Waktu telah menjawabnya, kini kau berdiri di sana, mengenakan baju berlengan panjang disertai dasi yang terpakai rapi. Aku bisa membayangkan begitu wibawanya engkau saat duduk di depan komputer, mengerjakan segala tugas yang aku tak tahu menahu. Aku hanya menangkap, bahwa kau sibuk.

Komunikasi kita sudah tak seintens dulu, namun ku tahu inilah bentuk pengorbanan waktu, aku merasa bangga padamu.

Hari yang berlalu kadang terasa sedikit hampa, sedikit ada yang hilang. Ya, mungkin aku hanya perlu beradaptasi dengan keadaan yang mulai berubah ini. Aku harus belajar merelakan waktumu untuk diberikan kepada yang lain.

Hanya satu yang ku pegang teguh, bahwa kau melakukan semua itu tak lain karena ingin bersamaku selamanya.

Terkadang aku berkeluh padamu, karena waktu yang tersisa untukku menjadi begitu sempit, dan kau menjawabnya dengan kata-kata halus, membuat segala penantianku tergantikan bahkan tidak terasa, namun kau juga pernah menjawabnya dengan emosi, aku tak membantah, mungkin itu karena tekanan yang sedang kau alami di tempat kerja.

Advertisement

Aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku ingin selalu bersamamu, meski itu tak mungkin, karena aku harus berbagi. Bukankah semua ini untuk kita, agar bersatu?

Sekarang aku sudah sepenuhnya mereda, hari-hari penantian yang terasa lamban itu sudah menjadi makanan biasa untukku, karena saat ini aku mempunyai kesibukan juga, kesibukan yang membuatku senang sekaligus tak merasa jenuh menantimu.