Andaikan Berakhir Seperti AADC

Apakah mungkin sudah menjadi sifat seorang laki-laki untuk mendekati seorang perempuan, membuatnya terbang tinggi melayang ke angkasa dengan sejuta rasa, setelah itu secara tiba-tiba meninggalkannya? Membiarkan perempuan tersebut tertikam sendiri antara kebodohan dan kegilaan mencintai. Larut dalam suasana galau, sedangkan sang laki-laki seolah tanpa dosa telah dan merasa baru saja memenangkan suatu perlombaan.

Ketika euforia masyarakat tengah menikmati film AADC 2, justru aku meringis walau hanya menonton trailernya dan mendengar ceritanya dari sana-sini. Sekilas ceritaku mirip seperti AADC, hanya saja bukan ending bahagia seperti yang disuguhkan AADC.

Kami bertemu untuk pertama kalinya dalam satu event di Jakarta. Dia begitu sederhana dan polos. Aku yang lebih banyak bergabung dengan teman-teman peserta event, aku tertawa, bercanda, berfoto layaknya anak SMA yang sangat senang memiliki banyak teman. Sementara dia hanya diam dan tak banyak melakukan interaksi, dia larut dalam semua puisi-puisinya. Walaupun latar belakang kami sama-sama penulis, tetapi dia lebih condong dalam puisi dan setiap kata yang dibuatnya membuatku tercengang.

Hingga event itu selesai, kami masih tak saling berbicara, hanya satu kali saja dia terlihat menyapaku itu pun di malam terakhir acara tersebut. Esok harinya pun, kami pulang ke daerah masing-masing yang statusnya berbeda pulau.

Advertisement

Namun, hubungan tak berhenti di acara itu saja. Dia yang memulai dengan menambahkan pertemanan di facebook dan akhirnya kami larut dalam cerita di dalam dunia maya. Apakah aku tertikam perasaanku sendiri? Dia sering menelfon, mengirim pesan, dan bahkan dia sering membuat status di facebook yang seolah-olah semua itu mengarah kepadaku. Apakah aku salah jika aku beranggapan dia menyukaiku? Bahkan dalam setiap perkataannya seringkali menyinggung soal hati dan rasa. Aku dibuat melayang kala itu. Setiap perkataannya selalu terlihat benar dan sungguh-sungguh.

Hingga satu tahun kemudian dia menghilang. Dia tak lagi menelfonku, dia tak lagi mengirimiku pesan, bahkan dia tak lagi menulis status tentangku. Dia berubah. Aku dengan segala egoku sebagai seorang perempuan tak pernah berani mempertanyakan mengapa dia berubah. Aku hanya mampu memendamnya dan berharap suatu saat nanti dia kembali menghubungiku.

Satu tahun… dua tahun… aku menunggu, tapi dia tak pernah menghubungiku. Bahkan dia terlihat santai dengan semua kesalahannya itu. Aku mencoba menelisik apapun info tentangnya. Dan dia merasa tanpa dosa melakukan hal itu denganku. Sementara aku, setiap hari harus bercerita dengan temanku, menuangkan segala kekesalan dan kerinduanku padanya. Dan sebuah pertanyaan yang masih menggantung di hatiku tentang alasan kenapa dia meninggalkanku.

Hingga di tahun ini, sejak 3 tahun kami tak saling bertemu, tiba-tiba dia menghubungiku dan mengatakan sedang berada di kota yang sama denganku. Aku setengah tak percaya dia kembali menghubungiku. Otakku mulai merangkai segala scenario indah yang pernah terjadi di dunia perfilman. Bahkan aku membayangkan kisah bahagia dalam film AADC itu akan terjadi denganku. Di satu hari sebelum perjumpaan itu, aku sudah seperti orang yang kebingungan tingkat dewa. Berusaha mencari baju sebaik mungkin, tidak bisa tidur, dan terus membayangkan bagaimana pertemuan besok.

Namun di hari saat kami bertemu, hari yang mengungkapkan segala kepahitan yang pernah kurasakan, hari yang membuatku sadar betapa menyesalnya aku telah mengharapkannya kembali. Dia mengatakan bahwa dia telah lama menyukai seorang perempuan yang memiliki kemiripan denganku. Aku terkejut bukan main mendengarnya. Membuatku berkali-kali memalingkan wajah darinya untuk menahan air mataku yang aku takut akan terlihat olehnya. Dia melanjutkan bahwa perempuan cinta pertamanya itu tak akan mungkin ia dapatkan. Aku langsung menyimpulkan bahwa aku hanya sebagai pelampiasan semata. Bahwa dia mendekatiku selama ini hanya mencari sosok orang tersebut dalam diriku.

Aku sangat kesal dengannya dan ingin rasanya segera mengakhiri pertemuan itu. Aku sudah salah memahami suasana. Kabut merah jambu menggelapkanku dari logika. Tidak semua hal di dunia ini memang harus berakhir bahagia seperti cerita-cerita di televisi, begitu pula cerita cintaku. Sekilas mirip dengan AADC, tapi tak akan pernah sama pada akhirnya. Memang benar apa yang dikatakan dalam puisi AADC, tanda tanya yang selama ini kusimpan tentang alasannya meninggalkanku kini terjawab sudah dan membuatku berada dalam jurang antara kebodohan dan keinginanku untuk memilikinya sekali lagi. Membuatku merasa bodoh di depannya, sementara keinginan itu pupus sudah tak akan bertunas.

Beruntunglah cinta pertama itu, yang mendapatkan cinta murni dari hati yang belum pernah menerima luka hati. Namun, bagaimana dengan cinta kedua, ketiga, dst? Apakah akan terus menerus mendapat cerminan diri dari cinta pertama? Aku berusaha menenangkan hatiku semaksimal mungkin dan di dalam hati aku bertekad tak akan mengharapkannya lagi.

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia” Ali bin Abi Thalib.