Masih tergambar jelas di ingatan ku saat kita pertama kali kenal sampai akhirnya kita akrab dan memutuskan tanpa sengaja bahwa kita adalah sahabat. Hari demi hari kita lalui berbagi cerita apa saja yang bisa kita bagi. Dari susah senang maupun sedih. Bahkan orang di sekeliling kita banyak yang iri atas keakraban kita. Saat itu kamu adalah salah satu hal sangat aku syukuri kepada Pencipta kita.

Ingatkah kamu saat aku sedih ataupun kamu yang sedih, entah itu karena hal lain maupun karena pria lain. Haha, sungguh lucu jika aku ingat hal itu. Kita sanggup berkeliling kota mencari tempat yang sangat nyaman untuk bercerita. Bahkan kita tidak lagi punya rasa malu untuk menangis di hadapan masing-masing.

Jika aku ingat lagi, saat bahagia yang kita lalui entah itu yang terjadi padamu atau padaku. Sungguh rasanya tak ingin waktu itu berlalu cepat atau berharap bahwa seterusnya akan terasa begitu.

Sampai saatnya pertengkaran di kita terjadi tanpa aku harapkan. Sungguh ini hanya kesalahpahaman yang sebenarnya sama-sama kita ketahui tapi malu untuk kita akui. Pernahkan kamu merasa sedih saat kita tak lagi bersama atau saat kita bertemu tapi seolah-olah tak saling melihat. Pernahkah hatimu bergetar kesakitan saat aku tertawa dengan yang lain? Jika aku boleh jujur, sangat menyakitkan untukku. Apalagi ketika orang bertanya kenapa kita tak lagi bersama.

Sahabat, maaf, maksudku bolehkan aku tetap mencantumkan label sahabat kepada hubungan kita? Aku harap kamu memperbolehkannya. Semoga ada waktu untuk kita tetap bersama. Kuharap kamu bisa hancurkan egomu dan akupun begitu.

Advertisement

dari aku, yang masih kamu anggap sahabat atau bukan.