Hi, my dearest future.

Apa kabar?

Aku harap kau selalu dalam lindungan-Nya.

Aku tidak tahu apa sebenarnya yang membuatku begitu ingin menuliskan ini untukmu. Aku kalut. Pikiranku kacau. Hatiku kotor. Aku merasa bersalah kepadamu, kepada Tuhan kita.

Aku tahu.

Advertisement

Aku tahu.

Aku memang pernah berjanji akan menjaga hati ini hanya untukmu. Aku pernah berjanji akan memberikan kunci itu hanya kepadamu. Aku bahkan telah meminta kesediaan Tuhan kita untuk membantuku dalam setiap waktuku menunggumu.

Tapi,

Aku tidak tahu entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja dia mulai menguasai setiap rongga di kepalaku. Setiap sudut di hatiku telah terisi oleh namanya. Bahkan saat terpejam pun mataku masih mencari sosoknya. Aku tidak tahu apa yang sepatutnya aku lakukan.

Aku gundah.

Bahkan saat jemariku menari riang bercerita kepadamu melalui aksara ini, mataku menolak logika yang diucapkan otak untuk mengabaikan rasa yang diteriakkan oleh hati. Yaa, aku menangis.

Aku tidak pernah jatuh sedalam ini sebelumnya. Aku memang ingin jatuh sejatuh-jatuhnya, tapi tidak sekarang. Nanti. Aku ingin jatuh sejatuh-jatuhnya saat aku tahu siapa dirimu.

Maafkan aku. Aku [mungkin] telah jatuh cinta. Parahnya aku merindu seseorang yang belum tentu adalah dirimu.

Maafkan aku. Aku berdosa kepadamu.

Kuharap kau mengerti.

Kini, aku sedang berusaha meminimalisir sosoknya dalam benakku. Kalaupun aku telah jatuh, aku ingin memanage rasa ini agar kelak kau tak cemburu mendapatiku telah pernah memberikan tempatmu untuk orang lain. Kalaupun aku mencintainya, aku ingin mencintainya dengan sebenarnya cinta. Berusaha untuk tidak mendekatinya lagi demi menjaga keutuhan rasa dan merangkulnya dalam kedalaman doa. Iya, sulit memang. Aku tahu ini sulit. Tapi tenang saja, jika memang cinta ini titipan-Nya, aku ada Dia yang menguatkan. Aku ingin ia terjaga seperti rasa yang ingin ku jaga. Aku ingin hatinya terawat seperti rasa yang ingin ku rawat dengan cinta-Nya.

Aku akan membantunya.

Sedikit demi sedikit.

Perlahan, sosokku akan menghilang, begitupun sosoknya di hidupku. Dan jika memang ditakdirkan untuk bersama, aku yakin, ada saja rencana indah Tuhan kita untuk menunjukkan bahwa dia adalah dirimu. Tapi, jika seandainya malah terjadi sebaliknya, tiba-tiba takdir Tuhan kita berkata dia bukanlah dirimu, aku percaya, Tuhan kita Yang Maha Kaya memiliki persediaan rasa yang lebih hebat untuk diberikan kepadaku untuk mencintaimu.