Kepada,

Seseorang yang namanya mengabadi dalam ingatan

Halo, selamat malam. Atau hai, apa kabar? Ah maaf, aku sedikit canggung. Melihat kita yang sudah lama tak bertegur sapa. Surat ini aku tulis bukan untuk mengungkit tentang kita sungguh. Surat ini hanya coretan tak penting yang aku buat ketika aku tak sengaja mendengar namamu disebut.

Faktanya, mendengar lagu yang menyangkut tentangmu, mendengar namamu yang tanpa sengaja terdengar atau bahkan melewati tempat yang pernah kita kunjungi bersama, masih mampu membuat ingatan tentangmu terputar. Bagai kaset rusak yang terus-terusan memutar lagu yang sama.

Tidaklah kau heran mengapa namamu masih begitu lekat dalam ingatanku? Dan Tuan, apa yang kau tahu perihal tentang semestaku? Iya benar, seperti yang kau tahu, aku adalah manusia pelupa. Tapi, entah mengapa tentangmu aku tak pernah lupa.

Advertisement

Jika saja aku adalah tempatmu pulang maka tak ada tempat lain yang membuatmu singgah. Jika kita adalah yang kau harapkan maka tak ada lelah yang mengintai. Dan jika kita yang masih ingin kau lihat… Ah sudahlah, aku tak seharusnya membahas tentang kita kan?

Aku bukannya lelah atau jengah. Hanya saja, aku tidak ingin menjadi manusia pemaksa. Yang memaksa takdir Tuhan. Jalan ceritanya memang hanya cukup sampai disini, selesai tak ada lagi kata bersambung seperti film-film drama. Anggap saja cerita kita adalah film yang sekali habis. Dengan akhir yang menggantung.

Kita yang sekarang, terjadi bukan karena salahmu atau salahku atau salah Tuhan. Tapi kita yang sekarang terjadi karena namamu tak ada dalam takdirku selanjutnya, begitu juga namaku yang sudah tak berperan lagi dalam takdirmu selanjutnya.

Hati kita pernah seindah taman bunga. Berwarna merah jambu dengan rasa manis di dalamnya. Tapi bukankah selalu nampak seperti itu terlihat membosankan?

Maaf Tuan, karena namamu masih menjadi topik utama yang begitu gigih kusebutkan dalam percakapanku bersama Tuhan. Tapi kali ini bukan lagi mengenai masa depan yang pernah kita perbincangkan.

Sungguh tidak lagi tentang itu, tapi tentang kedewasaan yang seharusnya ada dalam diri kita, tentang keteguhan yang seharusnya menguatkan hatiku dan juga hatimu. Agar kita tak perlu takut melepas kekitaan. Agar kita tak perlu canggung lagi untuk sekedar menyapa. Agar kita bisa menjadi dua manusia dewasa yang tidak lagi mengungkit masa lalu.

Sekarang aku mengerti sekeras apapun kita berusaha kalau semesta tidak mengamini, lantas kita bisa apa? Selain membiarkan segala, dan berusaha lapang. Ikhlaslah ini diluar kekuasanmu, aku dan kita.

Tertanda

Aku, perempuan pelupa yang lupa bagaimana caranya melupa