Cinta yang tertahan untuk satu hal yang tak dapat dijelaskan, harus berakhir dengan kenyataan yang tak seindah bayangan. Perpisahan adalah sebuah jalan yang harus dilalui tanpa harus adanya penyesalan.

Pertemuan yang terjadi bukan juga atas kemauanku. Aku seorang wanita yang telah memiliki komitmen dengan seseorang, bertemu dengan sosok pria yang pada awalnya hanya kuanggap teman biasa. Keseharianku yang membuatku selalu bertemu dengan pria baru ini, membuatnya selalu memberikan kenyamanan dalam hubungan ini.

Ia tau bahwa aku sudah memiliki kekasih, tetapi lebih jauh ia tetap ingin mengerti diriku sepenuhnya. Perhatian demi perhatian ia berikan padaku melebihi kekasihku sendiri. Tak dapat dipungkiri dia juga selalu memberikanku ketenangan dalam hari-hariku bersamanya. Kenyamanan ini terbangun karena dia sangat mengerti aku sebagai teman wanitanya, yang awalnya hanya sebatas itu saja. Ternyata dengan berjalannya waktu, ia mengungkapkan perasaannya terhadapku. Perasaan yang tidak hanya menganggapku seorang teman biasa. Bahkan ajakan untuk menjajaki ke hubungan yang lebih serius ia ungkapkan terhadapku. Kenyataan yang memberikanku sebuah pilihan untuk tetap di hati yang lama ataukah dengan datangnya seorang pria baru yang mungkin juga menarik hatiku.

Dengan berat hati akhirnya aku memutuskan untuk tetap tinggal di hati yang lama. Aku tidak cukup berani untuk mengambil sebuah resiko dalam hubungan serius seperti pernikahan. Aku menyesali mengapa hubungan ini harus berakhir dengan sebuah pilihan YA atau TIDAK. Mengapa tidak dengan tetap menjadi sahabat saja. Karena dengan menjadi sahabat, kami tetap dapat bersama dengan keriangan kami satu sama lain. Kami dapat saling melengkapi. Kami dapat menjadi sepasang bahu yang selalu siap sedia untuk menjadi sandaran ketika ada salah satu di antara kami yang berbeban. Sejujurnya, ia bukan pilihan tetapi seseorang yang dapat melengkapi kehidupan ini dengan kebersamaan kami.

Tapi pada akhirnya keputusan harus diberikan. Mungkin berat bagi kami untuk dapat mengakhiri sebuah hubungan yang sebenarnya belum kami mulai. Aku menyanyanginya sebagai seorang kakak. Hal yang sungguh kusayangkan adalah keputusannya untuk menghindariku. Dengan bersikeras aku meyakinkannya bahwa kami tidak perlu mengakhiri hubungan kakak-adik ini. Dan mungkin aku terlalu egois untuk tidak mau berpisah dengannya. Tapi dia memilih untuk melangkah pergi dariku.

Advertisement

Pernikahanku yang sudah direncanakan diundur untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Tahun demi tahun berganti. Aku menyibukan diriku dengan bekerja dan bekerja. Tidak jarang pula, aku teringat akan dia, orang yang kuanggap sebagai kakak. Secuil kisah kami tidak akan mudah terlupa di benakku. Tak pernah sedikitpun aku mendengar kabar dari seseorang yang pernah mendapat ruang di hatiku. Dan sampai pada akhirnya, sebuah undangan bertuliskan namanya dengan wanita lain datang di genggaman tanganku.

Haruskah aku senang???

Haruskah aku bahagia karena ia sudah menemukan tambatan hatinya sekarang??

Haruskah aku bersyukur karena pada akhirnya dia menemukan cinta sejatinya??

Ya, perasaan itu yang seharusnya hadir di benakku. Tapi, bagaimana kenyataannya sekarang? Hatiku seolah ingin berteriak, "benarkah ini?". Tapi aku tidak berhak dengan segala pertanyaan yang ada di benak ini. Apakah perasaan sebagai seorang adik bisa sehancur ini mendapat kabar bahagianya. Aku juga tidak patut untuk sesakit hati ini sebagai sahabatnya. Atau adakah perasaan lain yang timbul di hati kecilku? Bagaimana sebenarnya perasaanku terhadapnya.

Walau bagaimanapun aku sudah tidak berhak untuk menangisinya. Aku yang meninggalkannya. Dan kini ia menemukan sandaran hatinya. Aku harus bijak menerima ini, karena kehidupan akan terus berjalan. Dengan atau tanpa dia. Mungkin nanti aku akan berlabuh di pelabuhan hatiku. Dan dia hanya untuk dikenang. Berbahagialah sekarang. Karena aku sudah tidak berhak lagi menduduki sedikitpun dari ruang hatimu. Sedikit atau banyak, kisah ini akan menjadi cerita untuk anak cucu kita kelak.