Rasa itu yang sejak awal telah menancap dalam di tanah hati. Seakan tak pernah goyah oleh apapun. Sekalipun badai dan erosi kesakitan atas pengkhianatan yang tak henti dan tak hanya sekali. Kini, meski telah kuputuskan segala ikatan dan telah kukatakan selamat tinggal padanya, namun hati ini masih saja menyimpan rasa. Bagai aroma yang tak pernah bisa menghilang dari ruangan hati, bahkan oleh pengapnya dosa yang ia lakukan.

Bertubi dan bertubi dia menyakiti, bahkan rasanya ingin membuangnya ke neraka. Dia jahat. Dia tak baik. Tapi tak dapat dipungkiri, bahwa hati ini masih sangat menyayangi.

Kata putus yang kuucap tak serta merta mengubah rasa cinta menjadi benci, membuat rasa sakit menjadi bahagia, justru inilah sakit yang sebenarnya. Menyayangi orang yang dibenci, membenci orang yang disayang.

Ingin kutanyakan bagaimana, bagaimana menyeleseikan ini semua? Karna aku tak pernah belajar untuk memulai, lalu bagaimana aku harus mengakhirinya?

Ingin rasanya kubisukan hati, tapi sekali lagi hati ini menjerit kesakitan. Terlalu sakit untuk menerima dan terlalu sakit pula untuk melupakan. Sungguh aku sudah tak ingin dimiliki olehmu, tapi jujur aku pun sulit melepaskan mu. Lalu pada siapa aku harus mengadu? Mampukah aku menyeleseikan ini dengan cara ku? Dan begini pulakah rasamu pada ku? Atau kau dengan mudah melenggang dengan menatapku kasihan?

Advertisement

Sungguh, pergilah….dengan begitu aku pun akan bertahan menutup mata. Kini kusadari bahwa rasa ini bukan lah kuasa diriku untuk melepas atau mempertahankan, tetapi rasa ini adalah kuasa sang waktu yang dulu membawanya kepadaku. Biarkan waktu yang menyeleseikan, biarkan saat ini kunikamti rasa ini. Biarkan jika saat ini tak bisa kulepaskan meskipun kaupun telah tak dapat kumiliki. Tak akan kupaksa apapun, karna justru akan membuat goresan kasar dihatiku yang semakin sulit untuk kuhapus. Melangkah lah, karna dengan begitu doa ku pun akan menuntun dirimu dan diriku pada masa yang indah, saat dintara kita pulih dan mampu tersenyum tulus tanpa lagi ada rasa.