"Abi, aku berangkat sekolah dulu ya" begitu kata anakku setiap pagi sambil mencium tangan. Aku menjawabnya sederhana, "Iya Nak, selamat belajar ya". Kata-kata itu yang berkumandang setiap pagi hari di rumah. Tak ada yang istimewa. Tapi justru makin kemari, kata-kata itu yang selalu kutunggu setiap pagi dari anak-anakku. Aku selalu rindu dengan jawaban, selamat belajar ya Nak.

Aku menyebutnya, sopan santun.

Kesantunan anak pada orang tua, bisa jadi juga kesantunan orang tua pada anak. Aku memang tak pernah bisa menemani mengerjakan PR setiap malam. Aku juga tak terlalu sering menanyakan keadaan belajar mereka. Seperti orang tua kebanyakan mungkin, sibuk bekerja dan punya aktivitas masing-masing walau serumah.

Sopan santun itu memang mahal.

Tak banyak lagi sopan santun di dekat kita. Di keluarga, di pergaulan, di jalan, di tempat kerja. Sopan santun makin langka di negeri yang katanya "berbudaya luhur" ini. Sopan santun, sungguh lebih dari sekadar uang.

Apa yang terjadi di MKD DPR, di televisi, atau di negeri ini pertanda hilangnya sopan santun. Entah si sopan santun pergi kemana, atau ia bersembunyi. Bisa jadi, sopan santun sudah kalah oleh kekuasaan, kalah oleh materi dan uang, kalah oleh gaya hidup manusia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah pergi si sopan santun. Entah kemana?

Advertisement

Kadang aku rindu sopan santun itu. Sopan santun di dalam rumah, di jalanan, di pergaulan. Hingga di tempat-tempat sehari-hari kita berada. Sopan santun, aku merindukanmu hari ini… juga esok. Sopan santun itu mahal. Berapa banyak orang yang dulu tidak berpangkat sekarang berpangkat. Berapa banyak orang yang dulu tidak sekolah tapi sekarang sangat berpendidikan. Berapa banyak orang yang dulu miskin sekarang kaya. Mereka berjuang untuk itu, bekerja keras untuk meraih pangkat, pendidikan, hingga uang. Tapi sayang mereka, kini tak lagi memelihara sopan santun. Saat semua mimpi bisa mereka raih, saat itu pula sopan santun mereka lenyap. Arogan, sombong, dan takabur telah melenyapkan sopan santun yang dulu melekat di hati dan perilaku mereka. Sopan santun telah lenyap…

Sopan santun emang mahal.

Pangkat, pendidikan dan uang gak menjamin timbuhnya sopan santun. Kecerdasan pun tak lagi mampu membuat orangnya tetap punya sopan santun. Sopan santun, atau budi pekerti memang dipelajari di sekolah. Tapi menjadi hal yang langka untuk diterapkan. Sopan santun makin mahal dijalani. Kini yang tertinggal hanya diskusi dan wacana kapan sopan santun akan kembali lagi..? Entah kapan…

Entah sampai kapan, sopan santun masih menjadi barang mahal. Bahkan langka di hari-hari ke depan. Dulu, sopan santun katanya mampu menenangkan setiap mata yang melihatnya dan membahagiakan setiap telinga yang mendengar sifat-sifatnya. Tapi hari ini, sopan santun malah susah dicari.

Sopan santun, sungguh makin mahal tatkala di dekat kita tak banyak lagi 7 hal ini:

1. Menghormati orang tua dan orang yang lebih tua dari kita.

2. Meminta maaf ketika berbuat salah baik sengaja atau tidak sengaja.

3. Mengucapkan kata "tolong" saat butuh bantuan atau kata "terima kasih" setelah dibantu.

4. Menghormati teman, rekan kerja, dan orang lain di dekat kita karena mereka sama derajatnya dengan kita.

5. Memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri, tanpa tendensi dan motif apapun.

6. Mau memberi pujian dengan tulus bersamaan dengan menyedikitkan cerita aib orang lain.

7. Membantu orang-orang yang lebih rendah atau lemah dari kita.

Sungguh, sopan santun gak ada hubungannya dengan kemewahan. Sopan santun bukan milik orang kaya atau berharta. Sopan santun cuma sikap moral yang diikuti perilaku. Mau atau tidak, kita berperilaku sopan santun.

Sopan santun lagi-lagi gak ada hubungannya dengan gengsi. Tapi sopan santun identik dengan kualitas dan kapasitas tata krama dan kesantunan seseorang. Sopan santun hanya butuh kerendah-hatian dan ketulusan untuk melakukannya.

Sopan santun, hanya tentang nilai-nilai yang dulu pernah ada di dekat kita:

– Berucap salam dan pamit saat pergi dan pulang di rumah.

– Permisi saat melewati orang lain atau masuk ke rumah orang lain.

– Kembalikan apa saja yang kita sudah pinjam dari orang lain, karena bukan punya kita walau orang lain itu lupa sekalipun.

– Berani meminta maaf saat berbuat salah, berterima kasih saat dibantu sekecil apapun.

– Menyampaikan sesuatu yang benar walau pahit sekalipun dengan bahasa yang santun.

Lagi-lagi, sopan santun memang sederhana. Tapi butuh komitmen dan ketulusan untuk melakukannya. Sopan santun sangat langka bagi mereka yang tak punya sikap kebaikan. Kita boleh kaya, boleh berpendidikan, boleh berpangkat, boleh punya jabatan. Tapi semua itu tak menjamin kesantunan, tata krama yang ada pada diri kita.

Kata orang bijak, "betapa banyak orang telah meraih banyak hal besar dalam hidupnya tapi menjadi tak bernilai karena ia tak memiliki sopan santun dalam hidupnya".

Sopan santun, sungguh semakin mahal. Karena sebagian kita menganggap sopan santun seperti lemah tak berdaya. Kita lupa justru sopan santun menjadikan lebih kuat untuk diperdaya oleh keburukan.

Sopan santun, kita sedang merindukannya. Karena banyak hal baik yang bisa tumbuh dari kesantunan. Sopan santun, sungguh lebih mahal daripada sekedar uang atau harta yang kita miliki. Ketika kita sopan dalam hidup, maka kehidupan akan lebih sopan melayani kita. #BelajarDariOrangGoblok