Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya aku tiba juga di rumah. Tempat dimana aku merasakan kehangatan yang tiada tandingannya. Wajar saja, selama beberapa hari yang lalu, aku berada jauh dari rumah. Merasakan udara yang begitu dingin, tanpa selimut maupun sweater yang mampu menghangatkan tubuhku.

Sejenak, aku berdiam diri di dalam kamar. Duduk memperhatikan seisi ruangan yang begitu rapih tanpa ada barang-barang berserakan sedikit pun. Iya. Tidak seperti biasa, dimana selalu ada barang di atas lantai, maupun ranjang tempatku tidur mengistirahatkan diri.

Memori yang telah lalu mulai bermunculan di hadapanku. Seperti sebuah video yang diputar di dalam bioskop, hanya saja ini tentang perjalanan hidupku, dan hanya aku yang dapat menyaksikannya. Namun tiba-tiba saja, setetes air mata turun membasahi pipiku. Membuatku terbangun dari lamunan masa lalu. Ada suatu keinginan untuk kembali kesini, tinggal bersama ayah, ibu, dan juga adik-adikku.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai berdatangan ke rumah. Ada yang asyik bercengkrama di halaman rumah, ada yang berdiam diri duduk di ruang tengah bersamaku, dan ada juga yang sedang sibuk membantu si bibi memasak di dapur. Aku tidak menyangka akan seramai ini. Aku juga tidak menyangka, kalau ada yang merasa kehilanganku saat ini.

Waktunya sudah tiba, dimana tahlilan yang menjadi acara utamanya. Doa-doa bertaburan dari mereka yang berada di rumahku. Beberapa orang terdengar menangis tapi entah siapa. Air mataku kembali turun dengan nafasku yang tersedu-sedu. Aku tersenyum bahagia sekarang. Aku sadar, waktu tidak akan pernah kembali. Menyesal pun aku tidak bisa. Jadi, lebih baik aku pergi sekarang. Menjalani kehidupanku yang baru, di dunia yang baru juga.

Advertisement

Ya. Akhirnya, aku usai juga.