Aku masih ingat waku pertama kali kita bertemu, Aku mengenalmu melalui hal konyol. Pertemuan kita adalah Pertemuan unik dan aku merasa cukup akan hal itu. Jujur waktu itu aku belum menyukaimu, Maafkan aku yang kurang peka ini. Aku takut jika yang kamu maksud bukan aku. Terimakasih sudah mengingatkan aku akan sikapku ini

Selang berapa hari kau memberiku rasa nyaman. Didekatmu aku merasa aman, Seolah-olah aku berada didekat ayahku, Kamu mengajarkan aku apa arti kenyamanan sesungguhnya, Kamu berhasil membuat aku nyaman seperti ini
Kita berhubungan baik selama ini, kita tidak memiliki status tapi memiliki rasa. Kita hanya bergantung pada "rasa percaya",Saat kita merasa rindu, kita hanya bisa berkutik lewat via "video call", Kamu sering mengirimkan gambar kegiatanmu diluar sana. Kamu mengirim "voice not" sebelum aku berangkat ke sekolah. Aku suka akan hal itu.

Dan pada suatu ketika kita sepakat untuk bertemu, Ternyata kamu semakin dewasa, aku suka pada kamu. Kamu masih memiliki rasa itu juga kan? Aku semakin kagum terhadapmu.Mulai dari sekarang aku akan care terhadapmu.

Tapi…. Takdir berkatalain mungkin kita hanya ditakdirkan untuk saling mengenal bukan untuk saling bersama. Kenapa pada saat aku care tiba tiba kamu pergi? Masih ingat kita dulu kan? Apa kabar?. Aku sungguh menyesal mengapa dari dulu aku tidak merasa peka,cuek terhadapmu. Sekarang aku hanya mengenalmu lewat time line suatu sosial media. Disitulah aku menghabiskan rasa rinduku padamu, Mau mengawali percakapan tapi gengsi, takut kamu "read" pesan aku. Aku rindu kamu, kamu keasikan lari sih jadi lupa kalau aku ngejar kamu udah capek gini

Maafkan aku hanya bisa berdo'a untukmu Semoga hidupmu bahagia 🙂

Advertisement

Sejauh apapun jaraknya doa pasti akan sampai

Terimakasih telah mengukir banyak kenangan bersamaku, Biarkan kenangan ini berbicara dengan sendirinya ketika aku melepas rindu.

Terimakasih secuil donatku 🙂