Ada dua tipe orang yang sedang jatuh cinta. Pertama, orang yang dengan terang-terangan menunjukkan perasaannya di depan orang yang dia suka. Kedua adalah orang yang bahkan menatap mata orang yang dia suka aja nggak sanggup. Ya, orang yang jatuh cinta diam-diam.

Di antara dua tipe tadi, kamu tipe yang mana? Pertama atau Kedua?

Well, kalau saya sendiri adalah tipe orang kedua.That's right! Saya adalah tipe orang yang jatuh cinta diam-diam. Saya menyimpan rasa itu untuk saya sendiri. Saya nggak tahu apakah kalau seperti ini saya bisa dikatakan egois, tapi pada kenyataannya saya adalah orang yang seperti itu.

Saya lebih memilih merasakan rasa itu sendiri daripada harus menunjukkan rasa itu ke orang yang saya suka. Saya bahkan nggak akan sanggup menatap mata orang yang saya suka dengan begitu bebas. Saya lebih suka mengamati orang yang saya suka dari jauh. Saya akan merasa cukup hanya dengan apa yang saya lakukan seperti itu.

Mungkin untuk sebagian orang khusunya perempuan, apalagi di zaman sekarang ini apa yang saya lakukan itu adalah hal yang sangat norak, sudah bukan zamannya. Kebanyakan orang in case perempuan di zaman sekarang ini, sudah mulai dengan terang-terangan atau bahasa trendnya blak-blakan menunjukkan rasa sukanya ke orang yang dia suka.

Advertisement

Sekarang ini, hal itu sudah bukan lagi hal yang dianggap tabu, malah sebaliknya sudah dianggap sebagai hal yang wajar. Namun bagi saya, fenomena-fenomena seperti itu bukan saya banget. That's not me at all! 

Itu semua mungkin karena dari apa yang saya alami selama ini. Dalam 21 tahun hidup saya di dunia, delapan tahun sendiri saya habiskan untuk menyimpan rasa hanya ke satu orang. Saya nggak tahu pasti apa ini yang orang-orang bilang cinta pertama, intinya selama delapan tahun itu saya menjalani apa yang saya sebut diawal tadi, jatuh cinta diam-diam.

Ya, saya menjadi orang yang jatuh cinta diam-diam selama delapan tahun. Selama perjalanan delapan tahun itu, bukan berarti saya nggak pernah merasakan suka ke orang lain. Bukan. Saya juga sempat beberapa kali memiliki rasa suka ke orang lain, tapi rasa suka itu tidak lebih dari sekedar rasa kagum. Nggak seperti rasa suka yang saya rasakan untuk orang yang sama selama delapan tahun itu tadi. Perasaannya berbeda, lain.

Namun ada satu kali, satu saat di mana saya merasakan rasa suka kepada seseorang dan itu terasa sama seperti yang saya rasakan kepada orang delapan tahun itu. Saya seperti dejavu. Pada awalnya saya berusaha untuk terus menyangkal perasaan itu, tapi pada akhirnya hati tetap nggak bisa bohong. Saya memang merasakan rasa yang sama seperti apa yang saya rasakan ke orang delapan tahun itu.

Ini pertama kalinya, setelah delapan tahun saya menemukan seseorang yang bisa membuat saya merasakan perasaan yang sama seperti yang saya rasakan dengan orang delapan tahun itu. Jika ditanya apakah itu artinya saya sudah tidak memiliki perasaan atau yang orang sekarang bilang sudah move on ke orang delapan tahun itu? Saya sendiri sampai sekarang masih belum bisa jawab itu. Intinya saat ini saya memiliki perasaan yang sama kepada orang baru itu seperti saat saya memiliki perasaan ke orang delapan tahun tadi.

Namun, inilah ketakutan saya selama ini yang malah jadi kenyataan. Selama delapan tahun menjadi orang yang jatuh cinta diam-diam, malah menjadikan saya takut untuk memiliki perasaan kepada seseorang, untuk jatuh cinta. Seakan saya sudah terdoktrin bahwa jika saya jatuh cinta lagi dengan seseorang, maka saya akan terus mengalami seperti apa yang saya alami selama delapan tahun itu.

Saya takut kalau saya jatuh cinta lagi, maka saya akan jatuh cinta diam-diam lagi. Tapi, seperti pepatah lama bilang "nasi sudah jadi bubur", apa yang sudah terjadi ya terjadi, mau diapakan lagi? Pada akhirnya, di sinilah saya sekarang, menjadi orang yang jatuh cinta diam-diam untuk kedua kalinya.