Artikel merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tuhan memang tidak pernah telat memperlihatkan kuasa-Nya pada kita. Hal yang tidak masuk akal pun bisa terjadi. Ya kamu, entah siapa kamu yang kemarin memaksa mata ini untuk terus mengawasi sepanjang Jakarta – Jogja. Pekerjaanku kali ini memang banyak menyita waktu pergi antar daerah termasuk ibukota. Mulai dari bangun pagi hingga tidur kurang menjadi menu santapan yang tak pernah lepas.

Budaya yang tercampur, itu kesan pertama yang aku lihat di Jakarta. Logat Batak, Jawa, Sunda kadang masih terdengar di sela-sela obrolan. Mungkin banyak logat lain yang tak ku mengerti ada di sana. Jakarta oh Jakarta, kau rumah segala insan mencari rezeki meninggalkan kampung halaman.

Syukurku, pekerjaan kali ini selesai sesuai jadwal. Hanya saja pulang ke kampung halaman yang harus tertunda. Peak Season yang jadi alasan mengapa tiket sulit dicari. Website kereta api, agen tiket hingga aplikasi penyedia tiket bolak-balik aku sambangi namun hasilnya nihil. Mau tak mau merasakan ibukota yang penuh sesak dan selalu antri.


Tuhan tahu yang terbaik…


Advertisement

Akhirnya aku malam mingguan di perjalanan. Sepertinya memang harus begini, ya sudah jalani saja. Siang hari aku menuju Stasiun Gambir untuk issued tiket. Sesaat sebelum naik kereta aku cek semua barangku. Subhanallah… Beberapa saat aku terpaku melihat sosok di depanku. Wajah teduh dan polos tanpa make up itu begitu memesona. Bagiku, ini sangat istimewa. Jarang aku temui wanita yang berani “polosan” di tempat umum.

Entahlah. Kamu tidak bisa aku deskripsikan hingga sekarang. Aku hanya tahu kau wanita santun berkerudung merah muda. Malam itu aku mengira kau bersama Ibumu, yang kau ajak video call dengan anggota keluarga yang lain. Layaknya anak muda, ku lihat beberapa kali kau bercanda dengan rekanmu melalui Facebook, Instagram dan sosmed lain.

Ahh.. Mungin aku terlalu mengagumi makhluk Tuhan yang ku temui malam ini. Ku lihat jam sudah menunjukkan waktu maghrib. Ya kau mengerjakannya. Ini yang semakin membuatku terpana. Kau manusia biasa, wanita biasa, namun tak lupa pada Sang Pencipta. Bukan tak mau menjaga pandangan, tapi malam ini aku sangat ingin melihat gerak-gerikmu hingga yang terkecil sekalipun.

Sejenak aku berpikir. Tuhan memang adil, Tuhan memang tahu mana yang harus aku jalani dan Tuhan berbaik hati telah membuatku menunggu dengan rasa kesal. Semua terhapus dengan peristiwa malam itu. Senyum simpul di sepanjang perjalanan setelah aku melihatmu. Ku tambahkan kau dalam buku catatan perjalanan hidup ini. Tuhan, terima kasih sudah memberikan kesempatan yang langka ini. Aku sangat terkesan.

Cerita ini harus berakhir di Stasiun Tugu, tempat pemberhentianku dan pemberhentianmu. Mungkin aku tak tahu siapa engkau bahkan lebih baik aku tak tahu. Aku berharap suatu hari kita bisa dipertemukan di lain kesempatan, wahai wanita berkerudung merah muda.