Suatu hari hiduplah seorang Ibu yang usianya 60 Tahun. Ia mempunyai seorang anak laki-laki tampan dan juga sukses yang kini telah menikah dengan seorang gadis cantik dan juga shalehah. Keduanya pun sedang bepergerian ke suatu tempat untuk berbulan madu selama 30 hari lamanya.

Sang Ibu tinggal jauh dari ramainya hiruk pikuk perkotaan. Ia tinggal disebuah lereng berbukit. Atapnya terbuat dari anyaman daun kelapa yang tersusun rapih. Anyaman bambu yang berlubang melapisi tembok rumah Sang Ibu hingga tak ayal dinginnya angin malam mampu menembus tembok rumahnya. Tiang rumahnya yang terbuat dari kayu terlihat sangat lapuk dan tak kuat lagi menahan pondasi atap rumahnya.

Suatu ketika Sang Ibu berkunjung ke rumah Sang Anak yang berada ditengah-tengah perkotaan setelah 30 hari berbulan madu. Sang Ibu menginap beberapa hari disana hingga kemudian ia sangat terkejut melihat anak laki-laki kesayangannya kini telah berubah perilakunya.

Sang Anak yang telah menikah kini menjadi pribadi yang lebih baik. Kini Sang anak rajin menjalankan perintah Allah SWT dengan mendirikan shalat 5 waktu. Berpuasa sunnah hingga amalan-amalan shaleh lainnya. Sang Ibu sangat terharu sambil memegangi tangan sang menantu dengan nada lirih berkata :

'Terimakasih.. Terimakasih nak, engkau telah merubah anakku. Kini anakku telah berubah. Sekarang ia telah melaksanakan perintah Allah dengan melaksanakan shlata 5 waktu dan amalan lainnya. Terimakasih nak..'.

Advertisement

'Aku telah menyuruhnya untuk menjalankan perintah Allah sejak 30 Tahun yang lalu. Namun masih saja diabaikan olehnya dan lebih memilih menghabiskan waktunya kepada urusan duniawi..'

Sang Ibu berkata hingga tak kuasa menahan isak tangisnya.

'Kini ia telah menjadi orang yang taat beribadah, ini semua karena mu, nak.. Wahai menantuku yang shalehah'.

Lanjut Sang Ibu sembari memeluk erat tubuh Sang Menantu.

Dalam kondisi terharu hingga tak kuasa menahan diri, terlihat air mata Sang Ibu terus berlinang begitu deras membasahi kedua mata hingga kulit pipinya yang mulai berkerutan. Seperti rasa bahagia atas karunia besar yang begitu luar biasa menghampiri kehidupannya.

Sang menantu memperhatikan mertuanya, kemudian kembali memegangi tangan Sang Mertua. Terasa begitu kasar kulit tangannya yang mulai keriput dimakan usia.

'Wahai Ibuku, apa engkau ingin mendengarkan ceritaku ?' Tanya Sang Menantu dengan nada halus.

'Tentu saja aku ingin mendengarnya, Wahai Anakku..' Jawab Sang Ibu

Mendengar jawaban tersebut, Sang Menantu menyambutnya dengan senyum. Kemudian mulai bercerita.

Dahulu, hidup seorang laki-laki paruh baya yang usianya begitu tua. Namun ia masih taat beribah bahkan hasil dari jerih payahnya pun ia pergunakan untuk beibadah di jalan Allah dan selebihnya ia pergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Suatu pagi hari ketika Sang laki-laki paruh baya tersebut hendak bekerja menuju sebuah ladang yang jaraknya begitu jauh. Dalam perjalanannya kemudian ia terkejut melihat sebuah batu yang amat besar menghalangi sebuah jalan satu-satunya yang akan ia lalui untuk menuju ladang tersebut.

Demi keinginannya untuk bekerja di ladang, Sang laki-laki paruh baya tersebut mengambil sebuah kapak yang ia bawa dalam tas sakunya yang lusuh.

Dengan sekuat tenaga Sang laki-laki paruh baya memukul batu besar tersebut dengan kapak ditangannya. Sang Laki-laki paruh baya terus menerus memukuli batu besar sambil berharap batu itu akan terbelah. Tak terasa sengatan matahari yang mulai tampak dari ufuk Timur mengenai kulit Sang laki-laki paruh baya tersebut. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya akibat usahanya memecah batu besar tersebut. Lekukan tubuh kurusnya yang termakan usia terlihat menapak akibat keringat yang membasahi pakaian lusuhnya. Tanpa terasa ia telah melakukan 99 kali pukulan terhadap batu besar tersebut. Sang laki-laki paruh baya akhirnya berhenti memukuli batu besar yang ada dihadapannya. Ia akhirnya beristirahat sejenak dengan nafas tergopoh-gopoh. Ia sangat lelah atas usahanya memukuli batu besar tersebut.

Dalam istirahatnya, tiba-tiba dari kejauhan muncul seorang pemuda yang hendak melintasi jalan yang sama. Kemudian terkejut melihat batu besar yang mengahalangi jalannya.

Sang pemuda melihat Sang laki-laki tua paruh baya duduk dihadapan batu tersebut. Terlihat keringatnya begitu deras membanjiri tubuhnya tanda ia kelelahan dari usahanya menghancurkan batu tersebut dengan sebuah kapak ditangannya.

Merasa iba dengan kondisi Sang laki-laki paruh baya, pemuda itu akhirnya membantu memecah batu besar dihapannya dengan meminjam kapak Sang laki-laki paruh baya.

'Mari saya bantu, pak'.

Kemudian pemuda tersebut bersiap memukul batu besar dihadapannya. Ia kini berhadapan dengan batu besar tersebut. Pandangannya begitu lurus menghadap batu besar. Terlihat sorot matanya begitu tajam. Telapak tangannya menggenggam erat ujung kapak yang terbuat dari kayu tanda bersiap untuk memukul batu tersebut.

Sang pemuda mengayunkan kapak yang ada ditangannya dengan sekuat tenaga dan juga sangat keras.

'BrraaaaaaakkkKKkkk…. !!!'

Dengan sekali pukulan kuat dari Sang Pemuda akhirnya batu besar yang mengahalangi jalan pun akhirnya terpecah belah.

Sang laki-laki paruh baya terbangun dari duduknya. Ia sangat terheran dengan cahaya berkilauan yang memancar begitu silau mengenai matanya. Begitu pula dengan pemuda tersebut. Ia terkejut dengan cahaya berkilauan yang memancari kedua matanya. Ternyata didalam batu tersebut didalamnya terdapat sebuah emas.

'Itu sebuah emas..' Kata Sang laki-laki paruh baya.

'I..Iya, betul..' Pemuda menjawab dengan nada takjub.

Dalam suasana begitu kaget, Sang pemuda tiba-tiba berkata dengan nada nyaring kepada Sang laki-laki paruh baya :

'Emas ini milikku.. !!'

Sang laki-laki paruh baya menjawab.

'Bukan, tapi ini milikku'.

Terjadi perdebatan sengit diantara keduanya. Sang Pemuda terlihat begitu ngotot untuk memiliki emas yang begitu besar dihadapannya.

'Baiklah, kalau begitu mari kita bawa kepada persidangan'. Kata Sang Lak-laki paru baya.

Akhirnya Sang Pemuda meng-iyakan keinginan Sang laki-laki paruh baya untuk membawa perkara tersebut ke dalam persidangan.

Singkat cerita, setelah Sang Hakim meminta keterangan diantara keduanya maka diputuskanlah perkara tersebut.

'Emas ini milik Anda, Pak.' Kata Sang Hakim kepada lelaki paruh baya.

'Tidak mungkin batu itu terbelah tanpa adanya pukulan sebanyak 99 kali sebelumnya'. Lanjut Sang Hakim.

Kemudian Sang Hakim mengetuk palu sidang tanda bahwa perkara tersebut telah selesai.

Sang laki-laki paruh baya menangis bahagia mendengar keputusan Sang Hakim. Tak lama berselang ia pun beranjak dari kursinya menghadap kiblat lalu melakukan sujud syukur.

Sang menantu menghentikan ceritanya..

Masih memegang kedua tangan mertuanya, terlihat air mata sedikit membasahi sudut mata Sang menantu. Dengan nada lirih dibalut dengan senyumnya, Sang menantu berkata kepada mertuanya :

'Ini semua karena mu, Wahai Ibu mertuaku.. Ini semua karena mu. Aku hanya ditugaskan oleh Allah SWT untuk menyempurnakan'.

'Karena engkaulah yang selalu mengingatkan suamiku untuk taat beribadah kepada Allah SWT selama ini. Kalau bukan karenamu juga tidak mungkin suamiku kini mampu taat beribadah, menjalankan semua perintah Allah dengan menjauhi segala larangan-Nya. Terimakasih wahai Ibu Mertuaku..'

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah tersebut.