Salam sayang kepada priaku, yang dalam diam ku rindukan kamu dari jauh.

Masih ingatkah kau; dulu aku pernah berkata bahwa melihatmu bahagia, ku temukan bahagiaku di sana?

Ah, namun sepertinya aku lupa, bahwa kau yang seharusnya ku ingat sebagai kisah lama, entah kenapa perihal tentangmu masih terus menerus bertandang, berputar di kepala?

Kau juga menjadi yang paling paham bukan, bahwa mencintai selain dirimu bukanlah keahlianku. Tapi, kau sendiri yang dengan sengaja mendorongku jauh dari sisimu.

Sebab bahagia yang berlebihan punya harganya sendiri, barangkali dengan merelakan kepergianmu baru bisa ku lunasi.

Advertisement

Perhatianmu yang sementara, yang ku kira cinta, membekas terlalu nyata. Barangkali dari awal kita tak seharusnya bertemu agar tak ada rasa yang saling bertamu.

Atau barangkali, memang kau yang enggan menaruh peduli, sedang aku yang dengan mudah memberimu hati? Barangkali khayalku tentangmu yang terlalu malas menginjak bumi, ia terbang terlalu tinggi? Atau barangkali aku yang terlalu lama berharap di antara serangkaian barangkali, hingga tanpa ku sadari bahwa kau telah terculik pergi…

Nyatanya aku masih wanita yang berusaha keras melupakanmu, meski dengan cara yang nyaris tak pernah ku temukan

Paling tidak, semesta seharusnya memberiku isyarat bahwa bahagia bersamamu kelak hanya bertahan sesaat. Atau seharusnya kau mengajariku cara agar kelak aku bisa melupakanmu dengan cepat.

Terkadang, aku bertanya kepada semesta, jika akhirnya aku dan kau tak bisa bersama, kenapa ada rasa yang hadir dengan tiba-tiba? Padahal semesta semestinya menjadi yang paling tahu, bahwa kelak jika perasaan ini bukan sekedar berdiam sementara, jelas akan ada salah satu yang paling terluka.

Ya. Barangkali seperti itu resiko jatuh cinta. Meski sudah berhati-hati, akan selalu ada pihak yang tersakiti.

Sementara mendoakanmu adalah puncak rindu yang paling tinggi, saat ingatan tentangmu kerap bertandang di tengah sunyi .

Dari hati yang terdalam, maafkan aku yang masih saja merindukanmu, meski dalam diam. Dalam hujan perasaan yang jarang sekali melegakan, ku letakkan namamu di sana, satu-satunya tanpa urutan. Sebab, bukan perkara mudah merelakanmu begitu saja. Kau menjadi yang ku sayangi sebegitunya, yang tak pernah bosan ku sebut dalam doa; namun memilih pergi tanpa aba-aba.

Kelak, jika akhirnya takdir tak berpihak kepada kita. Cukup kau ingat saja, bahwa pernah ada satu nama yang berharap menetap di hatimu lebih lama; yang merindukanmu tanpa jeda.

Namun terusir pergi, sebab bahagia yang ditawarkan tak kunjung kau amini.