“Jika hati ini harus jatuh lagi, bisakah tidak denganmu?”

Pertanyaan itu meluncur dari bibirku beberapa saat setelah perkenalan kita. Kamu tahu kenapa? Karena kamu adalah petualang yang memiliki banyak tempat tujuan. Ada banyak wanita yang hendak kamu temui, dan aku hanya gadis kesekian yang gagal menyamankan hatimu untuk tinggal lebih lama.

Dari awal pertemuan kita, aku sudah siap dengan perpisahan. Bahkan setelah kamu masih menghubungiku dua minggu lamanya, benteng pertahananku masih cukup kuat untuk tidak berharap. Saat kamu berkelakar mesra, aku masih mengingatkan diriku untuk tidak jatuh cinta.

Hingga satu bulan tepat setelah aku dan kamu bertukar pesan, jantungku mulai berdebar tidak beraturan. Aku menggeleng kuat, tidak ingin menyimpulkan rasa secepat itu. Kucoba untuk membentangkan jarak, dan kamu perlahan mulai terlihat lupa denganku. Aku mencobanya. Berhari-hari kutahan jemariku mengetik pesan untukmu.

Tapi aku sudah terlambat. Rasa aneh itu masih menari-nari di hatiku meskipun pesan darimu tak kuterima lagi. Ia malah beranak pinak, menciptakan berbagai warna yang tak kumengerti kenapa. Rindu, marah, sedih, sepi, cemburu, dan berbagai rasa aneh lainnya menggerogotiku setiap kali namamu terlintas di kepalaku.

Advertisement

Baiklah, aku menyerah. Kuakui perkenalan singkat kita telah berhasil membuatku tenggelam dalam rasa suka. Aku menyukaimu, tanpa tahu pasti kenapa. Aku suka membaca pesanmu, aku suka melihat fotomu, aku suka sikap cuekmu, aku suka semuanya tentangmu. Aku suka padamu, meski kusadari rasa sukaku padamu tak masuk akal.

Aku mulai mengirimimu pesan lagi. Meski sudut pikirku menerka bahwa kamu sedang sibuk dengan wanita lain. Aku tetap mengirimimu pesan tanpa peduli apa-apa. Kamu masih membalas, kamu selalu membalas setiap pesan yang kukirim. Bedanya, kamu tidak lagi mengajukan pertanyaan seperti saat kita berkenalan dulu. Sekarang, akulah yang nyinyir bertanya kegiatanmu dan melontarkan canda. Bedanya, bukan kamu lagi yang mengucapkan selamat pagi duluan. Akulah yang selalu ingat denganmu dan mengirim pesan sapaan dengan rutin.

Aku seperti orang bodoh, membiarkan diriku berenang dalam rasa suka hingga kusadari lautan itu mulai berubah warna. Bolehkan kusebut itu cinta? Karena aku menitikkan air mata untuk pertama kalinya pada seorang pria setelah tiga tahun hatiku mati suri. Karena aku tersenyum sumringah untuk pertama kalinya saat seorang pria menelponku setelah tiga tahun aku lupa rasanya kasmaran. Karena aku berdebar bukan main untuk pertama kalinya saat mengajak seorang pria pergi keluar setelah tiga tahun aku lupa caranya berkencan.

Ah, untuk kalimat terakhir itu, rasanya aku harus menahan air mata. Kamu tahu? Saat aku membahas topik untuk pergi jalan-jalan dan kamu esoknya pergi ke kampung halaman, rasa kecewa luar biasa menghantuiku seharian. Jujur, aku telah membayangkan kencan yang menyenangkan bersamamu. Hanya kamu. Pria yang menjadi tokoh utama dalam dunia khayalku setelah tiga tahun aku berhenti mengkhayalkan siapa-siapa.

Kamu tahu? Cinta ini harusnya tak layak kupertahankan. Kenapa? Karena kamu tak menginginkannya. Kamu ingat? Saat aku mengungkapkan harapanku agar kita bisa lebih dekat dan kamu menepisnya secara halus? Saat itu, harusnya aku langsung membunuh hatiku. Tapi keberhasilan tak berpihak padaku. Aku gagal. Rasa cinta itu malah bertahan dan tumbuh semakin besar.

Aku, si gadis tolol yang menawarkan rumah untukmu sepaket dengan kesetiaan. Aku, si gadis tak mau tahu yang selalu menantimu di teras hati dengan pintu terbuka lebar. Aku, si gadis tak tahu diri yang berharap kamu menghuni hatiku. Tapi kamu memilih hanya singgah. Kamu memilih pergi dan terus mencari hunian lain.

Mungkin aku bukan rumah yang bisa membuatmu nyaman. Di luar sana, ada banyak sekali wanita-wanita cantik yang menarik perhatianmu. Aku hanya gadis sederhana yang mencintaimu dengan dewasa. Kulepaskan kamu pergi, sementara jemariku memeluk punggungmu diam-diam dengan puisi. Dibanding memaksamu disini, aku lebih suka menghidupkanmu di setiap tulisanku dan mencintainya dengan caraku. Sampai waktu yang tak kutahu kapan, kamu akan menjadi kenangan yang kelak kubaca ulang di kala sepi mengundang rindu.

Kamu datang tanpa bisa kutolak. Dan pergi tanpa sanggup kutahan. Darimu aku belajar, bahwa cinta tak mesti berlabuh pada kepastian dan tak perlu hidup bersama harapan.