Malam begitu buta untuk dapat kulihat. Satu pun tak ada bintang ataupun bulan yang bersinar. Namun, semilir angin masih dapat ku rasa. Ya, aku pikir ini mendung karena konon katanya ketika langit tidak ada bintang atau bulan itu pertanda akan hujan.

Mahasiswi semester pertama. Sendirian di kamar kos, berada di tempat yang berbeda dengan keluarga dan sahabat. Suasana begitu sepi dan membosankan. Tidak dapat ku pungkiri bahwa inilah realitanya. Di awal ku disini, di daerah perantauan, air mataku sering sekali terjatuh. Rindu ini tidak dapat terelakkan lagi.

Wahai mama, papa, adik-adikku, aku ini tidak tega bila mempertontonkan wajah yang dipenuhi air mata kepada kalian. Aku takut, apabila nanti kalian mengkhawatirkanku. Aku tidak mau itu terjadi. Lantas, ku keluarkan kesedihanku kepada sahabat-sahabatku dengan mengirimkan pesan grup di salah satu media sosial.

Ya, begitulah. Aku dan sahabat-sahabatku ternyata merasakan hal yang sama. Lewat chat grup itu, kami berbagi cerita.

Padahal, dulu aku sering berkata kepada adik-adikku seperti ini, “Wek aku bentar lagi nge-kos. Aku tinggal sendiri. Aku bisa lakuin apapun yang aku mau dan aku gak harus bantu-bantu,”

Advertisement

Faktanya, apa yang kita pikir menyenangkan belum tentu menyenangkan.

Itu semua aku katakan karena aku sering terlibat pertengkaran dengan adik-adikku. Justru hal itu, pertengkaran itu yang membuat ramai suasana di rumah. Namun, setelah itu semua terjadi… Ketika aku menjadi mahasiswa. Aku merasa… Sepi.

Lambat laun ku merasakan hal itu, namun aku percaya Allah selalu berada di sampingku dan tidak mungkin membuat diriku terjebak dalam kesepian. Teman-teman baru mulai berdatangan, ya mungkin Allah mengabulkan doaku. Terima kasih ya Allah. Terima kasih banyak (sembari tersenyum bahagia).

Berbeda daerah dan latar belakang menjadikanku semakin pandai akan kehidupan sosial. Menghargai dan menghormati wajib dijunjung tinggi di antara kami. Jelas saja, Indonesia adalah negara yang multikultural. Tidak heran bila terdapat beragam budaya, agama, suku, ataupun ras.

Selama disini, aku bersikap baik dan mau berteman dengan siapa saja. Entah mengapa setelah aku mendapatkan sahabat baru, aku merasakan tidak nyaman berada di sekeliling mereka. Bukan! Bukan apa-apa. Bukan karena perbedaan di antara kami. Alasannya satu karena aku tidak bisa mendapatkan sahabat seperti sahabat-sahabatku di SMA.

Mengapa begini? Awal kehidupanku berada di daerah perantauan, aku merindukan keluargaku. Lalu kali ini, aku merindukan sahabat-sahabatku. Jujur saja, mereka lebih bisa menerima diriku apa adanya dan selalu memperhatikan serta menasehatiku.

Ku putuskan untuk menghubungi satu persatu dari mereka, ku hubungi keluargaku dahulu, dimulai dari mama, papa, kemudian adik-adik. Aku mengatakan cinta dan sayang kepada mereka, mengatakan perasaan yang sebenarnya bahwa hidup sendiri di perantauan itu tidak menyenangkan seperti yang dibayangkan. Tidak lupa aku mengatakan cinta dan sayang kepada sahabat-sahabatku juga.

Katakanlah "aku cinta dan sayang kepadamu". Karena, itu adalah hal sederhana yang membuatmu bahagia.

Kata-kata itu, "cinta" dan "sayang". Nyatanya, masih banyak yang ragu untuk mengucapkannya. Terlebih kepada keluarga karena ego dan gengsi yang terlalu tinggi. Meskipun, kata itu memang sangat sederhana.

Aku tidak ingin menjadi orang yang mementingkan ego dan gengsi. Sehingga, paling tidak sehari sekali aku menelpon mereka serta mengatakan cinta dan sayang. Karena, ku pikir itu adalah hal sederhana yang dapat membuatku bahagia. Meskipun, raga ini tidak berada dekat dengan mereka. Dengan menelpon mereka, kesepian ini berkurang. Ku putuskan untuk melakukannya setiap hari.

"Sampaikanlah kepada mereka tentang perasaanmu itu. Jangan mencoba untuk memungkiri bahwa kamu cinta dan sayang kepada mereka. Jangan menunda yang pada akhirnya akan membuat kamu menyesal sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkanmu" -Kaninda Bela Nagari