana masih ada bayangmu yang senantiasa tersenyum dan menghantui. Baru kali ini ku beranikan diri menyapamu kembali setelah sekian waktu aku mengasingkan diri, tahukah engkau apa yang tengah ku fikirkan sejak saat itu? Tahukah kau bagaimana perasaan tarik ulur yang terus meremuk perasaanku?

Aku masih berfikir panjang, tentang keadaan dan posisi ini. Aku masih mempertanyakan diri, siapakah aku ini, hingga berniat memilikinya?

dalam keadaan yang tak kunjung reda, sekali lagi aku masih belum mampu meraih sekaligus membuangmu dari fikiran. Kecuali komunikasi yang tak pernah lagi ku layangkan, karena kaupun dengan kehormatanmu takkan menghubungiku terlebih dahulu.

Siapalah diri ini yang mengharapkan peristiwa langka itu, kecuali jika aku yang menyapa terlebih dahulu dan kaupun pasti membalasnya dengan santun, entah karena kau memang menghargai perasaanku atau kau hanya menghargaiku sebagai teman.

Saat ini aku terusik, begitu terusik hingga membuatku gelisah tak menentu, entah angin apa yang menggerakkan tanganku untuk menyebut namamu di layar handphoneku, mungkin aku hanya ingin meredam kegundahan hati yang rasanya tak kuat lagi.

Advertisement

Dan kini aku sudah mengerti, apa penyebab kode perasaan ini begitu merongrong diri, aku tak ingin mengatakannya, karena hal itu hanya akan membuatku terlihat begitu menyedihkan, sekaligus menyadarkanku atas penyesalan yang tak lagi berarti.

Entah apa yang harus aku katakan, maaf ataukah terima kasih. Aku hanya bisa mendoakannya, semoga ia bahagia bersama calon imam yang akan menuju pelaminan bersamanya.

Aku tak perlu menyesali, seharusnya aku tak perlu merasakan sesak ini, aku tahu ini hanya sesaat, mungkin dia memang bukan untukku. Seseorang yang begitu lama terpatri namun tak jua ku hampiri. Mungkin di suatu masa, entah kapan, aku akan memulai kembali dan lebih memberanikan diri.