Saat angin kencang berhembus ditengah rinai hujan, aku seperti melihat hantaman ombak yang begitu kencang. Tak kuasa aku menahan. Entah apa yang membuat hati ini tiba-tiba tersentuh, seakan aku melihat kuasa Sang Maha Pencipta. Aku dikerubuti dinginnya duniawi, tak ada hangat meski dalam pelukan. Kala itu aku melihat dua insan berjalan dan bergandeng tangan. Aku pikir itu bukan hal yang wajar, seperti tak pernah belajar bagaimana haramnya bertarung nafsu secuil apapun itu.

Aku melihat mereka tertawa riang di bawah pohon rindang, yang kini menjadi tempat teduh dalam rinai hujan. Sesekali aku melirik, ingin tahu apa yang sedang dan akan melakukan apa mereka. Hati terasa bergetar, ingin rasanya berseru bahwa ada hal yang lebih bermanfaat dilakukan. Tapi apa daya, mereka tak akan menanggapiku.

Tak sadar, sudah lebih dari 5 menit aku membiarkan Aldo, temanku yang sejak tadi menemaniku berteduh di sini. Sebuah gazebo kecil, hanya cukup untuk diduduki 4 orang dan tepat berada seberang pohon rindang yang dijadikan tempat berteduh dua insan. Ya, dua insan yang sudah mengalihkanku, hingga Aldo hanya diam terpaku seperti memandangiku. Apa mungkin dia memang memandangiku sejak tadi? Rasanya aku malu.

Tak henti-hentinya hujan menmbasahi bumi, gamis biru tuaku sudah mulai basah akibat air yang menggenang di permukaan gazebo ini. Aku serasa semakin dingin, tapi tak menggigil, hanya saja aku butuh selimutku untuk menghangatkanku. Tatkala aku memandangi langit, tiba-tiba Aldo melihat wajahku dengan pandangan yang aneh dan tak wajar. Entah, aku yang salah tanggap atau memang begitu adanya. Yang pasti aku merasa bahwa dia memperhatikanku.

Hujan deras ini benar-benar menjebak aku bersama Aldo. Aku menyesal kenapa sepulang tadi tidak langsung pergi bersama Hana saja ke Toko Buki, tapi aku malah memilih untuk jalan kaki menuju toko kelontong terdekat untuk membeli titipan ibu. Karena memang, toko kelontong itu searah dengan rumah Aldo.

Advertisement

Saat aku mulai mengalihkan pandanganku dari langit pada telepon genggamku, tiba-tiba Aldo memdekatiku dan dia berkata tanpa membuka pembicaraan (basa-basi). "Aku mencintaimu, ijinkan aku menjadi pacarmu. Aku sudah tak kuasa menahan rasa ini. Kau selalu menghantuiku setiap malam. Berikan senyuman terindah atas jawaban bahwa kau bersedia menjadi pacarku".

Darahku seperti mengalir dengan deras, lebih deras dari hujan yang menyelimutiku dengan kedinginan. Aku tak kuasa melihat pandangannya yang begitu tajam, aku menundukkan kepalaku. Tiba-tiba aku ingin menangis, sekencang-kencangnya. Ya Tuhan ini benar-benar menjebakku. Aku seperti tak dihargai, apa dia tak mengerti atas hijab syar'i yang memagariku ini? Beri tahu aku jika ada aurat yang aku perlihatkan saat ini ya Tuhan, karena perkataan dia sama seperti mengajakku berzina, maafkan aku jika memang aku yang salah.

Entah apa yang harus aku katakan, tapi aku tetap berusaha melawan apa yang dia ucapkan, "Dengarkan aku, aku tak perlu menjawab. Karena kau pasti tau apa yang akan aku katakan. Aku tidak akan memberikan senyuman terindahku jika itu artinya mengiyakan apa maumu. Aku tak akan menjebak diriku, jangan kau jadikan suasana ini menjadi kesempatan untukmu. Hargai aku, aku sedang memeluk erat agamaku. Jangan usik aku, Aldo. Katakan pada-Nya saja jika kau tulus padaku. Karena untuk sekarang, pandanganku kabut pada cinta".