Kuliah tanpa membebani orang tua sepertinya menjadi sebuah prestasi tersendiri. Apalagi mendapatkan beasiswa full dari kampus atau pemerintah yang bisa membiayai kita dari awal masuk hingga kelar kuliah. Sayangnya, saya bukanlah masuk dalam kategori itu. Tapi, setidaknya beasiswa yang saya dapatkan setahun sekali yang nominalnya tidak seberapa itu cukup menghidupi separuh hidup saya di kampus, separuh hidup lagi orang tua yang menyelamatkan (dan tentu saja atas rahmat Allah SWT, Tuhan semesta alam).

Saya pikir, biaya kuliah itu murah. Yang bikin rugi bandar itu adalah kebutuhan hidup sehari-hari. Bayar kosan (bagi yang ngekos), ongkos angkot (bagi yang PP), beli buku kuliah, main sama temen, dan sebagainya. Jadi, menurut saya tak usah takut untuk kuliah. Justru, kuliah bisa mendapatkan penghasilan (kalau otak kita mikir). Tapi, sayangnya saya bukanlah kaum orang-orang berpikir (waktu itu). Haha…

Memasuki semester tua, kebutuhan semakin mendesak. Rasanya tidak enak juga selalu meminta terus sama orang tua. Saya berpikir, kemampuan apa yang bisa saya andalkan untuk mendapatkan uang dari hasil jerih payah sendiri. Ya, meski tidak seberapa nominal yang didapatkan. Setidaknya, saya bisa mencium duit sendiri. Maka, nulislah! Alhamdulillah, beberapa tulisan bisa dimuat. Tapi, lama-lama mengandalkan kemampuan seperti ini tak menentu. Penulis amatir seperti saya ini barangkali dalam kurun waktu tertentu saja tulisannya bisa dimuat. Barangkali setiap musim salju atau musim kawin. Nah, saya coba cari lagi dengan cara lain, dengan berjualan buku. Saya jual di kampus. Alhamdulillah, rezeki memang tidak ke mana. Seminggu saya dapat tujuh ratus ribu. Barangkali karena ada salah satu dosen yang mewajibkan mahasiswanya membeli salah satu jenis buku yang saya jual itu. Laris manis, men!

Malangnya, hidup saya besar pasak daripada tiang. Utang saya lebih banyak dibanding hasil yang saya dapatkan. Apalagi setelah dosen itu tak lagi mewajibkan mahasiswanya membeli buku saya. Saya pun selesai berjualan buku. Penghasilan ini pun tak menentu. Saya mulai berpikir lagi, bagaimana caranya mendapatkan uang yang sudah pasti tiap bulan. Dengan cara apa saya mendapatkannya? Mikir, mikir, mikir….

Semester lima, daftarlah saya ke tempat-tempat bimbingan belajar. Selang beberapa minggu, saya mendapat panggilan dari salah satu tempat bimbel itu. Tes tulis pun usai. Setelah itu datanglah cobaan, ponsel saya hilang. Selama seminggu, saya tak tahu ada kabar apa tentang bimbel itu. Saya konfirmasi kembali dua minggu kemudian lewat ponsel teman, malangnya saya menerima omelan dari pihak bimbel tersebut karena saya tidak mengabari kalau ponsel saya hilang, ternyata selama seminggu itu saya dipanggil untuk tes kedua. Para pendaftar yang lain sudah selesai untuk tes kedua ini. Saya pun tes sendirian. Dengan rambut compang-camping, celana bahan pensil, dan sepatu alakadarnya. Saya tes microteaching (mengajar di kelas). Tak keruan saya mengajar apa. Menunggu kabar seminggu, sebulan, dua bulan, tak ada jawaban apa-apa. Sepertinya usahaku belum membuahkan hasil. Mikir lagi… mikir lagi…

Advertisement

Semester tujuh, saya melamar menjadi editor di salah satu media cetak di Banten. Saya melamar bersama kawan saya, Bahri. Dengan segala kemampuan, saya mengobrak-abrik berita-berita yang diberikan oleh penguji. Sayangnya, penguji masih ragu dengan kemampuan kami. Beberapa kali diberikan berita yang jenisnya berbeda untuk kami edit. Selama tiga hari saya tes, akhirnya dapatlah sebuah kesimpulan berupa saran (tapi kalau saya bilang, ini ‘cacian’ buat saya pribadi).

“Satu persolan yang saya cukup meragukan saya, pengetahuan umum kalian!”

“Memang kenapa, Pak?” ujar salah satu dari kami.

“Menjadi editor bahasa bukan berarti hanya fokus pada tanda baca saja, melainkan pengetahuan umum juga. Masak iya Harta Rajasa kalian anggap mantan menteri perekonomian, kan sekarang beliau masih menjabat. Dari keempat peserta ini belum cukup memuaskan saya!”

Kerjaan apa lagi yang harus saya cari. Mikir lagi… mikir lagi…

Selang beberapa hari setelah ini, saya mendaftarkan diri lagi ke tempat bimbel yang menolak saya dulu. Masak iya, saya harus gagal lagi. Akhirnya, saya dipanggil untuk tes. Introspeksi dari pengalaman tahun kemarin, saya pun melakukan perubahan. Rambut panjang selama tiga tahun kuliah itu pun harus menjadi korban kekejian tukang salon. Orang-orang pangling melihat perubahan rambut saya. Karena baru kali ini selama kuliah saya berambut pendek. Sudah setelan guru pokoknyalah. Celana levis dan kaos oblong saya tinggalkan sementara. Melewati proses tes selama sebulan akhirnya membuahkan hasil. Akhir November 2011, saya resmi menjadi pengajar. Luar biasa senangnya, puji syukur kehadirat Allah.

Semenjak itu, pakaian begajulan waktu kuliah sudah tidak saya kenakan lagi. Setiap hari berbaju rapi, bercelana bahan, dan bersepatu pentopel. Saya merasa tidak nyaman sebenarnya berpakaian seperti ini. Celotehan temen-temen kadang membuat saya minder.

“Wih, gak seru amat rambut loe dipotong. Nggak keliatan anak band-nya!”

“Udah kayak bapak-bapak stelan loe, men… haha.”

Barangkali ejekan ini seperti ombak yang menghantam karang. Saya harus membiasakan diri berpenampilan seperti ini di hadapan kawan-kawan saya. Harus profesional. Haha… selang beberapa bulan ejekan itu sudah surut. Saya sudah terbiasa bepenampilan seperti ini.

Kuliah jalan, kerja pun jalan. Puji Syukur. Meskipun kadang masih repot membagi waktu, saya tetap berusaha mencari jalan keluar yang terbaik. Saya merasa percaya diri bisa mencari pekerjaan dengan jerih payah sendiri. Lambat –laun saya terlena dengan kerjaan ini. Wah, jalan pikiran yang mesti diluruskan. Sedikit-demi sedikit saya luruskan kembali.

Yang bikin kendala ketika mengajar adalah kendaraan (waktu itu saya belum punya kendaraan). Mengajar wilayah Serang masih aman. Lain halnya mengajar wilayah Cilegon dan Pandeglang. Waktu itu juga saya masih PPLK di sekolah. Jadi, terkadang kondisi fisik tidak memungkinkan untuk dipaksa mengajar. Tapi, susah. Ini adalah kepercayaan dan konsekuensi. Harus dilakukan. Beberapa kali akhirnya saya sering telat masuk. Ini menjadi catatan. Berhari-hari saya tidak menyadari hal ini. Akhirnya jadwal mengajar saya di kurangi oleh pihak bimbel. Kadang satu minggu hanya mendapatkan satu jam pelajaran, sedangkan yang lain bisa sepuluh jam pelajaran. Rasanya ini tidak adil dan bisa mengganggu pikiran di akhir bulan. Kondisi dompet sudah tidak memungkinkan. Akhirnya, saya disuruh menghubungi direktur bimbel atas saran kawan saya.

Keesokan hari, saya sudah di ruangan. Berdua dengan direktur. Sepertinya akan dieksekusi, pikir saya. Jantung saya berdetak lebih kencang. Pembicaraan pun dimulai.

“Selamat pagi!”

“Pagi,” jawab saya.

“Saya sungguh kecewa dengan Anda. Saya kira Anda seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Mampu membangun tempat ini menjadi seru dan menarik. Tapi, nyatanya saya salah. Saya sungguh kecewa dengan kinerja Anda. Jangan pikir kami tidak punya catatan tentang Anda di sini. Ada. Anda sering telat, kadang berpakaian kurang rapi. Kita di sini organisasi, punya aturan. Jadi ikuti saja aturan yang ada di sini atau Anda akan dikecam oleh aturan itu sendiri…”

Panjang lebar direktur berbicara. Saya tak berkesempatan untuk berbicara. Saya merasa bersalah atas apa yang sudah saya lakukan. Memang benar, saya tidak punya alasan kuat untuk membenarkan diri. Sempat beberapa hari sebelum ini, saya berpikir mau berhenti dari kerjaan ini. Dan waktu itu saya sudah mendaftar ke tempat bimbel lain (mungkin otak saya sudah stadium akhir). Namun, setelah mendengarkan apa yang disampaikan direktur, saya berubah pikiran. Saya rasa bodoh sekali bila saya keluar dari tempat ini. Kesalahan bukan dihindari, melainkan diperbaiki.

“Pak, boleh saya izin bicara?”

“Silakan.”

“Saya minta maaf, insyaallah saya akan memperbaiki kesalahan yang sudah saya perbuat.”

“Itu yang saya harapkan.”

Sebulan, dua bulan, setahun, saya jalani kembali. Dan sampai detik ini saya masih nyaman menjalani pekerjaan ini. Bahkan saya pernah dikirim mengajar di Indramayu, Tangerang, dan Bekasi. Ilmu bertambah, kawan bertambah, pengalaman bertambah, dan tentu penghasilan pun bertambah. Puji syukur.

Semua indah bila dijalani dengan hati yang ikhlas.