Berhenti melakukan apa yang kita suka, mudahkah?

Berhenti mencintai seseorang, bisakah?

Menyenangkan sepertinya bisa lepas dari apa yang kita sukai, tapi tetap saja ada perasaan yang akan tertinggal nanti.

“Apa aku mengecewakan?” tanyanya setelah memberikan secangkir kopi yang kemudian menarik buku-buku yang kubeli untuk dibawa olehnya.

“Tidak. Kamu sudah dengan berbaik hati mengantarkanku membeli buku-buku ini, lantas kenapa harus kecewa?”

Advertisement

“Bukan. Tentang perasaanmu yang tidak pernah kubalas.” Balasnya pelan.

Aku berhenti berjalan, melayangkan setiap perasaanku sebelumnya. Dia masih berjalan pelan tanpa memperhatikanku yang sudah berhenti berjalan. Benar, dia tidak akan pernah berbalik untuk melihatku sama seperti sebelumnya. Seperti hari-hari yang justru aku habiskan untuk memikirkannya.

Tidak sadar aku berlari kecil mengejarnya yang berjalan lebih dulu. Mengejarnya seperti yang biasa kulakukan.

“Kenapa? Bukankah perasaanmu tidak akan berubah?” setelah mengejarnya justru aku menanyakan pertanyaan penuh pengharapan. Saat itulah aku merasa menjadi seseorang paling bodoh.

“Bagaimana dengan sekarang? Aku bisa membalas perasaanmu.” saat ini kita sama-sama berhenti berjalan. Hanyut kedalam pikiran masing-masing. Aku menyeruput lagi kopi yang sudah habis setengahnya.

Kakiku tergerak untuk mendekati bangku panjang di pinggir jalan. Kemudian duduk dan diikuti olehnya. Aku masih berpikir bagaimana mungkin pertanyaan pengharapan itu justru menjadi jawaban yang mendadak.

“Aku menyukaimu dari dulu. Hanya saja…”

“Tentu saja mengecewakan.” Aku menyela ucapannya.

“Kamu tahu? Berapa banyak cerita dan puisi yang kutulis tentangmu? untukmu? Mungkin jika aku bisa mengggambar dengan baik, tembok kamarku sudah menjadi kanvas untuk menggambarkanmu. Saat itu aku berharap kamu melihatku sedikit saja, melihatku dengan tulus. Tapi kamu selalu berjalan lurus tanpa berhenti bahkan menoleh sedikitpun. Apa makanan kesukaanmu? Kelaparankah? Apa kegiataanmu? Melelahkankah? Mencoba mengenyangkan perutmu yang kelaparan. Ingin juga aku membuang buku-buku bacaan yang melelahkanmu atau menghentikan setiap kegiatan yang menguras tenagamu. Bahkan di setiap hari yang ditutup oleh senja yang indah, aku ingin melewatkannya bersamamu. Tapi sekarang aku sudah berhenti dengan membuang banyaknya mimpi. Tapi kemudian mimpi itu masih harus datang disetiap malam tidurku. Aku ingin menghilangkannya. Tapi…perkataanmu membuatku serakah. Bagaimana kalau aku mencobanya? Bagaimana kalau aku bisa bahagia? Bagaimana kalau seandainya mimpi dulu bisa diwujudkan? itu pikiran yang terlintas di otakku saat ini. Namun hatiku tidak lagi bergetar, hatiku tidak menginginkannya. Andai kamu lebih cepat saat itu atau katakan padaku untuk menunggumu. Pasti aku akan menunggu. Sekarang aku tidak akan memintamu menungguku. Seperti kamu yang tak pernah memintaku menunggu. Kupastikan hatiku tidak akan berubah lagi untukmu. Aku tidak akan meminta maaf, anggaplah kita impas.” Aku bercerita panjang dan mengambil buku-bukuku kemudian pergi.

Fajar hampir datang, aku membuka mataku dengan hati yang sakit. Ah, aku bermimpi. Haruskah? Aku bermimpi dalam sebuah mimpi… Kita hanya berada di dalam keadaan di mana aku selalu datang terlambat saat kamu tidak bisa menunggu dan kamu hanya akan menanti di tempat dan waktu yang tak bisa kudatangi. Andai mimpi itu menjadi nyata. Aku tetap tidak akan mengubahnya. Mengubah cerita panjang tanpa judul yang sudah kutulis.