Kubereskan gundah, kuletakkan resah.
Bersamamu dalam setiap senja yang pernah tepampang indah di depan mata.
Pundakmu tempat bersandar menenangkan kala itu.
Tanganmu pun, menjadi penghapus setia airmata yang masih basah.

Sampai pada seperwaktu tertentu.
Aku menyadari.

Ada yang juga ingin bersandar di bahumu, selain aku.
Dia.
Sama inginnya membagi penat denganmu.
Menggebu berkeliling kota berdua.

Kalian, bersembunyi di balik senyumku yang memudar.
Bermain kucing-kucingan layaknya bocah-bocah kecil di perkampungan.
Meleburkan secuil rasa percaya juga bahagia.
Mendaur ulang menjadi leburan rasa cemburu juga pilu.

Aku atau dia bukan pilihan.
Aku atau dia adalah tujuan.
Tujuanmu untuk kembali, maupun pergi.

Advertisement

Tapi dia memilih pergi.
Menjauh lebih tepatnya.
Memeluk beribu rasa salah yang menusuk.
Kubiarkan saja, sesukanya.
Dia bisa memilih sendiri jalan bahagianya.

Untukmu, wahai pengaduk rasa.
Koki terpandai dalam mencampur coklat dan strawberry.
Kamu ingin kembali.
Dan aku masih meragu.

Imaji memberi isyarat akan leburan hati yang membeku.
Butuh waktu dan dimensi untuk mencairkan kembali.

Wahai pengaduk rasa hati,
Berdiamlah di sini.
Peluk keyakinanku hingga ragu pastilah pergi.

Sejatinya, kesempatan tidak semudah itu.
Kedua tidak sesempurna pertama.
Ini menu terakhir, kesempatan terakhir.
Kesempatan kedua yang seharusnya tak pernah ada.

Telah kuingatkan baik-baik, kesempatan kedua sebenarnya tidak pernah ada. Hanya rasa percaya yang berusaha kubangun dengan kepingan. Patahkan saja kalau bisa, sesungguhnya percaya ini mahakarya dari Yang Maha Kuasa.